
“Ah…
kamu membuatku makin gila sih.”
kataku melempar vas bunga ke dinding dan menendang pot bunga besar di sudut ruangan, membuat semua jadi berantakan.
Aku emosi melihat kelancangan mulut Arnita saat ini, ia dari dulu memang cerewet, tapi tidak pernah menghina dan merendahkan siapapun,
sejak masuk sebagai model, ia banyak berubah, pakaiannya juga sering terbuka dan membuat sakit mata.
Sejak bergaul dengan Mikha juga dan menjadi seorang model, ia makin sombong dan merasa paling di atas.
Arnita sudah salah bergaul dan salah memilih teman, kalau tidak diingatkan mulai saat ini bisa hancur masa depannya.
Ia baru mau diam setelah aku mengamuk melempar barang-barang.
“Kamu makin lama makin lancang bangat sih?
tidak pantas ngomong seperti itu pada eda mu sendiri, apalagi eda istri abang mu, karena Jonathan hula-hulamu, pengganti bapak nantinya, kamu paham?” kata Kak Eva.
“Bodoh amat, gue gak urus tentang adat-adat,”
kata Arnita.
Dari keluarga ini anya kakak Eva anak Mami yang waras dan rumah tangganya normal.
Laeku(Lae: suami saudara perempuan)
Ia banyak berubah sejak menikah, sikapnya sangat dewasa menghadapi masalah.
“Kakak diam saja urus saja rumah tangga kakak, jangan urusin hidup gue,”
kata Arnita tangan kak langsung bereaksi, menjambak rambut Arnita dengan kasar.
“Kamu ngomong apa, ha! gue pantas nasehatin lu, karena lu itu adik gue, lu pikir jadi model sudah hebat, ha..!”
“Ma, sudah kok jadi ikut marah-marah sih, kata Laeku menghentikan kemarahan kak Eva.
“Gue emosi mendengar mulut sombongnya, kepengen aku cocol cabe jadinya,”
kata kak Eva.
Ternyata Arnita tidak terima juga di nasehati kak Eva, ia balik menarik rambut kak Eva.
“Gue, sudah dewasa iya sekarang, jangan sok menasehati gue, urus suami lu biar gak minta-minta modal ama Mami,”
katanya mencari perkara.
Suami kak Eva seorang Arsitek dan pemborong juga, kadang ia butuh modal besar untuk menjalankan usahanya, mungkin suami kak Eva pinjam dana sama Mami dan didengar Arnita.
“Haa!?”
Mata suami kak Eva terkejut, lelaki berkulit putih itu terlihat melonggo, aku yakin ia bukan lelaki yang suka minta-minta modal, mereka berdua bekerja dan Mapan, mertua kak Eva juga orang yang terpandang, tidak mungkin rasanya, bapak satu anak ini minta modal sama Mami.
Ia lelaki berpendidikan dan punya prinsip.
Perkelahian antara dua kakak beradik tidak terhindarkan, tapi Arnita terlalu kecil buat kak Eva.
Karena ibu satu anak ini memang jago bela diri dari dulu, karena ia pernah masuk sekolah bela diri untuk bisa jaga diri dulu.
Maka satu pukulan keras di otot tangan Arnita, membuat gadis muda itu melepaskan tangannya dari rambut kak Eva,
ia meringis, mengusap kedua tangannya, tapi bukan hanya itu, ia mendapat tamparan keras di pipi membuatnya babak belur di bagian wajahnya.
“Lu masih kecil saja sudah bicara tidak sopan pada saudaramu, lu pikir kalau lu sudah jadi artis sudah hebat lu itu sampah…! Tidak berguna,”
Pak
Pak
Satu pukulan keras mendarat di kepala Arnita, tidak tega melihatnya dihajar, aku dan suaminya menahan kak Eva, yang terlihat masih emosi.
Ia emosi karena Arnita mengatai suaminya tukang minta-minta.
Arnita menangis dengan suara meninggi, kedatangan kami benar-benar membuat kegaduhan malam ini.
Bibi menahan Arnita, bibirnya juga bengkak dan mengeluarkan kecap merah baik hidungnya juga, wajah itu benar-benar babak belur, aku hanya menamparnya sekali tidak menyangka kak Eva melakukannya membabi buta.
Baru sekitar lima menit mereka berdua dilerai, Mami datang sama Papi.
“Apa-apaan ini?”
kata Mami begitu tiba di rumah melihat barang-barang itu pecah dan hancur berserak.
“Maaaami… Arnita berlari memeluk Mami yang baru datang.
“Kenapa wajah kamu, ada apa ini?”
“Mereka semua memukuli bergantian, mereka menggeroyokku,”
katanya mulai mengarang cerita.
“Iya ampun , iya Tuhan anakku ambilkan obat Bi!,”
kata Mami panik.
Papi tidak mengatakan apa-apa, beliau duduk di sofa di sampingku, tangannya mengurut leher belakangnya.
“Mereka semua memukuliku, karena wanita kampung si wanita mandul itu Mami.”
Baru mendengar segitu saja Mami langsung bangun menghampiri Netta dan memberinya tamparan keras di pipi.
“Mami malah memukul dia sih?”
kata Kak Eva terkejut.
Itu semua karena gadis kampung ini, gadis kampung yang tidak tahu diri ini, kata mami lagi ingin memukul Netta , aku menghalanginya degan badanku,
tidak ingin Mami memukulnya.
“Mami kenapa harus pakai kekerasan sih, Mami tidak berhak menyentuhnya ia istriku kataku menyingkirkan tangan Mami.
Tanganku menangkis tangan Mami , tidak ingin ia memukul Netta lagi.
Tapi caraku menangkis tangan Mami membuatnya marah tersinggung.
“Kamu berani mendorong Mami, itu kasar Jonathan…!
kamu durhaka menyakiti Mami kamu sendiri, sejak kamu menikahi wanita itu kamu berubah kamu bukan anak penurut lagi,”
kata Mami menangis semuanya jadi kacau.
“Mami selalu melakukan pemukulan padanya setiap kali marah apa itu pantas?
Aku suaminya disini, Mami,” kataku membentak.
Mata Mami menatapku tajam, kaget mendengar suaraku yang meninggi, karena selama ini kami sangat menghormati Mami dan tidak pernah membantah.
“Kamu sudah berani membentak Mami, banyak yang berubah dari kamu Tan sejak kamu tinggal dengan perempuan kampung ini.”
“Iya ampun Mi, Netta itu siapa buat Mami, ia anak abang Mami kandung, anak Tulangku, siapa dulu yang memaksa kami menikah, siapa dulu yang bilang akan menjaga Netta?
Aku bingung jadinya Mi, harusnya Mami ikut bahagia kalau kami bisa akur dan saling menjaga, semua orang tua juga seperti itu.”
“Sudah, sudah aku tidak mau mendengar aku tidak menyukai perempuan itu lagi, jangan sekali-kali ia datang ke rumah, ku lagi usir ia dari sini,”
kata Mami terdengar sangat kasar.
“Sudah, sudah mi, Mami sudah janji tidak melakukannya lagi, kan.
Jangan mengulangi kesalahan terus-menerus kata Papi, membuat Mami diam.
Tidak tahu apa perjanjian kedua orang itu dulu saat Papi pergi dari rumah.
“Tapi aku malu, punya kakak ipar kampungan malu-maluin seperti itu, ngapain di pertahankan kalau tidak bisa mengasih Mami cucu, untuk apa di pertahankan, abang Nathan anak lelaki pertama yang membawa marga, kan? harus punya anak, terus kalau wanita tidak memberikan anak mengapa haru s di pelihara lagi.”
“Kamu diam Ta, kamu tahu apa? Netta itu calon Dokter, jangan menghina belum tentu kamu lebih baik dari dia, nanti kamu kena karma,” kata Kak Eva tapi Arnita tersenyum mendesis menatap Netta dengan tatapan merendahkan.
Bersambung....
Bantu like ya kakak