
Kami masih di rumah mertua Candra untuk menjemput istrinya pulang, setelah tulang dari Bandung memberinya satu peringatan, dan ia tahu orang-orang yang datang ke rumahnya pejabat dan pengacara bapak mertua Candra sikapnya langsung berubah, tidak ada tatapan sinis yang di tujukan pada kami lagi.
Di sini aku bisa melihat, orang yang punya jabatan tinggi dan punya harta selalu mendapat perlakuan khusus, bukan hanya di keluarga kami saat ini, mungkin di luar sana pasti seperti itu juga.
Makanya ibu-ibu orang Batak, atau mami sering mengucapkan kata seperti ini;
'Sikkola ho timbo, asa unang leas roha ni jolma mida ho'
(Sekolah kamu tinggi biar ga sepele orang melihat kamu) Itu nasihat mami yang sering aku dengar dulu jaman kuliah, semakin aku dewasa, semakin aku tahu makna dari semua nasihat orang tua.
Benar kata Candra, hukum adat tidak akan berguna dengan mertuanya, tetapi yang ia lihat jabatan dan kekuasan, rencananya kemarin hanya tulang Gres, papi dan pemuka adat yang akan datang menjemput Tivani.
Candra tidak setuju, ia mengatakan kalau bapak mertuanya melihat orang dari titel dan jabatan, jadi kami meminta tulang Roy yang dari Bandung dan adik tulang seorang pengacara kebetulan ada kerjaan di Jakarta dan Bapa uda Candra seorang polisi, yang pangkatnya lumayan lah juga ikut teman kami ke rumah Tivani.
Rencana Candra berhasil, nyali mertuanya langsung ciut saat tulang bertanya tentang perusahaan miliknya.
“Bah … adong rencana naing naik pangkat muse Lae, lahan empuk leak na on”
(Bagaimana lae, ada rencana mu mau naik pangkat? Lahan empuk ini kayaknya mertua di Candra ini) ujar tulang pengacara pada uda Candra yang polisi.
“Orang sombong seperti ini perlu juga dikasih pelajaran lae, tapi nanti, kita selesaikan dulu urusan anak kita ini, kita pastikan mau dibawa kemana rumah tangga mereka, kalau model begini mertuaku aku tinggalkan ini,” ujar bapa uda polisi tersebut.
“Janganlah sekarang bapa uda, nantilah setelah aku bawa si Vani ke rumah, mau kalian apakan pun orang sombong itu gak perduli aku,” ujar Candra, kami semua semakin curiga ada apa sebenarnya dengan tante dan besannya sebelumnya.
Candra seolah-olah ingin mengatakan sesuatu secara tidak langsung, tetapi kami tidak mengetahuinya.
“Baiklah, kalau kamu memberi izin sama uda”
“Aku tidak perduli sama dia bapa udan bila perlu seret dia ke penjara,” ujar Candra terlihat sangat geram.
Tidak berapa lama mereka bertiga turun, wajah Tivani terlihat cemberut, matanya habis menangis sepertinya dipaksa turun untuk menemui kami.
“Dengar ya! Aku tidak mau pulang ke rumah kamu lagian lu duluan yang meninggalkan rumah,” ujarnya pada Candra.
Nantulang kami yamg dari Bandung menggeleng.
“Anak yang tidak didik dengan baik, percuma, cantik, kaya, sekolah tinggi. Kalau tidak punya adab dan sopan santun akan sia-sia”
“Kalian semua menyalahkan aku? Dia sebagai lelaki terlalu lembek, seharusnya dia menolak pernikahan itu kenapa diam saja?”
“Nungga … sipma hita, jolo taboanma ibana tu jabu asa sae akka masala”
(Sudah … kita diam saja, tunggu kita bawa ke rum biar selesai ke rumah) ujar tulang.
Kami semua menahan emosi dan menahan sabar yang penting Tivani mau pulang ke rumah sebagai istri Candra, karena itu tujuan kami datang, urusan tentang bapaknya dan perusahaan nanti belakangan.
Tivani tidak jauh dari bapaknya, wanita berkulit putih itu sikapnya sangat sombong, bahkan tidak ada hormatnya bicara pada semua tulang kami yang datang.
Ia juga selalu merendahkan Candra menyebutnya lelaki lemah.
“Aku tidak mau pulang, biar dia yang tinggal di sini,” ujarnya lagi.
“Begini Nak Tivani … dalam adat Batak itu, kamu sudah sah jadi milik keluarga kami, nanti kalau kalian ingin manjae adat adatnya juga, ibu mertuamu akan menghadiahkan kalian peralatan rumah tangga”
(Manjae> Pisah rumah sendiri)
“Aku bisa beli sendiri Kok,” balasnya dengan sombong.
“Bukan masalah mampu beli, tetapi memang begitulah adatnya, kamu bukan milik keluargamu lagi, tetapi sudah milik keluarga Manurung marga dari Suami”
“Kalau aku tidak mau bagaimana?”
“Maka kamu dan keluargamu akan didenda sesuai hukum adat”
“Itu artinya kalian mempermalukan keluarga kami Manurung, kami akan membawa masalah ini rana hukum, kamu dan kelurga kamu akan diadili, ekpos di media. Paling beratnya aku akan memasukkan keluargamu ke penjara.
Selaku udanya saya merasa sedih dengan keadaan anak saya Candra, tetapi sebagai penegak hukum saya akan memberi anda pelajaran, kalau pernikahan bukanlah sekedar mainan apalagi pernikahan Batak”
Setelah di tekan dan diancam, Tivani akhirnya diam dan keluarganya membujuknya untuk pulang bersama kami, ia tetap kekeh ingin tinggal di rumah keluarganya.
Walau keluarga sudah mengatakan mereka juga bisa tinggal di rumah Tivani, tetapi setelah pamit baik-baik dengan keluarga, biar keluarga tahu kalau hubungan mereka baik-baik saja. Tetapi bagaimanapun keluarga kami membujuknya ia menolak. Sikap manjanya bikin emos jiwa.
Ia kembali berlari ke kamarnya.
“Sebentar ya Pak, kami bujuk Vani dulu,” ujar ibu mertua Candra mereka kembali membujuk wanita manja itu.
Saat mereke tidak ada bapa uda Candra yang polisi mendekat, ia duduk di samping kami dan Candra.
“Dengar kalau kamu ingin menjinakkan wanita seperti itu, kamu harus memintanya menunaikan kewajibannya sebagai istri, dengan begitu mulutnya tidak lancang lagi mengatai kamu lelaki lemah,” ujar uda Polisi tersebut pada Candra.
“Ya, uda”
“Jangan iya, iya saja! Giliran malam pertama kamu kabur.” Ia memarahi Candra.
“Tidak lagi uda”
“Entah apa kesepakatan kakak dengan bapaknya istrimu, sampai mengorbankan mu. Tetapi lihat abang dia jadi sakit, aku tidak ingin keluarga ini merendahkan keluarga kita”
“Baik Uda”
“Dengar … jika hari ini kita bisa membawanya, kamu harus menuntaskan malam ini, biar uda yang mencari hotel untuk kalian, serahkan padaku, aku akan mengurus istri sombong mu itu”
“Baik Uda.” Candra mengangguk patuh.
Bapa udanya memaksa untuk menyelesaikan malam pertama mereka, ia marah karena Tivani dan keluarga mengangap keluarga kami sepele, bapa uda itu juga semakin marah saat ia tahu abangnya terkena serangan jantung karena rumah tangga anaknya berantakan. Ia sangat marah saat Candra pergi dari rumah.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
akak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU