
Mendengar kata kado spesial dari Netta, aku langsung pulang, saat tiba di sana, teryata keluarga sudah berkumpul di rumah mami. Semua keluarga besar dari Nainggolan ada di rumah, jantungku sudah sempat berdetak tidak karuan saat melihat deretan mobil yang didepan rumah mami, aku berpikir papi tidak tanggung-tanggung untuk merayakan ulang tahunku tahun ini, karena mengundang tulang dari Bandung juga.
“Papi, tidak perlu melakukan perayaan ulang tahun seperti ini, aku pikir ini berlebihan,” gumamku pelan, saat aku ingin parkir, mobilku sampai gak kebagian tempat parkir. Karena tidak punya tempat parkir, terpaksa aku menutup jalan keluar.
Masuk ke rumah mami, rumah mami sampai penuh, saat masuk, aku pikir ada sambutan yang meriah atau ucapan selamat ulang tahun untukku karena ini acaraku, ternyata ....
“Oh, kamu sudah datang Mang, sini duduk,” ujar mami, lalu mereka semua larut dalam pembahasan serius.
‘Aku pikir keluarga berkumpul hanya untuk merayakan ulang tahunku … oh ternyata membahas pesta, oh baguslah’ ucapku dalam hati.
Aku duduk tenang di samping papi, tidak ada yang menyinggung tentang ulang tahunku, aku merasa lega, aku malu kalau keluarga jauh-jauh datang dari Bogor dan Bekasi hanya untuk membahas, ulang tahun. Jadi tujuan keluarga berkumpul untuk membahas pesta, mendengar tulang membahas pesta aku merasa tenang.
“Jadi Bagaimana, Ito apakah pestanya alap Jual apa taruhon jual?”
Alap Jual > Pesta adat batak dipihak perempuan
Taruhon Jual> Pesta adat di pihak laki-laki
“Siapa yang akan menikah Pi?” Bisikku sama papi.
“Anak mama tuamu yang di Bekasi”
Jadi anak mama tua, kakak sepupu mami putrinya akan menikah, tetapi keluarga pihak laki-laki meminta pesta akan di adakan di rumah mama tua di Bekasi, mama tua keberatan karena ia juga tidak punya suami yang akan mengurus semua pesta, maka itu ia merundingkan dengan saudara-saudaranya dan keluarga, seperti yang di ketahui mengurus pesta pernikahan adat Batak itu sangat menguras energi, tenaga , waktu bahkan banyak yang sampa stres memikirkan pesta, karena itulah mamak tua berunding dengan saudara- saudaranya, semua keluarga setuju dan mau membantu mamak tua untuk mengurus pesta.
Aku masih duduk, melihat kanan-kiri, rumah mami memang benar-benar ramai karena sekalian arisan juga.
“Kamu makan dulu Mang, mami masak ikan arsik tadi,” ujar papi.
“Nanti saja. Kak Eva mana? Aku tidak melihat mereka bertiga?”
“Ada di kamar, mungkin bayinya rewel,” ujar papi.
“Aku mau ke kamar Pi”
“Tidak usah di sini saja, kamu harus belajar tentang adat seperti ini, agar jangan bodoh kayak papi,” ucapnya lagi.
‘Ya, tapi aku penasaran dengan kado yang akan diberikan Netta’ Ucapku dalam hati.
Semua orang masih terlihat serius mendengar pembahasan tentang pesta, padahal tadi aku sempat berpikir kalau semua orang datang hanya untuk merayakan ulang tahunku, tetapi saat aku duduk lama tidak ada yang membahas tentang ulang tahun, mami dan tante yang duduk tidak jauh dari tempat duduk bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun, kalau biasa tante selalu hapal ulang tahun kami bertiga dan selalu mengucapkan baik lewat pesan atau menelepon.
‘Mungkin nanti setelah keluarga pulang’ pikirku dalam hati, masih memilih untuk duduk tenang.
Tidak lama kemudian Netta dan kakak Eva datang menyajikan kopi dan cemilan untuk keluarga, karena acara makan sudah selesai hanya menyajikan makan ringan saja untuk sore. Aku masih sibuk mengawasi Netta berharap ia duduk di sampingku. Tetapi nyatanya, ia hanya cuek, bahkan tidak menyapa.
“Aku mau makan saja Pi, aku sudah lapar”
“Ya sudah sana”
Aku cari alasan agar bisa bicara dengan Netta, tapi saat ke dapur hanya Bi Atun yang ada di dapur Netta dan Kak Eva ikut duduk di depan.
“Mau makan Bang? biar aku bikin” Bi Atun bertanya.
“Tidak usah Bi, aku di kerjain kayaknya ni, aku ke dapur mereka ke depan, aku tadi di depan mereka di kamar, aku ingin lihat kira-kira apa kejutannya kali ini,” ucapku tersenyum, aku kembali duduk.
Aku menunggu dengan sabar, melihat sikap cuek semua keluarga kami, aku berpikir kalau mereka bekerja sama ingin mengerjai, aku sudah antispasi kalau mereka semua akan memberiku kejutan.
Namun saat sore menjelang malam, tidak ada yang terjadi padahal sudah acara bebas.
“Kami pulanglah ya Bang,” ujar Tante Ros.
“Besokkan tanggal merah liburnya sekolah, jadi bisa santai tunggulah dulu ,” bujuk mami.
“Ah … kerjaan, di rumah banyak,” ujar tante ia menenteng tas miliknya di ikuti keluarga yang lain.
‘Aduh tidak ada kejutan ternyata …’ Aku tersenyum dan merasa bodoh karena mengharapkan sebuah kejutan ulang seperti anak kecil’ Aku memaki diri sendiri.
“Kami juga pulanglah Pi, kasihan si dedek ini kemalaman”
“Kalian gak nginap?” Tanya mami.
“Gak dulu, lain kali saja”
Semua keluarga pamit ingin pulang aku masih diam seperti orang bingung, tiba-tiba Netta juga turun, menenteng tas.
“Kami juga pulanglah bou sekalian, besok juga aku kerja”
“Nanti dulu belakangan …. Bapak Paima juga belum makan”
“Nanti saja dia makan di rumah kami”
Mendengar Netta menyebut kerja lagi, emosiku naik lagi. Padahal aku dipaksa pulang dari kantor, ternyata tidak ada apa-apa, aku marah.
“Tadi kalian suruh aku pulang ke sini, mau ngapain?”
“Itu adikmu anak mama tua, mau nikah masa kamu gak dengar Mang,” ujar papi.
“Itu hanya pembahasan pesta Pi, kalian tidak membutuhkan anak muda sepertiku”
Saat lagi marah, anak tulang Gres teriak, minta aku memindahkan mobil karena mobil menghalangi pintu keluar, saat aku keluar mau memindahkan mobil ternyata di depanku ada mobil Lae Arkan dan Lae Arkan pergi naik motor beli susu Jeny, jadilah semua heboh dan tidak bisa keluar.
“Lah … bagaimana kita pulang?” tanya tante Ros, menunjuk mobilnya yang terjebak.
“Ya, sudah nanti saja dulu, kita tunggu Bapak Arkan pulang,” ujar papi menenangkan semua keluarga yang berisik karena tidak bisa keluar.
“Na, nanti keluarkan sendiri kalau lae Arkan sudah pulang,” ujarku memberikan kunci ke tangan Juna.
“Loh kok aku lae, kami mau pulang Loh”
“Aku mau makan, aku lapar!”
Berjalan kembali ke dalam rumah, kesal bangat rasanya.
“Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua, kita makan dulu baru kalian pulang, ayo papi temenin.” Papi menarik tanganku ke dapur.
“Gak usalah, gak lapar, nanti saja di rumah”
“Mami kan sudah masak banyak , tidak baik tidak makan dulu sebelum pulang,” bujuk Kak Eva lagi.
“Netta mau pulang Pi, dia buru- buru soalnya dia mau kerja besok,” ucapku marah.
“Kerja, kan besok pagi Bang, makan dululah, nanti kau minta makan malam lagi di rumah, malas aku dibangunkan lagi, karena aku ingin banyak istirahat, besok harus kerja,” ujar Netta.
Mendengar kata kerja lagi, ingin rasanya aku menonjok dinding sampai roboh, dadaku terasa sangat panas.
Papi menarik tanganku membawa untuk makan, ternyata di dapur sudah tante dan mami memegang kue ulang tahun dan diikuti semua keluarga yang lain.
Mereka sukses mengerjai sampai ingin meledak, aku masih diam karen marah , tiba-tiba semua keluarga yang mau pulang tadi balik lagi ke rumah dengan menyanyikan lagu ulang tahun, mereka semua tertawa, puas mengerjaiku. Tetapi aku masih merasa sangat kesal. Ini kejutan ulang tahun yang paling menyebalkan sepanjang hidupku.
“Tiup lilinnya, kalau kamu masih marah nanti gak aku kasih kado spesialnya, mau gak?” bisik Netta.
“Mau”
“Ya, sudah jangan marah lagi, ada tulangmu di sini, abang harus sopan dan ramah,"bisik Netta.
Kado sepesial apa yang ingin Netta padaku?”
Bersambung …