Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menjauh sementara


Maafkan aku kalau aku salah Bang,”


kata Netta.


Iya ampun selama ini ia tidak pernah mencintaiku, perhatian yang ia berikan padaku hanya sebuah kewajiban sebagai seorang istri, bukan karena ia mencintaiku,


“Apakah orang sepertiku tidak pantas di Cintai. Ta?”


“Maafkan aku,”


kata Netta lagi


“Aku tidak menyuruhmu meminta maaf, aku hanya bertanya padamu, apa aku tidak pantas dicintai, apa kesalahanku tidak bisa di maafkan lagi Ta?”


“Aku tidak bisa menjawabnya untuk saat ini.


Aku tidak bisa bilang aku mencintaimu bang, saat wanita pelakor itu masih muncul dalam rumah tangga kita, akan sulit mempercayaimu bang,” wajah Netta terlihat berat, garis-garis kekecewaan itu membekas di wajahnya.


“Itu artinya cinta dan perasaanku selama ini bertepuk sebelah tangan?”


“Maafkan aku, berikan aku waktu untuk bisa mempercayaimu bang dan saat waktunya tiba, aku akan menyerahkan hatiku sepenuhnya untuk abang.”


Netta menatapku hanya sekilas, ia juga tidak yakin dengan ucapannya sendiri, ia bahkan tidak mau menatap wajahku, mempercayai orang lain sepertinya hal yang sulit bagi Netta.


Mendengar hal itu niatku ingin pergi semakin yakin, kenapa masalah yang satu belum selesai aku tuntaskan.


Tapi masalah baru datang lagi, ini masalah beruntun untukku.


Aku terdiam, mencoba memenangkan pikiranku, menenangkan jantung yang semakin ber- irama tidak beraturan.


Terkadang kebenaran itu sangat menyakitkan, jika sudah seperti ini, aku menyesali menanyakan itu pada Netta.


Dulu saat pertama bertemu Netta di kampung , ia hanyalah seorang gadis kampung, terlihat dekil, walau ia berbeda dari teman-temanya.


Tapi saat itu, karena ia dari kampung, aku pikir akan mudah menaklukkan hatinya, mengingat aku punya segalanya yang bisa aku banggakan sebagai seorang lelaki.


Aku kaya, punya karier yang sudah mapan, seorang direktur dan punya segalanya, yang di butuhkan setiap kaum hawa, wajahku juga tampan, aku pikir hanya mengandalkan itu saja aku dapat menaklukkan hanya sebuah jentikan tangan.


Tapi Netta tidak menginginkan apa yang aku punya, ia ingin mencari untuk dia sendiri dengan sekolah tinggi, menjadi seorang dokter, itu impiannya,


Aku miliki segalanya, tapi ia cuek dan tidak perduli dengan apa yang aku miliki, ia tidak pernah meminta apapun dariku, kalau bukan aku yang memberikannya.


Aku memiliki wanita lain, ia tidak perduli juga saat itu , aku pikir ia tidak mengetahuinya, tapi ia mengetahuinya jauh sebelum pernikahan kami, ia bisa bersikap tenang dan menerima semuanya secara sabar kuat. Bukanlah hal yang mudah untuk melakukan itu.


Tapi Netta wanita yang sangat berbeda, aku tidak tahu berapa lapis kulit yang membungkus hatinya hingga ia bisa kuat menjalani ini, saat semua yang pahit yang ia alami, ia bisa jalani dengan sabar.


Perlakuan Mami yang boleh di bilang sangat kejam, ia bisa menerimanya, ia tidak pernah membantah apa kata Mami, baik dengan Arnita, hinaan dan cacian ia telan semuanya.


Tapi kenyataan bahwa ia tidak perduli pada perasaanku membuatku merasa bodoh.


Suasana menjadi hening saat ini. Netta diam aku sibuk dengan pikiranku sendiri.


“Aku akan berangkat besok ke Papua Ta, mungkin pagi-pagi aku sudah berangkat, ini kunci mobil, kamu pakai saja untuk kuliah,” kataku memberikan kunci mobilku padanya.


“Abang sama siapa di sana?”


“Itu pertanyaan untuk kekhawatiran apa hanya untuk basa basah-basi?”


sikapku seperti anak kecil, aku seperti anak kecil yang butuh perhatian?


Kalau Netta bilang jangan pergi dengan alasan ia tidak ingin ia jauh dariku, aku akan sangat senang, aku tidak akan pergi.


“Anggap saja aku mengkhawatirkan mu Bang,”


kata Netta.


“Aku ingin bekerja dengan anak teman Papi, ia punya proyek di Papua, ia memintaku yang memegang karena aku basicnya dari sana sudah berpengalaman.


Netta diam, Padahal aku cerita seperti itu berharap Netta melarang ku pergi.


“Kadang hidup seperti itu bang Nathan, kadang di atas dan terkadang di bawah, maka pada saat di atas ingat melihat ke kebawah, dan jika saat dibawah ingatlah karena setiap orang yang ingin naik berlari selalu di mulai dari awal,”


kata Netta.


“Mungkin aku akan lama di sana, kamu tidak apa-apa di rumah, kan?”


“Tidak apa-apa, aku akan memberanikan diri, nanti,”


kata Netta.


Tiba-tiba ia bilang mau memberanikan diri padahal biasanya ia bilang takut kalau ia aku tinggal di rumah.


Aku berpikir Netta juga ingin aku pergi.


“Baiklah, kalau kamu bilang seperti itu, aku akan membereskan semua yang akan aku bawa besok,”


kataku meninggalkan Neta duduk sendirian.


Menyusun semua dalam satu koper besar, semua yang aku perlukan, aku akan tinggal di sana mungkin beberapa lama, itu mungkin keputusan yang terbaik untuk kami.


Aku bisa menenangkan diri, jauh dari Netta dan jauh dari Mami, dan jauh dari Mikha juga, mungkin jalan yang terbaik untuk saling introspeksi diri.


Mungkin, kala aku pergi Mami tidak lagi mendesak ku menikahi Mikha, Mikha wanita yang mengaku mengandung anakku, padahal itu anak dari orang lain, aku beberapa kali sering melihat ia jalan degan Juna. Mungkin kalau itu anakku ceritanya berbeda, tapi sayang itu bukan benihku.


“Ada yang bisa aku bantu bang,” tanya Netta terlihat tulus menawarkan bantuan.


“Tidak usah, aku bisa sendiri,” Aku kecewa saat Netta tidak ada niat mencegahku untuk pergi.


“Boleh aku cek kopernya, memastikan abang membawa semua yang di perlukan?,”


“Hentikan, hentikan basa- basi itu Ta, aku tidak menyukainya, kamu senang kalau aku pergi kan?,” aku kadang merasa seperti wanita yang datang bulan jika berhadapan dengan Netta, kadang bisa marah-marah tanpa sebab.


“Aku capek berdebat bang Nathan, abang yang bilang kalau ingin pergi, aku hanya mendukung abang, sekarang masalahnya dimana?”


“Iya, aku pergi biar kamu puas melakukan apa yang ingin kamu lakukan di rumah ini, tidak ada lagi yang mengusik mu, aku pergi aku tidak tahan mendengar dengan tuduhan mu, aku akan buktikan pada kamu, kalau aku tidak rusak, aku sehat, jika perlu aku akan Hamili wanita di Papua sana,”


kataku, seakan memancing perkelahian.


Netta menarik nafas panjang, menghembuskan ke udara, matanya menatapku dengan lembut.


“Aku berharap abang sehat-sehat di sana, jaga kesehatan, jaga pola makan, kalau aku boleh berpesan jangan merokok.”


“Itu bukan urusanmu,” kataku marah.


“Bang jangan seperti itu, aku juga bukan robot, aku juga bisa marah dan kecewa, aku hanya mencoba menahan diri selama ini.”


“Itu permintaan kamu, kamu sendiri menjadikan dirimu seperti robot, kamu tidak bisa percaya pada orang lain, kamu yang tidak mau membuka diri pada siapapun.”


“Buka untuk siapa?


Untuk abang yang memiliki wanita lain?


Apa untuk Bou yang selalu merendahkan ku, untuk siapa?” Netta menatapku, suaranya meninggi, wajahnya memerah.


“Jadi, buktikan kalau abang bisa aku percaya.”


“Baiklah, keputusanku untuk menjauh sementara waktu mungkin hal yang tepat, kita berdua bisa mengkoreksi diri masing-masing.


Aku akan kembali nanti saat kamu sudah siap menerimaku, aku akan menunggu kamu bersedia, menerimaku kembali,”


kataku penuh harap.


Bersambung...