Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Pulang Ke Jakarta Dulu


Dua minggu kemudian Tivani dan Candra pindah ke Bali.


Rupanya jauh sebelum Netta di tugaskan ke Bali Candra sudah pernah melamar di rumah sakit  yang  sama dengan Netta, saat ini ia telah bekerja di sana.


Sementara Tivani ia membuka ruang praktek di rumah mereka, tempat tinggal mereka tidak jauh dari Villa tempat tinggal kami juga.


Mereka dalam proses  persiapan sebelum bapa uda akan dibawa ke Bali. Aku aku dan Netta akan pulang ke Jakarta, saat kami pindah ke Bali mama selalu menelepon dan  marah- marah minta kami kembali ke Jakarta, akhirnya sore itu, kami memutuskan pulang tanpa memberi kabar karena  Jeny keponakanku hari minggu akan tardidi atau dibaptis tentu akan ada adat yang berjalan.


“Syalom!” sapa Netta saat malamnya tiba di depan pintu


“Mi, abang pulang sama Eda!” Teriak Arnita.


Papi dan mami keluar dari kamar, tadinya aku pikir biasa-biasa saja, karena kami pergi   baru dua minggu, ternyata si Borneng senior memeluk dengan tangisan.


“Ago amang … mulak do ho hape amang, nungga masihol hian au, unang be tinggalhon au”


(Adu anakku … pulangnya ternyata kamu, sudah rindu kali aku, janganlah lagi tinggalkan aku) ujar mami  masih memeluk


“Baru juga dua minggu Mi, belum sebulan , belum satu tahun,”ujar ku memeluk pundak mami.


“Entah mami ini lebay kali, macam anak TK,” ucap kak Eva bercanda.


“Kamu belum merasa bagaimana rindu hatimu, saat anakmu pergi. Kamu akan merasa nanti,” ujarnya dengan marah sama kak Eva.


“Semua anak-anak akan pergi jauh dari orang tuanya, itu menunjukkan kalau si anak sudah dewasa, sudah waktunya mandiri”


“Sekarang kamu bicara enak nanti saja kalau anakmu pergi, baru kamu menangis,” ujar mami.


Papi memang dari dulu  akui ia tidak mau jauh daru anak-anaknya, tetapi aku tidak tahu kalau mami juga akan  merindukan kami juga.


“Sudah, sudah kalian langsung berdebat duduk juga belum,” ujar papi.


Baru tiba sudah di jamu dengan masakan kesukaan ‘panggang na marmiak’ Walau di Bali   banyak makanan khas Batak itu, tetapi masakan ala Batak Yang selalu cocok di lidah.


                             *


Rumah  mami lumayan repot karena ada acara pembaptisan untuk anak kak Eva.


Rumah itu semakin rame saat kami berdua datang, saat kami duduk bercerita setelah makan malam.


“Kak Eva sudah lihat status tante belakangan ini?”


“Tidak, aku diblokir sama tante, gak tahu masalahnya apa,” ujar kak Eva.


“Gak taku itu … mami juga”


“Berarti kita semua diblokir, aku juga gak bisa,” ujar Arnita.


“Memang apa Ito?” Tanya Kak penasaran.


Ternyata benar  kata Arnita kami semua di blokir sama tente dari pertemanan media sosialnya, mungkin  tante tidak  mau kami melihat  sikap hura-huranya selama ini.


Karena kami semua diblokir, jadi kami membuka  lewat ponsel  suami Arnita karena dari nomor lae ito yang tidak di blok.


“Ini lihat Kak, tante sekarang jadi sosialita kelas atas,” ujar ku menyodorkan  layar ponsel padanya,  bukannya kagum kak eva malah merasa malu.


“Astaga tante ini, apa-apaan ini?”


“Iya ampun tan berhentilah mempermalukan diri sendiri, ini bukannya mobil Tivani, memang dikasih ke tante sebagai hadiah?”


“Hadiah apaan, justru Candra bilang dia memaksa Tivani meminjamkan mobil mewahnya, agar tante bisa pamer,” ujar ku.


“Astaga, gaya selangit, bukankah mami juga seperti dia dulu, apa penyakit mami pindah ke saudaranya?” Papi melirik istrinya.


“Mami bergaya sesuai isi kantong mami Pi, aku menghasilkan uang dari usaha jual perhiasan wajar dok mami berteman dengan kalangan atas karena target mami ke mereka”


Apa yang dikatakan mami benar juga, dulu memang  mami bisnis jual berlian dan sewa tas-tas bermerek dan  jualannya  pada artis dan istri-istri pejabat, tetapi sedangkan tante hanya ingin    dibilang hebat sama orang lain


“Iya, kalau itu memang benar, tetapi mami sekarang sudah bertobat, lagian tas mahalnya juga sudah dibakar habis sama papi”


Kami semua menahan tawa saat mengenang di mana papi murka dan membakar tas  branded yang harga selangit itu.


“Ya, mami benar dia bergaya  karena dia mampu dan masih peduli sama keluarga, tetapi kata Candra …. Tante tidak mengurus bapa uda”


“APA?”


Mereka semua kaget dengan penuturan ku.


“Kata Tivani juga, amang boru tidak dibawa untuk kontrol lagi, bahkan tante  berkata seperti ini katanya sama amang boru;


Bapak itu menyusahkan aku dan anak-anak kalau mau mati, mati saja biar gak repot kelurga, Tivani katanya mendengar namboru mengatakan seperti itu, tetapi dia gak bilang sama Bang Candra, karena dia kasihan”


“Astaga separah itu?” tanya papi kaget.


“Ya, bapa udah sudah di kursi roda selamanya, bapa uda juga sudah pensiun”


“Dasar wanita gila, apa dia ingin membuang suaminya setelah tidak  bisa bekerja lagi?” Mami sampai kaget.


“Tapi ngomong-ngomong apa istrinya Candra bisa menerima semua keadaan itu?” Kak Eva penasaran. Karena semua keluarga  mengenal Tivani orang.


“Menurutku dia tidak sombong lagi, dia  berubah banyak karena cinta”


“Candra dan Tivani rencananya akan tinggal di Bali, mereka  juga akan membawa bapa uda tinggal di sana”


“Benarkah? lalu hanya inang uda donk yang tinggal di rumah, si Lasria  bilang dia akan tinggal di Bali juga”


“Apa yang terjadi ? apa mereka  ….”


“Mereka semua anak-anaknya ingin memberi tante pelajaran, mereka semua peri dari rumah, bahkan si Edo gak mau lagi pulang ke rumah karena tante norak seperti itu,” ujar ku.


Mereka semua mendukung rencana Candra dan adik-adiknya yang meninggalkan tante sendiri di rumahnya, untuk memberi pelajaran baginya, kami semua baru tahu kalau tante sudah menggadaikan rumahnya  demi obsesinya jadi orang kaya,  kami juga baru tahu  kalau  tante menjual satu rumahnya untuk pesta mewah Candra,  tadinya aku pikir hanya menjual mobil,tenyata semuanya sudah, dan sekarang ia berakting kalau ia semakin kaya, ia berpura-pira kaya agar orang berpikir ia kaya.


Orang yang kaya sesungguhnya biasanya akan bersikap sederhana dan biasa saja, tetapi terkadang orang  pamer kekayaan mereka hanya menipu diri sendiri demi mendapat sanjungan dari orang lain.


Alu berharap tante segera berubah dan tidak menyakiti hati banyak  keluarga,   melihat hujatan  yang di terima tante  dalam setiap postingannya di media sosial membuat mami ikut sedih, biar bagaimanapun ia adalah saudara kembarnya.


Bersambung ..


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tipsnya semoga rezekinya semakin bertambah untuk kakak semua.


ILove All.


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


-Menikah Dengan Abang Ipar


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamata)


- Menjadi Tawanan Bos Mafia( Tamat)


-Bintang kecil untuk Faila (Tamat)


“Pariban Jadi Rokkap( ongoing)