Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Bahagianya hatiku


Malam ini akan jadi malam yang sangat indah dalam hidupku sepanjang masa, langit dan  bintangnya seakan -akan ikut tersenyum melihat kegembiraan yang aku rasakan malam  itu.


“Terimakasih Ta,” ujar ku  menahan butiran air dari mataku, aku mengerjapkan mataku beberapa kali agar bendungan di kelopak mataku  tidak jatuh ke bumi.


“Untuk ….?” Tanya Netta.


 “Karena kamu tetap bertahan bersamaku,” ucapku dengan tulus.


“Iya… suami istri harus saling percaya Bang, walau jarak dan waktu memisahkan kita, tapi yang bisa membuat tetap bertahan cinta dan kepercayaan.”


“Itu berlaku untuk kamu Ta, tapi tidak untukku, kamu tidak akan percaya apa yang aku lakukan selama dua tahun ini, kamu tidak tahu apa yang sudah aku alami,” kataku semakin erat merangkul tubuhnya, wangi harum dari rambut Netta membuatku memejamkan mata.


‘Istriku sayangku’ ucapku dalam hati semakin memeluknya dengan erat.


“Aduh … apa yang abang lakukan ini terlalu berlebihan, kita di Dolok Martahan di kampung ku, aku menyesal mengajak mereka tadi ikut,” ucap Netta menoleh kearah mobil, di mana mata adik-adiknya tidak menghiraukan adegan kami lagi, adegan ala- ala India.


Menonton YouTube jauh lebih seru untuk mereka daripada menonton kami berdua.


“Bang kita harus ikut loh untuk rapat malam ini, ini sudah jam berapa?” ucap Netta terlihat panik, ia melirik arloji yang melingkar di tangannya.


“Aku tidak perduli lagi Netta, kita tidak terlalu dibutuhkan di situ, kita hanya cucu, biarkan saja anak-anaknya yang membahas semua,” ujar ku tidak melepaskan pelukanku


“Tapi kita harus tetap hadir Bang, bagaimana dengan  bir yang kita beli?”


“Biarkan saja … aku merindukanmu Netta,” ucapku bersikap  norak.


“Nanti bicara lagi, kita pulang dulu, lihat adik-adikku sudah bolak –balik melihat kesini.”


“Baiklah, tapi sebelum aku lupa mengucapkannya, aku mau bilang sekali lagi …. Terimakasih istriku,” bisik ku mengulum senyum.


Kali ini aku yang tergila-gila padanya dan ia yang bersikap tenang.


“Aku tidak tahu ucapan terimakasih abang itu untuk apa, aku juga masih bingung melihat sikap abang malam ini, tapi untuk mempercepat waktu, aku menerima, ucapan terimakasih abang,”ujar  Netta menghela napas berat, aku tersenyum melihat raut wajah kesal dari Netta. Kini,  aku sudah berani mencubit pipi itu.


“Baiklah, kita pulang,” ucapku kemudian, aku takut Netta jadi marah.


Masuk kembali kedalam mobil, raut wajahku kembali tersenyum lebih cerah, dari sebelumnya, hati  ini dan perasaan ini bagai nano-nano, asam, manis, aku  rasakan semua itu, saat tiba di kampung Netta.


Apapun yang akan di bahas malam ini, tentang keluarga kami dengan Netta, aku sudah berani mengangkat kepalaku untuk menatap tante Candra dengan kepala tegak.


Kami tiba di rumah oppung, karena sudah malam dua adik iparku sudah tertidur pulas di jok mobil, dan yang lainnya terlihat layu karena mengantuk, aku mengangkat  lae kecilku dari mobil menidurkannya di rumah Netta.


Barulah aku dan Netta bersiap menurunkan minuman yang kami beli, tapi tangan kami terhenti saat suara marah-marah seperti orang berantem dari dalam rumah, rumah adat oppung berlantai kayu dan berdinding-ding kayu, jadi suara kaki seperti adu jotos terdengar dari dalam rumah.


Aku menutup bagasi mobil itu lagi dan berlari kedalam rumah, oh benar, dua orang sedang adu Jotos, wajah mami dan Bou terlihat pucat.


“Iya Tuhan siapa yang bertengkar,” ucap Netta panik, aku dan Netta mencari tempat untuk duduk.


Pertama sekali yang aku cari wujud papi, aku takut lelaki paruh baya itu yang bertengkar , uda Candra juga ada, aku melihat kedua tulang, tulang dari Bogor dan tulang Bekasi mereka berdua terlihat berdiri, mencoba melerai kedua lelaki yang sedang adu jotos.


‘Ah syukurlah bukan kelurga kami yang bertengkar’aku membatin lega.


“Sian dia do hamu nadua, na lelenggan?” (Dari mana kalian dua, lama bangat)ucap tante Ros, menatap kami dua dengan marah


“Siapa itu Tan?” Tanyaku sama  tante Ros.


“Tulang dari oppung yang kakak adik yang tinggal di kampung sebelah ,” ucap tante terlihat masih ketakutan.


“Ito itu mabuk, dia bawa parang tadi, ingin melukai abangnya,”kata tante, benar dugaan ku.


“Pasti masalah tanah lagi kan bou?” tanya Netta sepertinya sudah tahu.


“Iya, tanah warisan di ributin, padahal hanya  beberapa meter doang,” bisik tante Ros.


Memang begitulah katanya di kampung Netta, seakan emosi gampang bangat tersulut, terkadang tidak perduli itu abang kandung atau adik kandung, batas tanah miliknya bergeser sedikit, golok bicara, kadang kerbau makan sedikit tanam padi ributnya sampai bawa kampak. Itulah di kampung, karena minim pendidikan dan minim pendalaman agama.


Kami hanya jadi penonton malam itu, sudah sangat larut, semua sudah capek mengantuk, tapi pembahasan tentang biaya pemakaman oppung belum juga tuntas di bahas, karena ulah tulang kami yang mabuk dan menyebabkan keributan.


“Songonon mai dari pada ribut -ribut, modom be hita nungga  tong borngin on, loja be sadarion, sogotma talanjut muse,” ucap tulangku


(Begini saja dari pada ribut-ribut tidurlah dulu kita, sudah larut malam ini, besoklah kita lanjut untuk pembahasan ini)


“Iya … iyalah, besok sajakah Ito,” ujar tante Ros.


.


Semua keluarga sudah lelah, satu persatu meninggalkan rumah adat, meninggalkan tulang kami yang masih adu mulut, jika tidak ada yang mengalah, mungkin sampai pagi tidak berhenti karena keduanya terlihat sama-sama mabuk, orang mabuk ketemu orang mabuk apa jadinya, aku dan Netta tidak jadi mengeluarkan minuman yang kami beli, aku pikir lebih baik menundanya kalau aku keluarkan juga yang ada mabuk semua, dan bertambah rusuh satu kampung.


“Ta, kamu tidur sama Bou Candra iya sama si Lasria juga,” ucap Tante yang dari Bandung


“Iya bou.”


Wajah tante Candra mendung seperti awan gelap, aku berpikir tanteku yang satu ini seperti ingin mencari masalah lagi.


Mungkin tante Candra malu atau ia sadar.  Malam itu ia tidak mau menginap di  hotel lagi.


Iya kali, keluarga lagi berduka masa gaya-gayaan di hotel, ia jadi bahan gosip di kampung. Karena keluarga itu menginap di hotel dari pada berkumpul bersama keluarga.


“Jonathan, kamu tidur sama Candra, Edo sama Feno iya,” ucap Tante Ros.


“Iya  Tan,” kataku tanpa protes karena memang sudah lelah.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)