Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kembalinya Anak Yang Hilang


Mohon Maaf Kakak ada kesalahan teknis lagi, publis Babnya jadi dua kali, doakan kakak agar bisa beli alat baru biar publisnya ga kebalik. Harusnya bab ini yang duluan laptopnya eror bab yang harus di belakang jadi ke depan.


*


*


*


Kami semua masih berdiri  di dalam kamar tulang Siregar, melihat Biden memeluk dan berlutut di kaki  bapaknya.


‘Apa sebenarnya yang terjadi, Lae ini, terlihat sayang bangat sama tulang itu’ Aku  bermonolog dalam hati.


Jika dilihat pelukan rindu dan tangisan yang di lakukan Lae Biden, tidak pantas ia disebut Si Mardan, atau Simalinkundang.


Aku semakin yakin kalau istrinya yang tidak suka sama tulang tersebut, sangat di sayangkan jika seorang istri memperlakukan bapak mertuanya seperti itu.


Jika ia bisa berpikir, tidak akan ada suami yang dicintainya, jika tidak ada mertuanya, walau ibu mertua miskin, mereka tetaplah orang suaminya.


“Bah … boasa gabe sip lae, dokkon ma hatam”


(Wah … kenapa jadi diam lae, katakan sesuatu sama anak kita itu,” ujar papi saat tulang itu terlihat sangat syok, seolah-olah tidak percaya kalau anak yang ia rindukan  bertahun- tahun ada di hadapannya.



Netta menuangkan segelas air putih.


“Sattabi Ito, mundur jo Ito … bapa uda minum jo bapa uda,  tarik napas perlahan uda, baru ombusson perlahan”


(Maaf ito, mundur dulu ito … bapa uda minum dulu, lalu tarik napas perlahan dan hembuskann,” ujar Netta.


Kami semua ikut tegang, kami pikir bapa udah diam karena marah, ternyata karena kaget dan syok, tiba-tiba ia merasa rongga dadanya  terhimpit dan susah bernapas.


“Apa yang terjadi Kak?” Tanya Arnita sama kakak Eva, sebagai  mantan perawat ia mengerti apa yang dialami tulang Biden.


“Dia  terkejut  dan jantung memompa  terlalu cepat,a dada tulang itu ikut pasti sakit”


“Kasihan ya, untung Eda Netta cepat bertindak bisa pingsan tadi dia” ujar Arnita.


“Kenapa Nai Paima, apa ito itu sakit?” tanya mami.


“Bapa mungkin terkejut   tidak apa-apa hanya sebentar saja.” Netta  mengeluarkan obat gosok dari saku jaketku, dan mengoleskan ke leher tulang, Biden membantu mengoleskan ke hidung dan tubuh tulang, setelah beberapa menit wajahnya yang menghitam tapi perlahan reda, barulah ia bisa bicara.


“Masihol au tu ho amang"


(Rindu aku sama kamu amang) ujar dengan  mata berkaca-kaca dan mata berca


“Aupe Bapa masihol do”


( Aku juga bapak rindu sama bapak”  Lae Biden itu memeluknya lagi.


“Kalau rindu dijenguklah,  tidak bagus membuat orang tuaku kita menangis karena rindu di masa tuanya,” ujar Kak Eva.


“Ckkk … ! Ikut campur saja.” Lae Arkan yang berdiri di dekat pintu menegur istrinya.


Tetapi apa yang dikatakan kakak Eva memang benar, kalau kita masih mampu untuk beli  tiket pulang Jakarta Medan apa salahnya kita menjenguk orang tua, kecuali kalau hanya makan pas-pasan tetapi yang aku lihat Biden mampu, aku atasannya dan tahu berapa perusahaan memberi gaji tiap bulan.


Tidak ada waktu untuk pulang ... setidaknya pakai telepon untuk melepaskan rindu, karena waktu tidak akan  bisa di putar kembali, jika orangtua tidak ada lagi  baru kita baru merasa kehilangan lalu menyesal, tetapi menyesal tidak akan ada gunanya.


“Eda  …  di salamlah mertuanya masa hanya berdiri saja, suruhlah anak-anaknya memeluk oppungnya, biar hilang rasa rindunya,” ucap Kakak Eva lagi, ia menegur istri Lae Biden yang masih terlihat bingung karena ada  mertuanya di Bali dan di keliling banyak orang.


“Sini Bang, sini peluk oppung kalian,” bujuk Lae Biden pada kedua anak- anaknya.


Saat memeluk kedua cucunya, air matanya kembali tumpah, ia tidak mengeluarkan suara tangisan, tetapi airmata tulang itu menetes deras sangat terharu saat dipertemukan dengan anaknya dan kedua cucunya.


"Oppung ni Fajar sudah ketemu aku sama cucu kita," ucapnya lagi, ia memanggil istri yang sudah meninggal.


Netta keluar, aku tahu apa yang ia dilakukan, pasti bersembunyi lalu menangis, pergi ke kekamar mandi, aku mengikutinya sampai ke  toilet wanita dan benar  …. Walau ia menyalakan kran air, aku bisa mendengar suara isakan tangisannya.


“Bapaku … aupe masihol hian do tuho. Masihol hian borumon bapa,” ujarnya terisak di kamar mandi.


(Bapakku aku juga kangen bangat sama bapak. Kangen bangat putri ini Pak) ujarnya lagi.


Wajah  tulang  Siregar itu, agak mirip sama almarhum tulang Netta, bukan hanya karena kulit mereka sama-sama gosong  kena matahari, tetapi wajahnya mirip sedikit, mungkin saat melihat tulang itu tadi menangis, ia jadi sedih, aku menunggunya beberapa menit, aku mengetuk pintu kamar mandi.


“Hasian …!”


Tidak ingin  melihatnya terlarut dalam kesedihan ,  makanya aku nekat mengetuk pintu kamar mandi, lalu ia keluar, aku tidak ingin menanyakan kenapa dia menangis karena aku sudah tahu jawabannya.


Aku memberinya sapu tangan dari saku celanaku.



“Mau makan di hotel apa di luar?”


“Bareng keluarga saja, bagaimana bapa uda itu?” bibirnya tersenyum tapi matanya berkaca-kaca.


“Tidak tau.” Kami masuk ke kamar itu lagi, Lae Biden masih duduk di sisi ranjang dekat tulang, cuman ada  yang kurang Kak Eva dan istrinya Biden tidak ada.


“Kemana mereka, maksudku di mana Eda Eva?” Netta melihatku.


“Astaga kemarin dia bilang ingin menjambak rambutnya apa dia melakukannya?” Tanyaku berbisik pada Netta.


“Bou, eda kemana?”


“Dia tadi pergi sama istrinya ito ini"


‘Waduh … jangan sampai Kak Eva melakukan hal yang  menyakiti hati orang lain’ aku ingin keluar.


“Biar saja,  itu urusan mama- mama" ujar mami melarangku turun.


“Mi,  jangan sampai Kak Eva  melakukan hal di luar batasan, itu urusan keluarga mereka,” ujarku menarik tangan mami keluar dari kamar.


“Orang sombong seperti itu perlu dikasih  nasihat, masa dia bilang tadi gak mau pulang ke kampung mertuanya karena susah air, itu ... begini, gayanya sudah kayak orang kaya saja, baru jadi SPG doang sudah sombong, kalian saja yang lahir di Jakarta , dari kecil hidup cukup ga sombong, si Eva mana pernah sombong galak doang, gak


kayak wanita itu,” ujar mami marah-marah,


“Memang dia bilang apa Bou?” Tanya Netta.


“Sombong bangat, dia bilang di rumah mertuanya susah air, mandi harus ambil air ke sumur jauh, banyaklah dia bilang, geram bou lihatnya,” ujarnya lagi.


Tidak lama kemudian ia naik dengan wajah  marah.


“Pulanglah kita Pak, aku tidak suka dengan situasi kayak begini”


“Kamu apaan sih, kita baru nyampe juga, minta pulang,” ujar Biden marah, ia melirikku, mungkin dia merasa tidak enak.


“Begini saja kita  makan dulu nanti kita bicarakan lagi,” ucap papi.


Ternyata kakak Eva tepat janji, melihat istri Lae Biden sombong kakak Eva langsung bertindak.


Saat mau makan, aku menarik tangan Arnita.


“Memang diapain sama kakak Eva?”


“Di bikin kena mental sama Kak Eva”


“Memangnya diapain?”


“Dinasehati Kakak Eva sih, hanya kata-kata pedas bangat kena samapi ke hati”


“Pantas dia minta pulang”


 Setelah selesai makan malam, papi mengajak mereka bicara,  sementara teman-temanya yang lain menikmati acara hiburan, papi tidak mau mempermalukan  mereka . Hanya mengajak  mereka orang untuk bicara  bapa uda dan beberapa temanya dan aku Netta juga ikut,


“Mana eda?” tanya Netta?”


“ Eva diskualifikasi takut ribut,” ucap papi, Netta dan mami  menahan tawa.


“Jadi Lae, bapak ini sudah tua, berikanlah waktumu untuk mengurus dia, kamu anak satu-satunya, tiang di keluarga kalian, jangan kamu bikin  lagi bapak ini menangis di hari tuanya, jadi buat inang … sayangilah mertuamu seperti bagaimana kamu menyayangi kedua orang tuamu,  kalian bukan lagi dua tapi sudah satu, bapak mertua anggaplah bapakmu juga"


“Ya, Amang Boru”


“Ingotma Lae, patik Palimahon i songon do didok; Pasangapma natorasmu, asa ganjang umurmu, ditano nanilehon ni, Jahoba Debatam  tu ho”


“Ingat Lae ...  hukum taurat yang ke lima; Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu,” ucap Papi.


Setelah dinasehati papi dengan lemah lembut, dengan kasih, istrinya Lae Biden dapat  menerimanya, ia juga menangis dan minta maaf, dan berjanji akan pulang ke kampung untuk menjenguk bapak mertuanya.


Bersambung