Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menolak Memaafkan


Sejak tante masuk penjara semua kelakuannya akhirnya terbongkar dan sangat memalukan,  benar dugaan kami, tante punya banyak hutang di mana-mana, ia bergaya dengan barang- barang mewah dan liburan mewah dengan uang hasil pinjaman.


Bukan hanya ke tante Ros, ternyata ke koperasi dan ke mantan rekan kerja juga.


Selepas kedatangan para penipu itu ke Bali, untuk mencegah hal yang sama, atas saran keluarga, aku meminta pengacara untuk datang ke kantor polisi untuk mendatangi tante, bertanya tentang berapa hutang piutang tante.


Dengan begitu kita tahu kalau ada yang  mengaku punya hutang padanya.


“Bagaimana sih merepotkan saja, punya hutang gak bilang-bilang.” Mami ikut mengoceh.


“Biar kami yang melunasinya hutang mama,” ujar Tivani, kami semua tertegun.


“Kamu yakin sayang?” tanya Candra ikut kaget.


“Ya, kita bisa cicil tiap bulan kalau berat untuk melunasi semuanya,” ujar Tivani.


“Kami juga akan bayar sebagian, ini akan tanggung jawab kita bersama.” Edo tidak mau membebankan tanggung jawab itu semuanya pada Candra, karena ia juga anak yang sudah bekerja, kecuali Riko dan Lasria.


‘ Ini terbalik dari hidupku’ kalau aku. Aku yang berfoya-foya mami yang  kerepotan membayar hutangku, kalau di sini beda, orang tua yang berfoya-foya anak dibebani bayar hutang.


Apa lagi yang datang bukan satu dua orang, bahkan sampai beberapa orang. Karena itulah anak-anaknya belum bisa memaafkan tante.


Melihat semua anak-anaknya bekerja sama dan saling bertanggung jawab, bapa uda ikut bahagia. Tetapi sayang mereka belum mau menjenguk tante, walau bapa sudah menasihati mereka , tetapi anak-anak tante belum siap untuk melihat mama mereka di hotel prodeo. Mami , papi, kakak Eva sudah mengunjungi tante di sana saat di Jakarta.


Hari itu saat bapa uda mengajak anak-anaknya untuk menjenguk mama mereka, semua anak- anak itu menolak terlebih Riko ia yang paling menolak keras.


“Kenapa, dia mama kalian, tidak ada mantan mama,” ujar mami menasihati  mereka, biar bagaimanapun kejahatan tante selama ini aku tahu di lubuk hati mami yang paling dalam ia pasti mengasihi saudara kembarnya . Hanya saja mereka tidak saling mengakui satu sama lain.


“Nanti saja mamak Tua, aku belum siap , kalau mau menjenguk biar bapa aja dulu,” balas Riko.


“Kamu bagaimana Las, ayolah Nang ikut ke Jakarta ke rumah mamak tua,  nanti kita jenguk  mama bersama,” bujuk mami.


Tadinya kami berpikir  ia akan mau karena, anak perempuan satu-satunya, ternyata ia yang paling menolak, apa yang di lakukan sama bapa tua saat itu menorehkan luka yang sangat besar di hati anak gadis berkulit putih tersebut.


“Aku gak maKtua, nanti sajalah, aku hanya ingin bapak sembuh,” ujar Las dengan kepala menunduk dan suara kecil.


“Aduh bagaimana kalian ini, sejahat apapun dia tetapnya  dia mama kalian, jangan begitulah …  kasihan, mama sudah mendapat hukumannya kok, kalian harus menjenguk . Ayo.” Mami sedikit memaksa.


“Mi … jangan memaksa, mereka hanya butuh waktu, aku yakin kok mereka tidak akan membenci  mama mereka,  tetapi  butuh waktu untuk ikhlas menerima semua perbuatan tante yang membuat hati anak-anaknya terluka dan meninggalkan banyak trauma,” ujar Kak Eva , aku setuju dengan pemikiran kakak Eva.


Karena mereka juga  manusia biasa yang bisa merasakan sakit hati, jika disakiti, sekalipun itu orang tua mereka.


“Mami juga disakiti dari dulu, mami yang lebih parah kalian lihat selama ini,” ujar mami membandingkan dengan dirinya.


“Itu Beda Mi, kalian kan saudara kembar,” ujar ku keceplosan.


“Haaa …!?”Ucap Anak-anak tante, mereka semua kaget.


“Siapa saudara kembar Bang?” Riko menatapku dengan penasaran.


Ternyata anak-anak tante benar-benar tidak tahu kalau kedua orang tua kami saudara kembar.


Aku menatap Netta dengan panik, Netta  pernah memperingatkan kalau mereka berdua benci di sebut saudara kembar. Aku sudah berpikir kalau mami mengamuk.


Ternyata wajah mami tenang , rupanya ia sudah mulai menerima kenyataan.


“Sudahlah, kita sudah tua, sudah waktunya anak-anak tahu kebenarannya,” ujar papi.


“Ya,” ujar mami dengan tenang.


“Kok … bisa, maksudku wajah kalian tidak mirip, mamak tua wajahnya  tirus,” ujar Lasria kaget,


“Kak EVa juga sudah tahu?”


“Ya,  aku juga dengarnya dari ito Jonathan”


“Aku tahunya dari Netta, saat oppung kita meninggal”


“Kak Netta tahu dari  mana?”


“Dari oppung dan dari bapak, foto bou masih mudah juga ada di rumah, wajah mereka persis mirip bangat, hanya penampilan yang berbeda”


“Kok kami selama ini tidak tahu, apa bapak tahu?” Tanya Edo kaget.


“Tau, hanya mamamu tidak mau orang mengetahuinya,” balas bapa uda.


Wah bapak ini orang yang teguh pegang janji juga ya, bisa sampai puluhan tahun menyimpan rahasia besar begitu,” ujar Edo.


“Itu abang mu yang paling bocor, saat di kampung aku sudah bilang jangan kasih tahu siapa-siapa, baru beberapa jam dia penasaran di telepon eda ke Jakarta,” ujar Netta.


“Saat, ito kasih tahu itu aku sampai keselak saking terkejut, aku bongkar  barang-barang lama mami , tetapi tidak menemukan apa-apa,” ujar kakak Eva.


“Lalu Ito mama Arkan penasaran juga di kasih tahu sama Arnita”


Gara-gara keceplosan ngomong , jadinya membahas tentang   mami yang kembar sama tante, lupa jadinya ajakan untuk menjenguk tante.


“Kenapa sih mamak Tua gak mau dibilang saudara kembar?” Candra penasaran.


“Mama kalian awalnya yang mulai, saat kami sekolah dasar, kami masih baik-baik saja, layaknya anak-anak, tetap saat Sekolah  Menengah Pertama, dia mulai memintaku menjauhinya,  bahkan ia pernah memotong rambutnya sangat pendek agar tidak dikatai orang kembar, di rumah dia selalu meminta oppung memindahkanbku sekolah yang jauh agar tidak ada tahu kalau kami kembar. Terus terang wajah kami memang sangat mirip, karena itulah dia selalu membenciku”


“Lalu siapa yang duluan merantau Mi?” Tanya Kak Eva penasaran, karena baru kali ini mami mau   menceritakan kisah mereka berdua kalau biasanya mami itu selalu marah kalau ditanya.


“Dari pada ada masalah aku merantau duluan ke Jakarta memulai bisnis di sini, sementara tante kalian kuliah.


Jadi bagaimana, kalian  mau jenguk tidak biar kita pergi”


“Maaf sekali lagi Mamak tua, aku belum  bisa”


Bersambung


Bantu like dan komen di setiap bab ya kakak,biar semakin semangat menulisnya,semoga kakak terhibur dengan karya saya,baca juga karya saya yang lain ya kakak.


Terima kasih kakak


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)