
Sesuai jadwal yang di tentukan, aku menjemput inang mertua dan Lae dari bandara, Netta tinggal di rumah, aku meminta kakak Eva untuk menemaninya di rumah, tidak berani meninggalkan Netta di rumah sendirian.
Seperti yang sudah kami rencanakan hari Minggu akan mengadakan mambosuri, tadinya aku ingin meminta supir kantor yang menjemput inang ke bandara, setelah aku pikir ... tidak sopan rasanya sama hula-hula jika meminta super yang menjemput mereka, jadi aku yang menjemput sendiri.
“Bang mama itu suka bingung kalau berpergian, jadi pergi saja lebih cepat menjemput mereka, "ucap Netta mengingatkanku.
“Kan, ada Lae Tika”
“Ito itu, belum pernah naik pesawat”
”Tapi inang bao itu kan, bisa”
“Aku kurang tahu soalnya eda, soalnya dia juga pernah bilang padaku kalau dia juga belum pernah merantau jauh-jauh, hanya di sekitar Medan , itu artinya ia belum pernah naik pesawat”
'Waduh bisa mereka nanti saat turun pesawat, apalagi bandara Soekarno Hatta luas' ucapku dalam hati.
"Baiklah kalau begitu "
Aku berangkat lebih awal dari rumah dan mengirim pesan pada Juna.
*
Tiba di Bandara.
Mendengar cerita Netta aku meminta tolong Juna, meminta bantuan karyawan yang bertugas di bandara, bisnis Juna sekarang makin berkembang, ia membuka perusahaan jasa pengiriman barang ke luar negeri, makanya di setiap bandara ia punya anak buah.
“Baik Lae, tenang saja anak buahku sudah menemukan lae itu, sudah dibantu untuk mengambil bagasi, "ucap Juna, lega rasanya.
“Makasi Lae”
“Jo ...! Ayo kita nongkrong sesekali, kita tidak pernah lagi minum-minum bersama ”
'Juna memang lae kampret … masih saja panggil panggil nama sama hula-hulanya, dia lupa sebentar lagi aku akan dapat julukan bapak dua anak’ ucapku dalam hati.
“Gak bisa”
“Kok gak bisa?”
“Kamu itu ya … sudahlah”
“Kalau malam minggu gimana”
“Laeku … istriku sedang hamil besar, jadi aku akan selalu ada di sampingnya, jadi suami siaga”
“Oh … oklah,” balas Juna lagi.
Memang sudah nasip punya lae kampret seperti si Juna, masa hula-hulanya diajak hura-hura, memang tidak tahu adatlah si Juna ini.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mereka ber empat keluar dari dalam bandara diantar anak buah Juna.
“Selamat datang inang lae, inang bao”
“Bah le do manjemput hami”
“Wah … lae ternyata yang jemput kami) ujar Lae Saut wajahnya sumringah.
“Ya Lae, tadi kebetulan lagi tidak banyak kerjaan di kantor, itomu tidak ikut jemput”
Setelah basa-basi membawa mereka pulang, saat tiba di rumah ternyata mami dan kedua tulangku sudah ada di rumah menyambut kedatangan mereka, entah kenapa. Setiap keluarga mengumpul di rumah kami, aku merasa sangat bahagia, aku selalu berharap rumah kami selalu ramai.
Setelah duduk di rumah setengah jam kemudian Lae Rudi, istrinya dan Gres datang juga, melihat Rudi dan istrinya datang inang mertuaku langsung senang, ternyata benar kata papi.
Orang tua itu tidak semata hanya ingin harta biar bahagia, buktinya ... inang mertuaku melihat anak dan menantunya datang dan bisa berkumpul, ia sudah sangat bahagia.
Apalagi mendengar istri lae Rudi sedang hamil ia semakin gembira dan menelepon keluarga inang Nely di kampung.
Malamnya, Keluarga membahas tentang rencana tujuh bulanan yang akan diadakan hari minggu.
*
Hari Minggu.
Akhirnya tiba waktunya acara yang sudah kami rencanakan; mambosuri atau tujuh bulanan, dimana susunan acara ini, pihak keluarga perempuan yang akan memberi makan menantu dan anaknya yang sedang hamil.
Memang dalam diskusi malam itu tulang Gres dan tulang Kembar sebagai pihak perempuan atau orang tua istri bertanya Padaku,
"Kira-kira berapa orang yang akan diundang?"
Karena luapan rasa syukur kami sama Netta dan kami ingin mendapat banyak pasu-pasu( berkat) dari keluarga kami.
"Baiklah Bere"
Benar saja, saat acara dimulai tamu yang datang begitu luar biasa, untungnya, papi sudah mengantispasi sebelumnya, meminta mendirikan tenda di luar, keluarga pihak Nainggolan dan keluarga Pihak Situmorang bertemu kembali di rumah kami, ini seperti adat pesta pernikahan.
Kursi yang yang disusun di luar hampir penuh, kakak Eva, Arnita , tante Ros orang yang paling sibuk hari itu.
Akhirnya acara di mulai dan aku sungguh deg-degkan untuk hari ini, karena aku belum pernah menghadiri secara langsung
.
Aku dan Netta duduk ditikar anyaman yang dibawa ibu mertuaku dari kampung yang letek sendiri dari bayun ( dianyam sendiri)
“Kok … aku jantungan ya Pi,” bisikku sama papi yang duduk di sampingku.
Karena dalam acara mambosuri ini, orang tua dari pihak laki-laki duduk bersama kami dan kelurga pihak perempuan yang datang membawa ikan dan ulos ke dedepan kami.
“Kenapa jantungan tidak disuruh apa-apa hanya disuapin,” bisik papi.
“Disuapin?” Tanyaku lagi.
“Ya, arti mambosuri itu di kasih makan kenyang, biar ada tenaga kalian untuk menjelang melahirkan nanti,” ujar papi.
“Oh , begitu”
“Kamu sih waktu kakakmu Mama Arkan acara tujuh bulanan kamu ngacir entah kemana,” ujar papi.
Benar, kakak Eva juga waktu hamil Arkan diadakan acara tujuh bulanan sama keluarga kami, tetapi saat itu …. aku, lagi bandal-bandalnya, sama mantan yang dulu, ah sudahlah lanjut sama pesta.
Tidak lama kemudian inang mertuaku lae Saut dan Tulang Gres sebagai pihak keluarga Netta datang ke depan kami membawa piring tiga ekor ikan mas utuh dan nasi satu piring, beras dalam piring.
“Inilah Inang boruku, mama, itomu, sama bapa udamu datang ke rumah kalian ini, membawa ikan mas, untuk memberi kalian makan
Dalam acara mambosuri ini atau tujuh bulanan ini, mama, itomu, dan bapa udamu akan kasih kalian berdua makan yang banyak agar kuat nanti menjelang kamu lahiran, "ucap Inang mertua.
Tetapi saat ibu mertuaku mengucapkan kata-kata rasa syukur, aku ikut menangis mendengar kesaksiannya.
“Inang … setelah kamu bilang malam itu, kamu sudah hamil, setelah penantian hampir tujuh tahun … malam itu juga. Mama pergi ke kuburan bapakmu sama aoppung, mama menangis di sana, mama berterimakasih sama mereka, karena telah ikut mendoakan kamu dari surga …” Mami mertuaku menangis sesenggukan.
“Unang tangis ho Oma, jadi tangis ito i”
( Jangan nangis kamu Ma, jadi nangis ito ini) ucap Lae Saut menepuk pundak inang mertuaku. Posisi tangan mereka memegang sisi piring ikan mas dan tangan itu saling menopang sampai kebelakanhg karena banyak keluarga dari Nainggolan yang datang.
“Sudah Kak, suapilah boru kita itu, jangan menangis lagi, ini kita lagi bergembira,” ujar tulang Gres.
Netta juga ikut menangis melihat inang mengungkapkan perasaan bahagianya.
“Baiklah … ini hanya mengungkapkan rasa bahagiaku, sehat kamu ya boru hasianku( Boru kesayanganku) sehat kamu sampai lahiran,” ucap Ibu Mertua lagi.
Lalu inang mertua menyuapi kami berdua sebanyak tiga kali dimulai dari aku. Lalu diikuti dari lae Saut sebagai pengganti bapak, tadinya tulang yang di minta, tetapi tulang menolak, ia meminta Lae Saut sebagai pengganti Lae Mereka.
“Ito, aku tak pandai berkata-kata, tapi kau taulah apa yang di dalam hatiku … aku sangat menyayangimu itoku naburju, sehatlah kamu sampai melahirkan ya ito” lalu ia menyuapi kami lagi sebanyak tiga kali juga.
Setelah disuapi sama semua keluarga, lalu ditabur beras diatas kepala sebanyak tiga kali juga, lalu dikasih juga tiga ulos. yakni;
Ulos Pangiring
Ulos Suri Ganjang
Ulos Putih
Semua nama ulos itu, punya arti masing-masing.
Setelah disuapi sampai kenyang, dan mereka kasih ikan Mas sama Situmorang, kini giliran Situmorang yang akan kasih mereka pinahan( daging) saling bertukar, Nainggolan kasih ikan mas Situmorang kasih pinahan.
Wah ... unik bangat adat Batak ini, tadinya sebelum menikah aku tidak tahu sama sekali dengan adat Batak, tetapi, setelah menikah dan dijalani, rasanya sangat menarik dan indah adat Batak.
Dari acara tujuh bulanan inilah, kami bisa bertemu kembali keluarga dari pihak Nainggolan atau Lumbanraja dan keluarga Situmorang.
Keluarga yang datang juga membawa beras, bahkan saat aku menoleh, berasnya hampir setengah karung.
Melihat banyaknya keluarga kami yang datang, aku meminta tolong Tiara sekretarisku, untuk menambah uang dalam amplop lagi, sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa puluh, tetapi pas dihitung ternyata banyak yang datang. Sebenarnya dalam adat tidak ada bagi-bagi amplop dan bingkisan. Ini hanya inisiatif kami saja, sebagai rasa gembira kami, karena sudah diberi anugrah ter-indah dalam keluarga kami, bahkan mami sendiri tidak kami kasih tahu, kalau ada bingkisan dan amplop sebagai pengantin bensin.
Kalau mami tahu pasti repot urusan, merepet panjang lebar, makannya kakak Eva dan Arnita selalu kunci kamar tamu, agar mami tidak lihat, setelah selesai acara dan saat untuk pulang. Kami bagi-bagi bingkisan wajah kelurga kami yang datang begitu senang dapat bingkisan, sebenarnya harganya tidak seberapa, tetapi kegembiraan kami, keluarga kami ikut merasakan dan mereka akan mendoakan.
Jadi acara mambosuri atau tujuh bulanan Netta berjalan lancar dan penuh berkat.
Bersambung