
Di rumah oppung ku ada dua kamar di bangunan belakang, aku memilih turun dan merebahkan tubuhku di lantai ber-alaskan tikar.
Bertemu Netta saat di luar tadi aku berpikir itu hanyalah sebuah ilusi, efek karena aku terlalu merindukannya dan mengharapkannya datang.
Aku pikir, aku seperti dalam adegan film India yang tiba-tiba joget- joget saat turun hujan bersama kekasih setelah ia merasa senang, ternyata hanya bayangan.
Aku berpikir seperti film India tersebut, aku sering melihatnya di rumah karena Mami sangat senang menonton film india.
Merasa otakku panas karena aku paksa berpikir keras, jadi, aku memutuskan tidur untuk meringankan kepala.
Baru kira-kira tiga puluh menit tiduran.
“Tan, tidak makan?” Suara itu mirip Netta, tapi saat buka mata yang ada Tante, aku kembali lemas dan semakin yakin kalau bertemu Netta tadi hanya ilusi, karena senbentar- sebentar Netta hilang.
“Aah … Tante lagi,” kataku kesal.
“Iya emang, kamu pikir siapa?”
“Tidak siapa-siapa,” jawabku memilih untuk bangun.
“Abang sudah bangun?” Netta muncul lagi ia tersenyum sangat manis.
Aku hanya diam, berjalan ke dapur mencari makan untuk mengisi perut yang keroncongan.
“Kamu mau makan Tan, biar Tante yang bikin, nanti kamu tidak tahu ,” kata Tante menarik piring dari tanganku.
“Iya makasih Tante.”
“Kamu kenapa sih Jonathan? dari tadi kamu diam saja,” tanya Tante melihatku dengan tatapan menyelidiki.
Tapi dari semua orang, tidak ada yang menyinggung Netta, maka itu aku diam, menganggapnya sebagai mimpi.
Saat aku duduk makan, Netta duduk di sampingku lagi-lagi tersenyum manis, tatapan matanya membuatku tidak berkedip, aku takut saat aku berkedip ia menghilang.
Saat itu aku seperti orang yang kebingungan, aku tidak bisa membedakan antara ilusi dan kenyataan, sampai detik itu aku belum yakin kalau Netta ada bersamaku.
Netta menjentikkan jari-jarinya membangunkan ku dari lamunan.
“Abang mikirin apa … dari tadi diam saja, apa sakit?”
‘Muncul lagi dah bayang Netta di sini, untuk mengolok-olokku agar bertambah mati.
“Mikirin kamu, kangen kamu,” kataku ketus.
“Abang kenapa?” Tanya Netta menggeleng.
Membuatnya tersenyum, saat ia ingin berdiri lagi aku menarik tangannya.
“Jangan pergi lagi, aku mohon,” kataku dengan tatapan sayu.
“Abang mabuk iya?” Tadi aja aku dicuekin, sekarang gak boleh pergi.
“Aku bukannya cuekin kamu Ta, tapi ini seperti mimpi bagiku, kamu sebenarnya nyata bukan sih ... coba cubit pipiku,” kataku masih seperti orang bodoh, tangan Netta mencubit lenganku dengan keras.
”Aauu sakit ….!” Aku meringis kesakitan.
"Bagaimana Pak Jonathan ....?"
Aku menyentuh pipinya, aku baru percaya kalau itu adalah Netta Ku.
Netta dan teman-temannya yang dulu pada datang, ada yang masih kuliah seperti Netta, ada yang sudah menikah dan punya anak dan ikut suami masing-masing.
“Halo bang Jonathan,” sapa teman Netta yang bernama Sina, wanita yang berkulit gelap dan Wati juga datang, mereka berdua teman-teman akrab saat sekolah dulu, kedua temannya sudah menikah.
Baru juga ingin mengobrol banyak dengan Netta, tapi ia sangat sibuk, ada saja gangguan.
“Netta…!”
Panggil Mertuaku. "Bikinin kopi Nang …! untuk para tamu yang datang."
Netta bergegas membantu dapur, setiap kali aku ingin mendekati, ia sudah di panggil lagi, tidak ada waktu untuk mengobrol berdua. Aku selalu mengekor Netta kemanapun ia melangkah, aku takut ia menghilang lagi.
“Abang duduk saja, aku bikinin teh manis hangat?”
Banyak yang aku ingin tanyakan pada Netta, aku bisa melihatnya saat ini, membuatku sangat senang, ini mungkin pemikiran yang jahat, saat keluargaku menangis atas kepergian oppungku, aku malah bahagia karena dengan meninggalnya oppung mempertemukan kembali dengan Netta, oppung memang sudah tua, masa kontraknya sudah habis di dunia ini.
Tapi saat itu aku memang jahat, saat semua menangisi kepergian orang tua itu, aku malah tertawa bahagia, akhirnya bertemu dengan wanita yang membuatku hampir gila, wanita yang membuatku hampir kehilangan nyawa, Netta istriku …
“Netta ada di sini ya Tuhan … mimpi apa aku tadi malam,” gumamku pelan, saat melihat Netta tersenyum padaku, tidak ada raut wajah marah, membuatku ingin melompat-lompat kegirangan.
Aku bertemu Netta di waktu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
“Bang sini dulu ….! Menangis kau sama oppungmu dulu,” ujar Papi.
“Untuk apa orang sudah mati karena tua di tangisi sih Pi?”
ucapku melihat Netta yang menyajikan kopi untuk para pelayat yang duduk di luar.
“Babami …!” ujar Papi memarahiku.
“Ada hal yang lebih penting dari pada oppung boru Pi,” bisik ku sama Papi.
“Memang apa?”
“Netta … istriku ada di sini.”
“Nanti kan bisa Bang kamu mengobrol sama istrimu, tetapi setidaknya sapa dulu oppungmu,” ujar Papi.
“Bagaimana mau di sapa dia sudah meninggal Pi? paling begunya yang jawab nanti ,” ujarku menolak permintaan papi.
(Begu artinya hantu)
“Amang tahe … lomomma ….,” ujar Papi masuk kembali ke dalam rumah.
Logika saja orang meninggal diajak bicara buat apa? Mami yang lebih aneh saat kami tiba, Mami terus saja ajak mayat oppung di ajak bicara.
“Nungga sonang be ho kan Inong? Nungga malum sahitmi? Unang hacit roham tua au da inong, alusijo au inong .... !”
(Sudah tenang kamu kan Ma? Sudah sembuh penyakitmu? Jangan sakit hati lagi kamu samaku ya Ma … jawablah aku dulu Ma) Itulah arti dari tangisan Mami yang heboh,
marangguk dobar.
(Marangguk dobar artinya Menangis meledak-ledak suaranya)
Mami terus menangis mengajak oppung mengobrol, oppung kan sudah meninggal tidak mungkin menjawab pertanyaan Mami, kalau yang meninggal sudah tua bangat seperti oppung tidak usahlah terlalu di tangisi lagi, cukup didoakan saja, apa yang di lakukan Mami karena merasa bersalah dan menyesal.
Tetapi cukup Mami saja yang melakukannya, aku sebagai cucu cukup mendoakannya saja, tidak perlu ikut mangandungi kayak Mami.
(Mangandungi artinya menangis besar)
Hingga malamnya tiba, Netta dan semua keluarga sangat sibuk, seperti adat Batak pada umumnya, oppungku karena sudah saur Matua (Saur matua: Meninggal tapi semua anak-anaknya sudah menikah dan sudah punya cucu) Jadi prosesi adat atau pesta oppung akan dilakukan Gondang Batak komplit dengan sarune sebelum dimakamkan, sebagai bakti anak kepada orang tua.
Banyak orang bilang adat Batak itu ribet dan menyusahkan orang yang masih hidup. Namun, itu tergantung orang yang memaknai. Tetapi bagi orang Batak, pesta Saur Matua itu, bentuk penghormatan pada orang tua yang sudah meninggal yang sangat bernilai tinggi dan sudah menjadi tradisi.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)