
Netta itu simpel dan apa adanya, berbeda denganku yang terkadang masih suka ribet soal tempat makan, makanya kalau kami makan di luar Netta yang selaku aku minta yang milih, kalau aku kelamaan berpikir. Benar kata Netta hidup sudah ribet jangan hal kecil tambah bikin ribet lagi.

Visual Nettania.
Jika ada orang yang jatuh cinta setelah menikah dengan pasangannya, berarti mereka satu server denganku.
Aku ingin mengajak mereka ngopi bareng. Jika kebanyakan pasangan menikah akan merasa bosan di usia pernikahan yang jalan enam tahun, maka aku dan Netta tidak. Kami berdua malah kebalikannya. Tadinya aku ingin mengajak Netta ke tempat romantis yang sering aku datangi dulu dengan teman- teman.
Namun borneng ini!
Memintaku untuk melihat Monas, ya sudah, malam itu kami ada di sana di depan pagar Monas.
Mobil kami berhenti depan pagar , Netta keluar dari mobil matanya langsung tertuju ke puncak Monas, pada bongkahan emas berwarna kuning tersebut.
“Aku belum pernah naik ke atas loh, Bang, "ujarnya dengan kepala menengadah ke atas.
“Kalau malam di tutup Dek.” Aku berdiri si samping Netta. "Tapi di dalamnya tidak ada yang menarik seperti yang kamu bayangkan, biasa saja menurutku. Apa yang spesial dari Monas?.
"Monas itu spesial Bang, lambang Jakarta."
"Ah ... biasa saja Dek."
Aku penasaran kenapa Netta ingin sekali melihat Monas.
“Tahu Gak, saat pertama kali aku datang ke Jakarta? yang pertama yang aku ingin lihat itu Monas. Pernah sih aku lihat, tapi hanya di luar saja, berapa kali ada kesempatan saat libur dari kampus dan dapat giliran libur kerja. Tapi ngantrinya panjang, teman-temanku pada gak mau,” ujar Netta.
Bisa dimaklumi sih, saat tiba di Jakarta Netta kuliah sambil kerja dan se ingat ku ia hampir tidak ada libur saat kuliah di Jakarta, lalu ke Jerman. Kata Netta di Jerman juga mereka tidak banyak waktu bebas. Jadi borneng ini baru satu tahun ini ia mendapatkannya. Makannya saat dituntut untuk punya anak, ia selalu bersikap tenang karena ia merasa menikah baru satu tahun. Aku juga beberapa hari ini lebih santai setelah mendengar semua dari Netta malam itu.
“Bang, Monas di atasnya bagus gak? Dulu saat aku di kampung ada kakak temanku pulang dari Jakarta bawa gantungan kunci bentuk monas, lalu baju monas, dia bawa ke sekolah dan dipamerkan ke kami, satu kelas iri bangat sama dia, lalu rebutan pengen pegang gantungan kunci itu, lalu pecahlah kan Bang. Nangis -nangis dia, dia lapor sama guru disuruh kami ganti.”
“Lalu?”
“Saat itu uangku hanya seribu rupiah di kasih bapak karena gak serapan dari rumah, padahal aku gak ikut pecahin. Dipaksa guru kami bayar, karena dia anak kepala sekolah kami, saat pulang aku gemetaran karena kelaparan, aku masih ingat bangat itu … aku sampai gak kuat berdiri, abang tahukan jalanan dari rumah ke sekolah SMP kami?
Padahal tadinya uang seribu ku, untuk beli gorengan untuk mengganjal perut saat pulang."
'Jadi karena itu Netta ingin melihat Monas?'
“Kamu pingsan dong Dek?"
“Ya, Ito Saut yang gendong aku pulang, karena malam juga aku gak makan.”
Wajah Netta terlihat sangat sedih saat mengingat masa kecil, aku tidak ingin melihatnya menangis aku mengalihkan perhatian Netta membeli tiupan busa sabun. Seandainya pos penjaga Monas buka, aku akan bayar berapa pun agar Netta bisa melihat Monas.
Tapi sayang pos penjagaan saat itu aku lihat kosong, jadi aku tidak bisa memenuhi keinginan Netta.
“Monas biasa saja Dek, di dalamnya di lantai dasar, hanya gambar-gambar monumen perang dulu. Di Jerman bukannya banyak pemandangan lebih indah?”
“Walau rumah orang lain indah dan mewah, belum tentu kita merasa nyaman tinggal di sana.”
“Artinya?” tanyaku.
“Ya, Jerman memang indah, tetapi Indonesia selalu yang aku rindukan.”
“Karena ada aku di Indonesia,” ujar ku bercanda.
Netta tertawa.
Netta sering bercerita di Jerman juga banyak bangunan bersejarah dan monumen. Karena negara itu juga pernah perang, hingga meninggalkan banyak gedung-gedung bersejarah. Negara dengan julukan Fatherland itu punya hubungan baik dengan Indonesia, karena putra terbaik Indonesia Habibie alumni dari Jerman juga.
“Dek … kalau misalkan kamu ditawarin bertugas di sana. Apa kamu mau?” tanyaku penasaran.
“Tidaklah Bang, aku memilih di Indonesia saja, biar bisa cepat jenguk keluarga,” ujar Netta,
Visual Jonathan.
Hatiku lega mendengarnya, aku takut kalau ia bertugas di ke luar negeri lagi.
"Baiklah, jangan sedih, kapan-kapan kita ke sini lagi, aku akan mengajakmu naik ke atas."
"Benar ya Bang," ujar Netta dengan raut wajah serius.
"Iya Dek, kalau kamu libur lain waktu kita kesini."
*
Saat sedang berdiri bersandar di badan mobil. Ponselku berdering.
“Angkat Bang,” bisik Netta, kami masuk ke dalam mobil, aku sengaja speaker biar Netta bisa dengar juga.
“Kau di mana?” Tanyaku.
“Bang …! Stres bangat aku. Bagaimana ini?”
“Kau laki-laki bicaralah yang jelas, jangan pengecut.”
Tiba-tiba Netta mencubit lenganku.
“Apa?” Tanyaku setengah berbisik, Mataku menatap protes.
“Bicara baik-baik saja,” balas Netta dengan tatapan menegas. “Dia menelepon abang, bukan untuk dimarahin apalagi di bentak, dia hanya ingin di dengar,” ujar Netta marah padaku.
Iya juga sih.
Mungkin semua keluarga sudah menekannya, bahkan memarahinya, masa aku juga harus memarahi nya.
Karena Borneng sudah melotot padaku akhirnya.
“ Baiklah Can … katakan ada apa?” Tanyaku dengan volume suara di kecilkan.
“Netta ada di sana ya Bang?”
“Ya.”
“Hanya Netta yang mengerti posisiku, semua keluarga tidak tahu apa yang aku rasakan, bahkan abang Nathan juga kan?”
“Can. Kamu mabuk?”
“Bang … dengarkan aku.”
“Kau di mana?” Tanyaku.
Tetapi Candra terus saja mengoceh tidak jelas seperti burung Beo, sebenarnya apa yang dia alami Candra mengingatkanku saat hidupku hancur.
“Bang coba lacak nomornya lewat gps.”
“Oh benar.”
Candra tidak mau menjelaskan di mana ia berada, kami harus menyelamatkannya sebelum ada masalah. Setelah menemukan titik keberadaannya malam itu kami pergi menjemput Candra.
“Dek … ini sudah larut malam, kamu besok kerja.”
“Aku libur Bang besok.”
“Oh, syukurlah.”
Beruntung Netta tidak ada shitf besoknya, jadi kami bisa bergadang sampai pagi. Tadinya ingin mengajak si Borneng kencan malam itu. Karena Candra kencan kami malam itu tertunda.
“Dek … apa kamu berpikir kalau tante dapat karma dari kesombongannya, aku bukannya menyumpahinya atau tertawa atas masalah yang menimpah Candra. Terkadang aku berpikir kalau dia mendapat teguran dari perbuatannya.”
“Aku juga tidak tahu Bang, tetapi kalau itu teguran untuk Bou, aku berharap biarlah itu teguran hanya untuk Bou, kalau bisa jangan ikut amang boru dan anak-anaknya, mereka semua baik bang, hanya namboru ini yang setengah waras."
Apapun yang dialami Candra kami ikut prihatin , walau selama ini tante jahat sama kami . Namun tidaK ada dendam untuk Candra.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
akak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat