Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Luapan Kemarahan


Melihat itu tidak terasa air mataku menetes deras, aku tidak pernah akan menduga wanita yang aku cintai istriku akan mendapat perlakuan buruk seperti ini


Aku mengusap air mataku dengan kasar, aku harus ke rumah Mami sekarang juga.


Aku harus mengkopi rekaman itu, aku akan menunjukkan pada keluarga, mereka semua mengira karena aku tidak ada bisa memukuli Netta seperti itu, mereka tidak tahu kalau ada camera cctv yang melihat dan merekam perbuatan mereka semua. Jika perlu aku akan membawa kekantor polisi.


Dengan buru-buru aku memasukkan discnya ke saku jaketku, aku keluar bahkan menghiraukan semuanya, aku baru ingat AC dalam kamar di kamar kami, aku lupa matikan dan computers dan gerbang tidak aku tutup.


Pikiranku sepertinya sangat kacau, dalam perjalan keamanan komplek meneleponku, memberitahukan kalau pintu gerbang dan pintu rumah tidak ditutup.


Terpaksa aku menyuruhnya membereskan kekacauan yang aku tinggalkan, untung aku meninggalkan nomorku untuk sekuriti komplek, jadi jika ada kejadian seperti ini bisa diatasi, karena membuka gerbang dan pintu seperti sama saja menyuruh maling untuk masuk, rumah terkunci saja disatroni maling apa lagi yang terbuka seperti ini. Iya sudah pasti menyuruh maling masuk.


Sepanjang perjalan ke rumah Mami, aku berpikir inilah akhir hubunganku dengan Netta, ia tidak mungkin memaafkan perlakuan keluarga.


Apalagi faktanya, akulah yang tidak bisa memberiku keturunan, akulah yang penyakitan di sini, tidak mungkin ia bertahan saat semua terasa sulit baginya dan semua keluargaku berbuat jahat padanya, aku berpikir inilah akhir batas kesabaran Netta.


Untungnya siang ini tidak begitu macet seperti tadi pagi, hingga tiba di rumah Mami, terlihat keadaan rumah Mami rame aku melihat masih ada mobil Arnita itu artinya ia belum berangkat kuliah jadi bagus, ini waktu yang pas untuk memberimu pelajaran hidup, Netta tidak mau membalasnya biar aku saja, walau kamu adik perempuanku aku tidak perduli, Netta posisinya Istriku wajar kalau aku membelanya.


Di ruang tamu Papi duduk dengan tulang dari Bogor, ada kakak Eva juga dengan suaminya dan Mami duduk sama Nantulang juga, suasana rumah ramai.


Aku menghiraukannya tanpa beri salam dan menyapa semua keluarga. Aku merasakan telapak kakiku bagai melayang melangkah naik ke lantai atas dimana kamar Arnita.


Papi melihatku datang, beliau langsung berdiri menyapa.


“Tan sudah datang sini Nak ,Tulang dari bogor lagi datang,”


kata Papi.


Tapi aku diam melengos naik ke atas tepatnya ke kamarnya Arnita , aku membuka kamarnya tanpa basa basi, memang tidak sopan membuka kamar adik perempuan yang sudah dewasa tanpa mengetuk, aku menghiraukan aturan dan norma adat-adat yang berlaku.


“Abang!”


Arnita kaget, ia mundur, ia sepertinya sudah tahu kesalahannya dan sudah tahu kenapa aku datang ke kamarnya.


“Apa yang kamu lakukan pada Netta Haaa!?” suaraku menggelegar di dalam kamar, aku memburunya langsung memberinya pelajaran.


Pak~pak~Pak


Aku menggamparnya bolak- balik sampai hidungnya mengeluarkan kecap berwarna merah.


Aku sungguh sangat marah saat itu, aku sungguh gelap mata seperti kesetanan.


“Mami…!”


teriak Arnnita, ia menangis ketakutan, tapi itu tidak menghentikan.


Aku menari rambutnya degan sangat kasar, apa yang di lakukan pada Netta aku melakukan hal yang sama juga, menyeretnya ke bawah, mendorongnya kehadapan keluarga, terutama Papi aku melempar Arnita ke depan mereka.


“Tan apa yang kamu lakukan pada adekmu!”


Mata Mami panik.


“Katakan apa yang kamu lakukan pada Netta. Haaa!!”


kataku suara meninggi lagi.


“Maafkan aku bang, Nita salah,”


kata Arnita.


“Kenapa kamu memukulinya, apa salahnya, apa ia penjahat, apa ia maling, apa yang ia lakukan padamu?


Aku mengeluarkan gunting dari kantong celanaku yang sengaja aku bawa dari rumah, dengan kalap aku menggunting rambutnya hingga habis.


“Aku akan melakukan apa yang kamu laku pada Netta, kamu juga membotaki,kan”


Mata semua oran menatap kami dengan panik.


“Haaa oh Tuhan Tan hentikan “ kak Eva berteriak ngeri melihat kemarahan ku.


“Jonathan, sudah nak, mari kita bicarakan baik-baik, kata papi mendekat.


“Jangan mendekat Pi, Wanita gila ini memukuli Netta sampai sekarat, apa kamu gila Arnita, ia anak tulang kita, ia bukan orang lain, kenapa kamu membela orang lain dari pada dia, aku membencimu seumur hidup wanita bar-bar, kamu seorang wanita tapi dengan tega kamu menyakiti Netta seperti, aku juga akan melaporkanmu dan wanita gila itu ke polisi. Kamu akan mendapat balasannya dari Tuhan suatu saat nanti,” kataku.


“Jonathan, hentikan!” kata Mami.


“Sekarang mami puas! Netta sekarat mami, Mami juga ikut memukulinya, kan?” kataku mata semua menatap Mami dengan tatapan bingung tidak percaya.


“Apa Mami ingin aku sengsara? Mami puas kalau Netta meninggalkanku, mami yang menjodohkan aku dengan Netta Mi, tapi kenapa mami ingin kami berpisah? Apa mami tidak ingin melihat anakmu bahagia? aturan sebagai orang tua yang baik Mami itu senang jika hubungan rumah tangga anak-anaknya baik, bukan hanya harta dan uang yang di pikirkan. Dengar iya Mi, aku mencintai Netta.”


Mami terlihat menunduk malu di hadapan keluarga, saat aku bilang ia ikut memukuli Netta.


“Jonathan jangan seperti itu nak, letakkan guntingnya, bahaya.”


“Katakan Nita, apa salah Netta pada kamu?"


“Maapf bang, tidak ada,” kata Arnita


“Terus kenapa kalian memukulinya sampai parah seperti itu, haaa ! Ia istriku bodoh. kalau ia sampai kenapa-napa, aku akan menghabisi mu. Kataku pergi ke dapur membawa palu ingin memukul kepala Arnita degan palu itu.


Aku gelap mata ingin rasanya melampiaskan semua emosi dan kemarahan ku pada Arnita.


Suami kak Eva degan cepat menarik Arnita melarikannya keluar, aku melampiaskannya ke barang-barang di rumah, aku menghancurkan guci mahal mami dan menghancurkan lemari hias.


“Mami tidak menyukai Netta karena Mami ingin uang banyak bukan, mami Itu tamak apa hebatnya kaya haaaa. Punya harta banyak tapi menyakiti hati orang lain.


Pak...!


Pak ...!


Aku menghancurkan semuanya, anehnya saat aku menghancurkan barang- barang mahal milik Mami, Papi tidak melarang sedikitpun, baik kak Eva mereka diam seakan mendukung melihatku menghancurkan barang-barang mahal itu.


Berbeda saat aku memukul Arnita. Papi ketakutan melihatnya.


Puas menghancurkan bara-barang itu, aku berteriak lagi dengan kencang.


HAAAAA


HAAAAAAAA


“Netta tidak akan memaafkan ku Mi, aku yakin ia tidak akan menerimaku lagi, ia akan marah dan meninggalkanku. Saat itu terjadi tertawa lah puas Mi, tapi ketahuilah kalau Netta tidak mau menerimaku tertawa lah puas karena itulah keinginanmu Kan? kamu bahagia kalau melihatku menderita kan Mi?”


Aku ber teriak seperti orang gila meluapkan semua kemarahan ku, bahkan aquarium tidak luput dari kemarahan ku, ikan-ikan itu menggelepar di lantai, Bi Atin dengan sigap memasukkannya kedalam ember berisi air.


Puas menghancurkan semuanya degan palu besar itu, aku kehilangan tenaga terduduk lemas dan tak sadar kan diri, ternyata perutku kosong dari kemarin belum diisi apa-apa, saat bangun aku lagi-lagi berakhir di ranjang rumah sakit aku pingsan setelah melakukan penghancuran.


Tidak tahu berapa lama aku berbaring di tempat menyebalkan ini, tapi saat buka mata sudah di ranjang rumah sakit dengan infus.


Apa yang terjadi bagaimana Netta?


Bersambung...