
Salahkah Aku Membenci Ibu
Apa yang di lakukan tante, telah melukai hati semua anak-anaknya, semua hal gila yang di lakukan tante, aku berpikir berawal dari Candra yang tidak jadi menikah dengan Netta.
Padahal sebelum Netta kembali dari Jerman, ia masih normal, maksudnya tidak separah belakangan itu, tetapi rasa iri dan cemburu sama mami, mulai menggerogoti hatinya, di awali saat ia tahu kalau aku dan Netta masih sah sebagai suami istri, lalu di kampung semua orang juga menekannya karena prilakunya yang suka melebihi batas.
Tetapi semua kelakuan tante semakin terungkap satu persatu, aku sendiri tidak pernah menyangka kalau tante sampai sejauh itu bertindak. Bapa uda mulai terbuka pada papi tentang istrinya.
Saat pulang dari kampung ,ternyata tante mulai gencar mencari jodoh untuk Candra, jodoh yang punya jabatan, belakangan ini baru terungkap tante katanya pernah meminang seorang guru untuk Candra, hanya karena rumahnya sederhana dan orangtuanya petani di kampung ia membatalkan sepihak perjodohan mereka.
Lasria juga akhirnya mau menceritakan semua itu pada mami dan papi dan anak-anaknya yang lain, tidak terlalu perduli lagi walau mama mereka di bicarakan, Lasria selalu membela bapa uda, ia tidak suka ada orang menyalahkan bapaknya.
Ternyata dari semua anak-anak tante, Lasria yang paling membenci tante bahkan enggan untuk memaafkan karena satu hal besar ….
Candra hanya diam, ia juga tahu kalau mamanya beberapa kali meneleponnya meminta untuk menemui seorang wanita pilihan mamanya, pernah sekali ia mau melakukannya demi menghargai tante, tetapi bukannya berhenti malah tante selalu sibuk mencari jodoh, namun yang di dari kalangan orang kaya.
“Pernah juga mama memintaku memperkenalkan dosenku, setelah aku kenalkan, hanya karena mama kakak itu tukang sayur di pasar, mama langsung tidak mau. Aku malu, padahal kakak itu baik samaku, kami juga satu Gereja,” ujar Lasria.
“Padahal mamanya dulu sudah senang sama si candra, tetapi tiba-tiba, dia berbibir manis, mengatakan kalau si Candra sudah ada calonnya, padahal karena inang itu jualan sayur, jualan sayur pun dia di pasar biar adanya kegiatannya, anak-anaknya semua sukses,” ujar bapa uda.
“Lalu kenapa di tolak saat itu?” Tanya Mami.
“Dia ingin orang kaya yang sempurna”
“Maaf ya inang Tivani … bukan ingin mengungkit masa lalu kalian hanya ingin berbagi sedikit pengalaman dengan kakak ni.
Keluarga selalu menyalahkan ku kenapa tidak tegas, kenapa tidak dipukul saja istrinya biar ga macam-macam, itulah yang selalu orang katakan padaku.
Sebenarnya bisa saja aku memberi mama anak-anak ini pelajaran dengan kekerasan fisik. Tetapi imbasnya ke anak-anak, kalau mereka melihat kami bertengkar tiap hari, mereka akan akan melakukanya pada istrinya,” ujar bapa uda.
Pemikiran bapa uda ada benar juga, dia lelaki yang memikirkan mental dan kedamaian keluarganya, bahkan rela membuang harga dirinya sebagai lelaki, itu yang di lakukan bapa uda selama ini.
“Jadi Las … biarpun seperti itu tante, maafkanlah dia, ayolah kita jenguk mama kau lagi, kemarin waktu mamak tua ke sana dia mencari kau,” ucap mami lagi.
“Iya Dek pergilah, kau kan anak perempuan, tidak baik dendam sama mama, kamu juga nanti akan jadi ibu,” ucap Riko, mendengar hal itu Lasria terlihat sangat marah.
Ucapan Lasria membuat kami semua terkejut dan tidak menduga, gadis penyabar dan penurut itu selama ini menyimpan dendam sama tante.
“Aku sepertinya tidak akan memaafkan mama mak tua dan aku tidak mau menikah secara adat”
“Haaa? Kenapa jadi begitu.” Kak Eva kaget.
“Tokka songoni inang dan boi songoni”
(Gak bagus ngomong seperti itu inang) ujar mami.
Ketiga abangnya menatap Lasria dengan tatapan bingung, karena mereka bertiga, begitu sayang sama si Lasria, karena ia anak bungsu dan satu-satunya perempuan di rumah di keluarga.
“Nang … apapun kesalahan orangtua kita, jangan membawanya dalam hati,” ujar mami.
“Apa yang dilakukan mama sama bapak di depanku, tidak akan pernah melupakannya, emosi bisa, tetapi jangan melebihi batas”
“Boru … itu karena saat itu mama lagi emosi,” ujar bapa uda meredakan amarah Lasria.
“Memang mama mau melakukan apa?” tanya mami lagi.
“Haaa!?” Mami kaget, bukan hanya mami, kami semua terkejut”
“Salah aku Mak Tua, kalau aku membenci mama?”tanya Lasria lagi.
“Memangnya seperti apa yang mama lakukan?”
“Itu hanya emosi sesaat, Nang.” Bapa uda membela istrinya.
Tetapi Lasria sudah terlanjur merasa sakit hati pada tante, menurut cerita Lasria malam itu bapa uda bertengkar sama bapa uda karena ia dinasehati agar jangan pamer di media sosial, meminta tante fokus mengurus keluarga, tetapi katanya tante marah, ia menarik kursi roda bapa uda ingin mendorongnya dari tangga. Kalau saja Lasria malam itu tidak menahan, mungkin bapa uda sudah meninggal.
Sekarang kami mengerti kenapa gadis muda itu, memilih keluar dari kampusnya dan memilih membawa bapa uda keluar dari rumah mereka, ternyata kelakuan tante belakangan semakin tidak terkendali menumbuhkan dendam di hat putri mereka.
“Kalian tidak tahu itu kan!” Dia menatap Edo.
Karena Edo orang selama ini menyalahkan bapa uda karena ia berpikir bapa uda tidak berani sama istrinya.
Riko, Candra, Edo terkejut mendengar pengakuan Lasria.
“Kami tidak tahu Dek, maafkan kami,” ujar Edo merasa bersalah.
“Ya, kalian bertiga tidak tahu, karena kalian bertiga sibuk memikirkan diri kalian sendiri, tetapi apa kalian tahu apa yang dialami Bapak? Dia tidak mau menceritakan semuanya karena tidak ingin kita terluka, apa kalian pikir bapak itu lelaki takut istri?”
“Las, sudah donk … tadi kan kita sudah baik-baik semuanya, kasihan eda kita ini dia baru datang, dia pasti kaget”
“Kak … biarkan aku keluarkan apa yang ada di dalam hatiku biar aku puas,” ujarnya dengan wajah memerah.
“Bukan hanya kamu terluka, kita semua!” Bentak Edo, ia memang di kenal tegas.
“Ya, abang yang selalu menganggap bapak lemah dan tidak berani sama istri, hingga abang lari dari masalah meninggalkan keluarga sendiri, tetapi apa abang tidak pernah berpikir bagaimana perjuangan bapak untuk kita dia menahan semua kepahitan sendiri menghadapi mama kita yang gila itu.
Ia bertahan agar keluarga kita tetap utuh dan demi kebaikan anak-anaknya!”
Suara Lasria seperti orang yang kesurupan, ia menuntaskan semua kemarahannya.
“Las sudah donk Dek, kalau kamu tidak ingin menjenguk tante, tidak apa-apa kita tunggu sampai kamu pulih,” ujar Kak Eva.
“Aku mau bilang sama kalian bertiga … stop menyalahkan bapakku, aku juga mau bilang, aku tidak akan pernah menikah dan aku akan menghabiskan hidupku mengurus bapakku”
Mendengar kemarahan Lasria, Candra merasa sangat bersalah.
“Aku minta maaf Dek, aku berjanji akan menjaga bapak dan kamu”
Suasananya tiba-tiba hening, tidak ada yang berani bicara, ternyata kemarahan seorang pendiam itu sangat menakutkan kalau sekali marah. Lasria gadis yang kalem sangat berbeda dengan Kak Eva dan Arnita yang selalu rame, tetapi dibalik sikap diam Lasria ternyata ia menyimpan kemarahan besar pada mamanya, yang selama ini berlaku semena-mena pada bapa uda.
Ia menolak menjenguk tante, ia lebih peduli sama kesehatan bapa uda, setelah Lasria dan anak-anak lain tidak mau menjenguk tante.
Besok harinya mami dan yang lain pulang dan bapa uda juga ikut pula ng ke Jakarta ia ngin mengunjungi istrinya di penjara untuk pertama kalinya.
Aku tidak tahu apa yang akan dirasakan tante setelah ia tahu semua anak-anaknya menolak menjenguknya.
Bersambung ….