
Beberapa Hari sebelum bertemu keluarga kami.
Netta, akhirnya membuatku kembali bersemangat, ia akhirnya memutuskan mempercepat program bayi tabung yang pernah kami rencanakan.
Kalau beberapa waktu Lalu, ia selalu bilang nanti saja tahun depan periksa sekalian, tetapi saat ini ia setuju, untuk kami melakukan pemeriksaan semuanya, mulai dari kesehatan tubuh, kesehatan sel telur milikku dan kesiapan mental Netta.
Kebetulan hari itu Netta libur, lalu ia mengajakku mengobrol tentang anak.
"Bang, aku bertemu dokter seniorku di rumah sakit, ternyata dia dipindahkan dari Jakarta ke Bali, dia naik jabatan jadi wakil direktur di sini"
"Bagus dong, kamu jadi punya dekingan di rumah sakit"
"Ya Bang, dia orang baik, dia selalu mengajariku dan almarhum, kami sudah seperti keluarga. Dia orang Batak juga marga Pandiangan, satu marga sama mama , jadi aku panggil tulang"
"Bagus lah, aku senang kamu dapat keluarga di sana."
"Bang, di meminta sekolah lagi, untuk mengambil jurusan yang sama dengan Nando"
Aku aku diam,
"Untuk biayanya rumah sakit yang tanggung,"sambung Netta, tetapi aku tidak terlalu menanggapinya.
"Oh,"aku hanya menjawab begitu saja.
"Abang tidak setuju ya ...."
"Dek, kita baru pindah ke sini dan aku berkantor di sini"
"Aku tidak menjawab Bang ya Bang aku hanya bilang nanti akan memikirkannya lagi, tetapi dokter itu meminta Abang ke rumah sakit"
"Untuk apa?"
"Ayo kita melakukan pemeriksaan yang serius"
"Maksudnya kita akan periksa untuk program anak?"Tanyaku bersemangat.
"Ya"
"Tidak jadi tahun depan?"
"Begini kata dokter Bang, kita periksa dulu sel telur Abang sehat apa gak, kalau tidak sehat nanti akan dikasih obat agar sehat, biar nanti saat pengabungan bisa berhasil"
"Baik aku setuju, aku tidak sabar lagi"
"Tetapi Bang, apapun nanti diminta kamu jangan malu sama suster ya"
"Memang di suruh ngapain?"
"Aku juga belum tahu, karena ini bukan keahlian ku, aku bagian jantung dan paru-paru"
"Tidak apa-apa, aku akan melakukannya, walau nanti aku di minta buka baju dan celana aku akan bersemangat dan menurut,"ucapku sangat gembira.
Padahal baru pemeriksaan saja aku sudah senang dan bersemangat, apalagi nanti kalau sudah berhasil, terkadang aku suka membayangkan wajah anakku nanti mirip siapa. Walau anakku suatu saat lahir mau perempuan tau atau laki-laki aku akan menerimanya dengan baik, tidak perduli ia laki-laki atau perempuan.
"Baiklah, kita akan ke rumah sakit bertemu dengan dokter"
"Baik"
Hari itu kami berangkat ke rumah sakit,
Kerena keluarga selalu selalu khawatir, aku dan Netta memutuskan melakukan pemeriksaan lebih awal.
Padahal rencana kami tadinya aku dan Netta ingin memberi kejutan tahun depan untuk mereka jika sudah berhasil.
Tetapi hari itu kami berdua sudah melakukan pemeriksaan khusus Netta membawaku menemui seorang Dokter senior, yang kebetulan juga orang Batak marga Pandiangan, mama mertua boru Pandiangan jadi Netta memanggilnya dengan sebutan tulang dan beliau juga terlihat sayang dan tulus membantu Netta, sepanjang kami bertemu beliau selalu memuji Netta dan almarhum Aldo.
Jadi beliau yang memeriksaku langsung, walau awalnya aku merasa sangat malu karena di minta mengeluarkan cairan milikku ke dalam wadah kecil.
‘Oh, lelaki yang hebat’ aku membatin.
“Ikuti saja nanti apapun yang dikatakan suster,"ujarnya lagi.
“Baik Dok”
Aku keluar dari ruangannya dibantu seorang suster, ia menjelaskan semuanya.
Saat itu aku gugup malu perasaan yang bercampur aduk, coba kalian bayangkan di minta mengeluarkan cairan Ake dalam botol.
‘Bagaimana caraku mengeluarkannya masa pakai sabun?’ tanyaku dalam hati saat itu, Netta sendiri sangat polos tentang hal begituan, makannya suster dan dokternya tertawa melihat Netta yang ikut kebingungan.
Lalu aku di bawa ke ruangan yang ada tulisannya pengambilan spe*ma, sebelum masuk, aku sempat down merasa seorang cabul.
“Tidak apa-apa Pak, bukan hanya bapak yang masuk ke ruangan itu, sudah ada ribuan orang, cuman, tidak semuanya berhasil itulah yang akan kita periksa benih milik bapak sehat apa tidak.
Jika sehat, artinya tingkat keberhasilannya tinggi, Jika punya bapak jelek tidak akan dapat di gabungan sel induk telur milik ibu,” ucapnya menjelaskan.
“Baik Sus." Aku sangat canggung, untungnya semua dokter dan perawatnya baik jadi aku tidak merasa incure.
“Apa perlu saya panggil dr. Netta menemani bapak di ruangan itu, kalian juga bisa bekerja sama untuk mengeluarkan cairan bapak”
'Astaga Netta!? Jangan, jangan bisa-bisa dia ketawa ngakak di dalam yang ada aku malu sendiri’ ucapku dalam hati.
“Jangan Sus, biarkan saya melakukannya sendiri"
“Tidak usah malu Pak, banyak kok yang melakukan dengan pasangan di dalam, asalkan pasangan yang sudah menikah”
“Kalau bukan pasangan suami istri gak bisa?” tanyaku sambil memutar-butar botol kecil itu di tangan, aku sampai berkeringat.
“Tidak bisa Pak harus pasangan suami istri dan data-datanya lengkap dan sini tidak sembarangan , benar-benar data-datanya lengkap juga, kalau tidak lengkap bisa masuk pidana,” ujar suster itu kembali.
“Nanti di dalam ruangan itu ada apa?” Tanyaku masih merasa takut, membayangkan saja membuat otakku bergentayangan”
‘Bagaimana kalau seseorang ada di dalam sana lalu memaksaku membuka celana lalu dia … Astaga!l Seketika aku langsung membayangkan orang memeras susu sapi dan menampung dalam wadah
Membayangkan hal itu pinggangku langsung ngilu.
“Jangan khawatir, tidak sakit, Bapak buruan masuk, setelah selesai, nanti hantarkan saja ke counter bagian bank spe*ma,” ujarnya lagi.
“Maaf Sus, mau tanya istri saya dr Netta kemana ya?”
“Oh, dia juga sama seperti bapak melakukan pemeriksaan”
“Dia juga ambil cairannya pakai botol? Sama siapa?"
Suster tertawa ngakak, melihatku panik.
“Caranya berbeda Pak, dr. Netta mengambilnya pakai suntikan di perut”
Setelah mengumpulkan semua keberanian aku masuk ke dalam bilik tersebut, tanganku sudah mulai berkeringat, saat tiba di salam pertama kita disuguhkan majalah dewasa wanita cantik dengan segala pose yang membuat mata pria tidak berkedip, tetapi belum berhasil mengeluarkan cairan walau sudah melihat yang cantik dan seksi dengan segala gayanya.
Ada pilihan yang terakhir menonton video yang khusus orang dewasa, dengan cara itulah aku berhasil mengeluarkan apa yang di minta dokter, karena lutut terasa pegal karena aku memerasnya dan memasukkan ke botol kecil.
Aku duduk lemas dengan dahi berkeringat, aku berharap Netta tidak mengetahui apa yang aku lakukan di ruang perah itu.
“Ternyata begini caranya bayi program,” ucapku pelan melihat ruangan itu, aku membayangkan setiap calon bapak yang datang ke ruangan kecil itu, melakukan seperti yang aku lakukan untuk mendapatkan anak.
Aku berharap rencana kami berhasil
Bersambung
Bantu like, vote dan share ya Kakak
“