Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Sebagai Ucapan t Terimakasih


Saat duduk bersantai di teras rumah kami.


Netta ikut mendekat, di tangannya ada  gunting kuku.


“Bang aku punya permintaan,” ucapnya meraih  jari-jari tanganku dan memotong kuku tanganku yang mulai memanjang.


Istriku  memang begitu cukup sekali  ngomong kalau tidak di dengar maka ia yang akan  bertindak. Ia sudah  beberapa kali memperhatikan untuk memotong kuku jari-jariku. Tetapi aku lupa bukan  niat untuk mengabaikan peringatannya.


Karena melihat kuku belum dipotong ia mengambil  gunting kuku sembari duduk santai, ia memotongnya tanpa harus  beruap-cuap dan marah- marah, kalau itu kak Eva mungkin akan  mengoceh panjang lebar.


“Apa?” Tanyaku menggeser kursi   dan mendekatkan tubuhku padanya, ku tatap  dalam wajahnya yang cantik, aku merasa semakin hari semakin jatuh cinta padanya.


Aku  merasa semakin jatuh cinta padanya semakin hari, apa ini namanya jatuh cinta setelah menikah? Iya mungkin.


Aku jatuh cinta padanya bukan karena ia semakin cantik, bukan juga karena ia sudah jadi dokter saat ini. Tetapi aki jatuh cinta padanya karena hatinya yang baik dan lembut.


“Apa?” tanyaku lagi.


“Jangan marah iya,” ucapnya menatap wajahku dengan senyumannya yang manis.


“Iya gak marah,” balasku.


“Kamu kan kontraktor Bang.”


“Terus?”


“Aku ingin membangun rumah untuk  Bapa Uda Gres,” ucapnya.


Aku terdiam, aku terdiam bukannya tidak mau, aku terdiam karena keinginan hati kami sama, karena aku posisinya saat itu juga lagi mencari  tanah dan lahan untuk tulang Gres, aku sudah lama punya keinginan itu.


“Kok diam Bang?” Tanya Netta menatapku.


“Kamu baca ponselku iya?” tanyaku menatapnya.


“Gak, memang kenapa?”


“Yakin tidak buka ponselku?”


“Gak Bang, mana pernah aku seperti itu … aku tidak pernah  berani membuka ponsel abang.”


“Tapi ini loh … Dek.”


Aku mengusap layar ponselku, menunjukkan  gambar proyek rumah  yang aku ingin bangun untuk tulang Gres.


“Abang sudah melakukannya?”


“Iya, maka itu … aku pikir kamu melihat ponselku,” ujarku.


“Itu artinya kita satu hati Bang.”


Karena kami berdua punya keinginan yang sama akhirnya kami berdua memilih rumah yang tepat  yang  akan kami berikan untuk tulang Gres.


Saat ini untuk Finansial aku dan Netta sudah mapan,   beberapa toko dan mami juga memberikan beberapa kontrakannya untuk Netta.


Mami akhirnya sadar, kalau harta  hanya titipan yang bisa habis dan hilang kapan saja, tetapi keluarga itulah harta yang paling berharga, mami tidak lagi mendewakan uang  di atas segalanya, ternyata bagus juga ia di  beri teguran hidup sama Tuhan.


Mami  berubah, ia hidup selayaknya orang tua dan oppung yang baik untuk cucu-cucunya,  doanya  saat ini hanya pada kami berdua berharap Netta melahirkan cucu panggoari untuknya.


Kembali pada kami dan Netta yang sedang duduk membahas hadiah rumah untuk tulang Gres.


“Kata ito Rudi, bapa Uda akan ulang tahun bulan depan dan arisan akan di adakan di rumah mereka, aku ingin kasih hadiah, apa abang ingat saat aku berjanji akan membalas kebaikan bapa uda?”


“Iya, aku dengar saat di kampung.”


Aku dan Netta sepakat akan membelikan satu rumah untuk tulang kami Gres, bulan depan tulang akan ulang tahun.


“Lalu kita akan beli di daerah mana ya Dek?”


“Daerah Bekasi juga Bang, biar gak  jauh dari sekolah adik-adik itu,” ujar Netta.


Aku setuju, apa yang aku pikirkan ternyata dipikirkan Netta juga,  akhirnya kami sepakat untuk mem belikan satu rumah  untuk tulang Gres.


Netta sudah berkordinasi dengan Lae Rudi yang tinggal di rumah, menurut Laeku  rumah kontrakan yang tulangku tempati  kurang besar untuk mereka. Apalagi Gres anak pertama tulangku memasuki usia remaja, akan lebih bagus punya kamar sendiri.


Besok harinya Lae Rudi mampir ke rumah kami setelah selesai tugas.


“Ini ada Lae, cobalah di lihat dulu.” Memperlihatkan beberapa foto dari ponselnya.


Aku mencoba melihatnya mempelajari apa kira-kira  mobil truk masuk ke dalam gangnya atau tidak.


“Tapi, kalau bisa jangan masuk gang Lae, biar bapa uda  buka usaha sekalian,” ujarnya.


Setelah duduk beberapa  menit, Netta sibuk di dapur, sementara kami sibuk mengobrol. Setelah hampir satu Jam ternyata Netta masak.


“Kita makan dulu ya Ito,” ujarnya duduk di samping lae Rudi.


“Memang kamu masak Dek?” Tanyaku.


“Ya.”


“Ayo Lae.” ujar ku berdiri.


“Tapi aku baru makan gorengan tadi ito.” Lae Rudi menepu-nepuk perutnya.


“Kalau datang hula-hula ke rumah itonya wajib makan, kan, itu yang dibilang mama ito, dan mama kita selalu  memberi nasihat itu padaku “


“Olo ito, ipe taho.”


(Iya Ito, ya sudah ayo makan)


“Kapan masaknya Dek, perasaan cepat bangat.”


“Pakai tenaga ekstra, belajar dari  mama setiap kali ada tamu datang ke rumah kami wajib makan, apa lagi yang datang hula-hula,” ujar Netta.


“Tapi lae kan belum berkeluarga Dek.”


“Walau  di belum menikah tetap saja dia hula-hula kan?”


Jadi,  di rumah  ibu  mertuaku jika ada tamu datang, apa lagi bukan dari kampung yang sama ibu mertuaku, akan buru- buru menangkap ayam peliharaanya dan dipotong,  selalu memberi mereka makan sebelum pulang, apa lagi yang datang atau hula-hula.


Hal itulah yang selalu di terapkan  Netta di rumah tangga kami, baik kali ini, saat  Lae Rudi datang ke rumah, Netta buru-buru memasak, padahal  ia baru pulang dari rumah sakit.


‘Arnita dan Kak Eva harus banyak belajar dari Netta’ ucapku dalam hati.


Netta melaksanakan semua poda Batak, ia sangat sopan dan hormat sama Lae Rudi, ia selalu memanggil dengan sebutan’ ito’


Tidak panggil nama.


“Jadi bagaimana ito? Kalau bisa sih bulan ini saja kita  beli, dan kita renovasi biar bisa bulan depan kita kasih ke bapa udah saat arisan,” ujar laeku.


“Bisa Lae, nanti aku akan minta orang kantor untuk mengebut pengerjaannya, kita pastikan dulu harganya berapa.” ujar ku.


Lae Rudi menelepon yang punya rumah, memastikan harga jual yang ditawarkan.


“Lae, aku tambahin segini saja Ya, buat rumah bapa uda.” Lae Rudi ingin membuka tas ransel memiliknya.


“Jangan Lae, kalau yang ini  biarkan aku sama ito mu dulu.”


“Iya Ito, aku melunasi hutang janji pada bapa uda,” ujar Netta.


Setelah  Lae Rudi memberitahukan satu rumah yang di jual di pinggir jalan,  kami bertiga menemui yang punya rumah dan kesepakatan jual akhirnya berjalan lancar. Rumah lama itu akan kami renovasi jadi rumah tinggal, dan sekaligus tempat usaha untu Tulang Gres.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)