
“Tidak usah..!” Chandra meninggalkan kami berdua,
ia masuk dengan bibir pecah , dan pelipis bengkak, aku tahu tante akan murka bila melihat itu nanti.
Netta kamu ngapain sih, kenapa susah sekali bertemu denganmu, aku hanya ingin melihatmu, aku merindukanmu. Ucapku dalam hati, kini perasaan campur aduk dalam hatiku, perasaan cemas, takut kehilangan.
Tidak melihat hanya hitungan minggu, bagai satu tahun bagiku.
Belum juga aku sempat diwawancara sama Tiar, mobil Tanteku sudah tiba, aku berdiri sangat senang, aku tidak bisa meluapkan kegembiraan ku karena tidak sabar lagi menemui Netta.
Tapi…
Tante keluar dari mobilnya, bapa uda keluar juga, aku menahan napas karena Netta tidak kunjung turun, wajahku yang bergembira tadi tiba-tiba merubah kesal saat Bapa uda menutup pintu mobil dan menekan tombol kunci.
Kemana Netta,
kenapa tidak keluar, katanya ikut Tante, ke arisan, tapi tidak keluar, tidak mungkin lari ke rumah duluan’kan?
Aku melirik pintu masuk tapi rasanya tidak mungkin karena aku duduk dekat pintu masuk, setan saja bila lewat aku tahu, apa lagi Netta kalau lewat pasti aku tahu.
“Ada apa, kenapa tadi Lam?”
tanya tante sama Tiar yang duduk di sebelahku.
Aku terduduk lemas karena lagi-lagi tidak menemukan Netta, bodoh amat dengan kemarahan tante, bodoh amat dengan ocehannya, aku hanya ingin Netta, sekarang kemana lagi Netta mereka sembunyikan, gumamku kesal.
“Tidak, hanya salah paham, abang Nathan sama abang Candra.”
Kata Tiar menatapku.
“Mana abangmu?”
tanya Tante menatapku sinis.
Tapi bapa udaku orang baik, kalem, sama seperti Papi, sekarang masalahnya.
Ada apa dengan semua dengan br Nainggolan ini?
Mami, Netta, Tanteku, aku tidak tahu dengan jalan pikiran mereka semua.
“Eh Tan, sudah lama menunggu?”
Bapa uda duduk di sebelahku.
“Lumayan bapa udah, Netta kemana bapa Uda?”
“Tidak tahu inang udamu, tadi-“
“Aku menyembunyikannya, kenapa?”
kata Tante, dengan sikap judasnya, wajah dan sifatnya tidak jauh dari Mami.
“Aku tidak mau kalian memukuli Netta lagi, jangan temui dia lagi…!”
Kata Tante dengan suara meninggi.
“Tante salah paham denganku.
Saya baru sampai Tante, saat kejadian saya tidak di Jakarta, saya kerja di Papua.”
Aku membela diri.
“Aku sudah bilang dari dulu, kalau kamu tidak pantas sama Netta, kelakuan kalian seperti binatang, terutama Arnita dan gundikmu itu.”
Tidak ingin menambah dosa karena melawan orang tua, bahasa tante bicara denganku sebenarnya memancing emosi, tapi biar bagaimanapun
Tante adalah orang tuaku juga jadi aku tidak ingin melawannya.
“Netta di rumah siapa bapa uda?”
aku bertanya mulai merasa lemas karena aku dihalang-halangi menemui istriku.
“Tidak perlu aku bilang…!”
Tante membentak ku.
“Kamu tidak pantas untuknya suruh Mamimu memakan hartanya, ia bawa mati hartanya sekalian.”
Tante omongannya merembet kemana-kemana.
“Tan! Netta masih istriku, biarkan aku bicara berdua dengannya, aku tidak ingin membahas yang lain, aku sudah bilang aku tidak ada saat kejadian, aku juga tidak punya masalah lagi dengan wanita itu,”
suaraku meninggi.
“Ia di rumah tulang Gres.”
Bapa uda melihatku mulai terbawa emosi, akhirnya memberitahukannya.
Mami enam bersaudara, tiga laki-laki, tiga perempuan.
Tulang Netta anak yang pertama dan Mami anak kedua, Netta sekarang di oper ke tulang Gres, saudara Mami yang paling bungsu, yang tinggal di Bogor juga, tidak terlalu jauh dari rumah Tante.
Tapi cara Tanteku yang satu ini menghalang-halangi bertemu Netta membuatku merasa kesal.
“Makasih Bapa uda, saya mau ke rumah tulang Gres,”
meninggalkan rumah Tante.
Tante masih saja mengoceh tak karuan, walau aku sudah berjalan meninggalkan rumah tante.
“Harusnya kamu lebih tegas Tan, jangan jadi anak Mami, yang menuruti semua apa kata Mami kamu, kamu takut tidak bisa hidup mewah, kamu takut harta Mamimu tidak diberikan padamu, kamu takut miskin?”
kata tante.
Aku tidak perduli lagi dengan ocehan yang seperti itu, aku sudah terbiasa dengan gurauan seperti itu, terutama dari tanteku yang satu ini.
Maka itu aku menganggapnya angin berlalu masuk –kana keluar kiri.
“HAAAAAA …HAAAAAA!”
Masuk dalam mobil berteriak degan keras, aku tidak tahan lagi, ingin rasanya aku menyelam di Danau Toba, dan tidak ingin muncul lagi ke permukaan.
Kenapa hidup begitu rumit, berhadapan dengan tulangku tadi siang sudah membuat jantung hampir mau copot, sekarang dihadapkan dengan tulangku lagi.
Aku memutar balik mobil lagi, matahari sudah mulai condong ke barat, melukiskan warna-warna jingga, menghiasi cakrawala, menggambarkan suasana sore, perutku terasa semakin lapar, aku hanya mengisi dengan bubur tadi pagi.
Ok , ini pertarungan berikutnya, lebih baik isi perut dulu biar otak bisa dikontrol nantinya, terkadang kalau perut lapar otak tidak bisa berpikir jernih, aku menghindari yang berbau emosi saat bertemu Tulang, karena Tulang orang yang di hormati dalam tradisi Batak.
Dipinggir jalan menuju rumah Tulang ada Restauran Padang, dan disebelahnya ada yang jualan Buah-buahan.
Alangkah baiknya kalau mampir ke rumah Tulang aku membawa oleh-oleh tangan.
Perut sudah disi penuh dan satu keranjang buah untuk buah tangan, beruntung Nantulangku yang di Bogor ini orangnya baik dan sabar, aku yakin kali ini aku tidak akan di persulit menemui Netta.
Lagi-lagi melakukan matra kecilku, menarik nafas dari hidung dan buang dari mulut.
“Ok aku bisa, jadi lelaki harus berani,” berucap sendiri dan menguatkan diri sendiri.
Menghidupkan mesin dengan yakin dan melaju menuju ke rumah Tulang.
Kini sudah malam, aku tidak ragu lagi seperti sebelum-sebelumnya , saat tiba didepan rumah tulang, Ternyata bapa dua anak itu sudah menungguku, kebetulan Tulangku tinggal di salah satu perumahan di Kota Bogor, Tulang membantuku memarkirkan mobilnya.
“Tulang…!”
sapaku, sungkan dengan hormat mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengan tulang.
“Sini, sini masuk Tan.”
Oh perlakuan tulang berbeda hari ini, membawaku masuk ke rumah tidak ada raut marah, tidak ada tatapan bengis.
“Tadi ito, mama Candra sudah memberitahu tulang kamu akan datang.” Kata tulang mengajakku masuk, dengan perasaan sungkan aku mengekor dari belakang.
Mempersilahkan duduk di ruang tamu, mataku celengak -celenguk melihat kanan kiri,lagi-lagi tidak ada Netta.
Jangan bilang kalau Netta di ungsikan lagi, kalau hal itu terjadi, lebih baik aku menyetir ke jurang sungai Bogor saja.
Aku merasa lemas saat melihat Netta tidak ada saat itu.
Menyerahkan oleh-oleh tangan yang aku bawa ke Nantulang, natulangku yang ini baik, maka itu aku sedikit yakin saat datang ke rumah.
“Jangan khawatir Tan, Netta di atas ia lagi temenin adik-adikmu belajar,”
ucap nantulang, aku bernapas lega.
Oh Terimakasih Tuhan berucap dalam hati.
Baru juga diomongin Netta turun dari atas.
“Bang Nathan.”
“Oh Tuhan rambutnya di potong pendek, separah itukah?”
Melihat penampilan Netta, hatiku bagai di remuk, aku ingin sekali merangkulnya meminta maaf padanya.
Maafkan aku Netta, terimakasih Netta karena mau menemui ku, tolong jangan benci aku.
Bersambung....