Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Jealous


Pukul 15: 00WIb


Setelah bertemu klien pagi itu, aku  mampir ke kantor, niatnya hanya untuk menyimpan file kerja sama  untuk proyek terbaru kami, melihat berkas menumpuk di atas mejaku, terpaksa aku duduk dan memeriksa satu-satu sebelum ku torehkan tanda tangan.


Belakangan ini  pekerjaan di kantor  berjalan dengan lancar, perusahaan kami selalu mendapatkan proyek besar .


Untuk Financial aku dan keluarga tidak kekurangan sama sekali.


Karena aku mendapatkan rezeki, aku membantu pengobatan bapa uda Brayen, tanpa sepengatahuan mami.


Karena kelakukan Brayen di masa lalu yang membawa kabur uang perusahaan, mami jadi  membenci bapa uda juga.


Tetapi bagiku tidak, dosa Brayen biar ia tanggung sendiri, tetapi bapa udaku tetaplah bapa udaku.


Saat Bapa uda dioperasi , aku  menanggung semua biaya pengobatannya dan dirawat di rumah sakit tempat Netta bekerja dan Netta juga salah satu yang jadi dokternya.


Setelah melihat jam sudah bertengger di angka  tiga, aku menutup dokumen yang aku periksa,  meninggalkan kantor menuju rumah sakit. Mampir ke jualan buah-buahan untuk  buah tangan sekalian menjenguk bapa uda.


Sebelum datang ke rumah sakit aku mengirim pesan pada Netta.


[Dek … aku ke rumah sakit ya, sekalian mau jenguk bapa uda] isi pesanku pada Netta.


Belum ada balasan masih contreng satu, itu artinya si Borneng lagi sibuk, aku memutuskan menyetir  menuju rumah sakit, saat tiba, aku menuju  ruangan bapa uda.


“Bah … na rodoho amang?”


(Datang kamu Nak)  bapa uda sudah bisa duduk setelah operasi tulang belakang beberapa minggu lalu.


“Iya bapa uda.”


“Parumaen baru keluar dari sini,” ujar bapa uda tersenyum  bahagia.


“Oh … pantas aku  kirim pesan dia masih bertugas rupanya.”


“Bapa udamu sangat senang karena dokter  jadi mengenal  dia karena parumen,” ujar inang ngudaku.


“Harus sehatlah bapa udah , karna ada parumaenmu dokter,” ujarku.


“Ya, bahkan dokter senior diajak parumaen ke sini dikenakan, kalau aku bapak mertuanya, jadi ramah kali mereka semua sama bapa uda,  ada dokter marga Situmorag juga teman parumen yang dibawa ke sini.”


“Ya Bang. Ganteng bangat dokter Situmorang itu,” ujar Lisa anak Bapa uda.


Deg …!


Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, ingatanku tertuju pada seseorang.


‘Jangan bilang dia ada di sini’ ujarku membatin.


“Baiklah, nanti aku datang lagi aku mau  bertemu Netta,” ucapku keluar dari ruangan bapa uda.


'"Aku akan  mencari dr, Nettania br Nainggolan secepatnya," gumamku pelan.


Tidak butuh lama aku mencarinya, sekelompok orang berjubah putih datang dari arah depan.


“Bang!” Panggil Netta tersenyum sangat manis ia mendekat .


Tetapi mataku teralihkan dari sapaan dan senyuman manis Netta, seorang pria tampan berdiri di depanku, enam tahun lalu saat di Bandara Silangit, aku melotot tajam pada bocah tampan itu karena ia sangat akrap sama istriku.


Kini, bocah  itu sudah bertranformasi menjadi seorang dokter  tampan dan bekerja satu rumah sakit dengan istriku,  Nando  Situmorang,   ia teman kelas Netta saat masih sekolah, bukan hanya teman satu kelas, teman satu kampung, teman satu gereja juga dan sekarang


Ah... sudahlah, panas otak - otakku jadinya.


‘Kapan dia bekerja di sini?’ tanyaku dalam hati.


“Halo Bang.” Nando menyodorkan tangannya.


Entah kenapa ingin rasanya aku menghajar lelaki itu, jangan tanya apa penyebabnya, sudah pasti karena cemburu. Tetapi cara cemburuku elegan, bibir dipaksa tersenyum.


“Hai appara, sudah dokter kamu ya,” ucapku menepuk pundaknya.


(Appara>Satu marga dipanggil appara)


Bibirku tersenyum, tetapi apa kalian tahu ada  dalam hatiku? Marsigorgor atau mendidih, bukan tanpa alasan aku cemburu padanya. Dari pertama aku sudah tahu kalau dia menaruh perasaan sama Netta. Lalu dari sekian   banyak rumah sakit di Indonesia, kenapa harus rumah sakit Netta? Itu alasanku jealous.


“Iya Bang,” jawab Nando.


“Abang sudah lama?” Netta menatapku.


“Belum, masih baru, aku kirim pesan kamu tidak membalas, aku pikir kamu sangat sibuk makanya aku datang mencari,” ujarku mulai naik tensiku, ya kan ….!


“Hapeku di loker Bang.”


“Kita mau ke kantin. Ayo abang ikut,” bujuk Netta.


Tadinya  malas ke kantin rumah sakit, tetapi karena ada Nando ikut, aku terpaksa ikut, saat kami duduk obrolan mereka kembali membuat hatiku terasa terbakar.


“Wah …  dokter muda lulusan Jerman ,” ucap seorang dokter yang baru datang.


“Jadi kalian berdua lulusan Jerman?”


“Kami berdua dapat beasiswa pertukaran mahasiswa antara Jerman dan Indonesia, biasa saja, "ujar Netta.


“Wah … hebat, anak-anak terbaik pilihan bangsa,” puji seorang dokter yang terlihat sudah senior.


Aku baru tahu kalau salah satu teman Netta dari Indonesia adalah Nando.


‘Kenapa Netta tidak pernah bilang kalau Nando juga salah satu mahasiswa  yang pergi ke Jerman?’ tanyaku dalam hati.


“Abang … mau kopi atau teh?” tanya Nando menawariku.


Karena hati di landa cemburu aku tidak bisa membedakan  tulus atau  berpura-pura,  Netta menatapku saat aku tidak menyahut tawaran Nando.


“Kopi saja,” ujarku saat melihat tatapan si Borneng.


Sepanjang para dokter muda itu mengobrol aku hanya diam, memilih  bermain ponsel.


Setelah beberapa menit duduk, Netta menyadari kalau aku bosan.


“Kita  jadi ke acara  reunian  Abang?” Tanya Netta.


“Ya, jadi” Aku buru-buru berdiri.


‘Bukannya dari tadi kamu mengajakku dek, aku sudah  kepanasan di sini’ ucapku dalam hati.


Berjalan menuju mobil.


“Bang, gak pamit dulu sama amang?” Tanya Netta.


Amang yang di maksud Netta bapa uda yang dirawat.


“Gak usah” Mulai memasang muka jutek.


“Kenapa bang, setidaknya kabarin kalau kita langsung pulang biar gak dicariin, soalnya tadi pas aku kesana amang tahu, kalau Abang ke sini.”


“Aku tadi sudah  mampir ke sana ….NETTANIA br NAINGGOLAN!” ucap dengan suara ngegas.


Bola mata Netta memutar saat suaraku meninggi. “Kok, abang marah?”


Apakah kalian tahu kalau cemburu itu salah satu penyakit kronis?


Aku sama Netta hampir saja bertengkar karena perasaan cemburuku yang tidak beralasan.


“Kamu gak bilang kalau bocah itu  bekerja  di sini Ta,” ujarku kesal.


“Tunggu …. ! Bocah yang abang maksud si Nando? Abang cemburu sama dia?”


“Ya,” ucapku menyalakan mesin mobil.


“Astaga .... Bang, kalau lagi marah, jangan menyetir, ayo  berhenti dulu dan  selesaikan  di sini.” Netta meminta memberhentikan mobil yang sempat aku nyalakan tadi.


“Bang dari dulu ak-”


“Dek … dia ikut  dapat mahasiswa  ke Jerman kan? Kamu gak pernah bilang," potongku lagi.


“Untuk apa Bang? dia hanya teman. Begini ya Bang  untuk apa kita bertengkar untuk hal yang tidak penting, kamu cemburu tidak tepat, kecuali aku jalan dengannya  atau berduaan, dia tugas di sini, karena kakaknya juga dokter di  rumah sakit  ini … lagian ya Bang,  dia sudah punya pacar.”


Rasa panas dalam hati berangsur pulih setelah Netta mengatakannya.


“Sudah …. ?” tanya Netta saat melihatku tenang.


Aku hanya mengangguk pelan, saat berjalan perlahan meninggalkan rumah sakit,  ponselku berdering.


Papi  meminta kami datang ke rumah  tulang Gres karena tante Candra datang memperkenalkan calon menantunya atau dalam istilah adat Batak pamit sama tulang mau menikah.


“Datangnya kalian Mang …? biar bareng kita,” ujar papi.


“Gak … usalah Pi, kemarin saja dia membuatku  naik tensi apa lagi nanti.”


“Ya sudahlah,  papi  mengerti perasaanmu, yang penting papi sudah  mengabari kalian berdua,” ujar papi di ujung telepon lalu mematikan sambungan teleponnya.


“Nanti pas pestanya saja kita datang Bang,” ujar Netta.


“Ya, baiklah, aku berharap   menantunya bisa mengubahnya,” ucapku.


Kami  berdua memutuskan tidak ikut dalam pertemuan keluarga kali ini, aku tidak mau Netta menangis karena omongan tante Candra lagi, aku berharap tingkat kewarasan tante bisa terjaga dalam pertemuan keluarga kali ini, karena aku dan Netta tidak ikut.


Bersambung


Jangan lupa like, komen dan share ya Kakak.


Terimakasih.