Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Martabe


MARTABE


Martabe Marsipature Hutanabe atau (Memperbaiki Kampung Masing-masing)


Slogan MARTABE Tidak asing lagi bagi suku Batak yang merantau, itulah yang pernah digerakkan Netta dengan almarhum Aldo, tetapi sepertinya  niat baik mereka kurang ditanggapi sama satu kampung Netta, mereka malah meledek Netta mengatakan sok peduli.


Netta  dan Aldo awalnya mengajak mereka melalui media sosial, tetapi banyak senior satu kampung mereka yang menganggap Netta dan Aldo sok jadi pahlawan, bahkan,  salah satu anak yang mengomentari Netta anak tetangga mereka yang dilabrak mami dan tante.


Dulu, karena membaca komentar itulah,  aku marah, meminta Netta untuk menghentikan pengalangan dana untuk memperbaiki kampung mereka. Padahal, menurutku niat Netta dan almarhum Aldo sangatlah mulia, mereka ingin membangun jalan ke kampung tersebut. Karena seperti di ketahui sampai saat ini …  jalan ke kampung Netta ke Dolok Martahan masih rusak, kalau datang hujan jalanan  becek dan  berlumpur.


Mungkin di Samosir,  jalanan sebagian kampung  sudah bagus, tetapi tidak untuk kampung Netta, masih jelek dan rusak, karena hal itulah,  ia punya keinginan besar untuk memperbaiki kampungnya, mungkin kalau anak-anak rantau seperti Netta mau bersatu untuk membangun kampung mereka, aku yakin jalanan akan bagus.


Slogan Martabe itu akan terlaksana, tetapi terkadang niat baikpun yang kita ingin lakukan tidak semua orang bisa menerimanya. Aku berharap niat baik Netta terlaksana, gubernur dan  pemerintah daerah lebih memperhatikan warganya, khusunya fasilitas jalan.


Menurut pemikiran ku, anak rantau di kampung mereka  kurang rasa peduli, padahal banyak yang sudah berhasil, bahkan ada yang sudah jadi pejabat, tetapi mereka malah hanya membanggakan  diri masing-masing, tidak ada niat untuk melakukan pembangunan bergotong royong, sepertinya Netta tidak menyerah, ia ingin mewujudkan impian  mereka berdua sama almarhum Aldo.


Impian untuk membangun jalanan agar lebih bagus lagi, keinginan kedua ingin membangun sebuah klinik agar bisa memberi pengobatan gratis untuk orang kampung mereka.


Kali ini, Netta mewujudkan satu impian tersebut, yakni memberi pengobatan gratis di kampung Netta.


Tadinya aku pikir,  hanya beberapa orang saja yang akan datang, tetapi,  kini,  kursi dan tenda tempat duduk untuk ruang tunggu sudah penuh.


“Wah .. banyak bangat yang  datang, bagaimana ini.” Mami yang duduk  dengan keluarga ikut panik.


“Benar, kataku, kan, bapak Paima,  banyak akan datang, saat pesta saja mereka datang,  masa untuk berobat gratis mereka tidak,” ujar papi.


“Ini di luar dugaanku Pi, aku pikir sedikit tadi yang datang, karena rumah di kampung  ini, rumah jaraknya jauh-jauh”


“Aku yakin ini akan bertambah banyak Lae, soalnya sudah diumumkan di Gereja kemarin,” ujar Lae Rudi,  mereka mulai khawatir, takut Netta kelelahan.


Sampai siang juga orang masih  mengantri untuk periksa, aku  melihat obat-obatan yang  yang kami bawa sudah menipis.


“Kasihan yang menunggu lama tidak dapat obat nanti,” ujar mami, keluarga kami ikut saling membantu untuk memberikan tempat duduk para pasien.


“Tulang, bagaimana kalau tulang kordinasi  lagi sama dinas kesehatan setempat, minta tambahan obat-obatan dan tenaga medis” ucapku sama tulang anggota dewan yang dari Bandung.


Karena sebelum kami melakukan pengobatan gratis , kami sudah minta izin terlebih dulu sama Kepala Desa dan dinas kesehatan daerah.


“Benar juga kamu bere, coba kamu videokan dan foto dulu, biar aku kirim ke pemerintah daerah, aku juga kenal orangnya”


Aku melakukan apa yang diminta tulang, mengambil gambar dan video  orang yang ingin  mendapat pengobatan, setelah tulang menelepon, tanggapan mereka cepat, beberapa jam kemudian sekitar tiga orang dan satu orang dokter dari puskemas daerah datang membantu.


“Ah, Puji Tuhan datang juga bantuan, aku tadi sudah sempat khawatir,” ujar Kak Eva,  kini gantian dulu  yang mengantikan tugasnya  dari pihak puskemas.


“Tuhan tidak akan mempermalukan orang-orang yang akan berbuat baik Nang, percayalah,” ujar nantulang yang dari Bandung.


Natulang dari Bandung juga kerja di Kejaksaan di Bandung dan punya  beberapa teman di bagian dinas kesehatan dan saat nantulang memposting kegiatan sosial yang di lakukan keluarga kami, banyak yang  memberi dukungan bahkan menawarkan bantuan dari rumah sakit Siantar dan Medan,  hal kecil yang kami lakukan ternyata dampaknya  besar untuk orang lain,  begitu banyak orang yang datang untuk periksa kesehatan.


‘Aku berharap si Borneng tidak pingsan, karena dia hanya serapan sedikit’ pikirku dalam hati.


“Ma, naking kakak holan serapan saotik do da”


“Ma, tadi kakak hanya serapan,” ujar Parasian, anak remaja bertubuh tinggi itu, ternyata memperhatikan kakaknya yang hanya makan sedikit tadi pagi.


“Bapak Paima!”


“Apa Inang?”


“Bilanglah dulu sama dokter yang dari puskemas itu, biar digantikan si Netta, dia itu tidak tahan lapar, dia langsung berkeringat kalau lapar,” ujar Ibu Mertua.


Itu memang benar, kalau Netta tidak kuat lapar, badannya langsung mengeluarkan keringat segede jagung. Aku berjalan ke samping Netta.


“Masih kuat tidak Dek?”


“Aku lapar,” bisiknya padaku.


“Ya sudah kamu makan dulu, kan, jadi lucu nanti kalau kamu pingsan di depan pasienmu”


Tidak ingin si Borneng pingsan, aku meminta dokter yang baru datang itu, untuk mengantikan posisi Netta.


“Dok, tolong gantikan  dr Netta, dia mau makan dulu”


“Ok, ok, siap Pak.” Netta berdiri,  benar, ia sudah keringat, lalu ia  makan buru-buru, setelah makan  gantian lagi sama Tivani dan candra, setelah berkerja dari pagi, tidak terasa sudah sore.


“Begini saja yang belum kebahagian, besok pagi datang lagi, kita pakai  nomor antrian,” ujar dokter yang dari puskemas karena mereka juga ingin pulang.


“Baiklah Dok, saya setuju dengan ide dokter, kita lanjut besok,” ujar Candra.


Warga yang belum kebagian periksa tidak keberatan, setelah di bagi nomor urut dalam kertas  mereka pulang, saat  beres-beres  ingin di tutup tidak diduga seorang wanita hamil yang akan melahirkan di tandu datang ke posko yang mau tutup orang tuanya dan suaminya menangis panik.


“Tolong majo amang Dokter”


“Tolonglah dulu Pak Dokter,” ucapnya memegang tanganku.


“Aku bukan dokter ya Inang, tunggu aku panggilkan  dokternya.” Si Parasian memangil Netta dan Candra, semua keluarga sudah pulang ke rumah, tinggal kami di lapangan untuk merapikan untuk dipakai besok lagi.


Netta berlari ke arah tandu.


“Bawa saja ke rumah kami ito, tidak mungkin di lapangan ini … ayo” Netta meminta ke rumah oppung, tetapi tiba-tiba inang mertua datang.


“Ke rumah kita saja Nang!”


Meminta melahirkan di rumah ibu mertua, aku awalnya tidak berpikir apa-apa …  ternyata ada cerita mitos, kalau seseorang yang menumpang melahirkan di rumah kita, rumah itu akan dilimpahkan  berkat atau ikut ketularan punya anak. Aku mengerti tujuan inang mertuaku meminta melahirkan di rumah Netta.


Netta, Tivani dan kakak Eva yang membantu bersalin dan bayi laki-laki lahir dengan selamat.


Kami semua tidak mengenal ibu yang melahirkan, tetapi setelah melihat bayinya lahir dengan selamat, kami semua ikut bahagia, mami sampai ikut menangis.


“Mami yakin, keluarga kita akan kebagian berkat,” ujarnya sesenggukan menatap bayi merah yang di bedong Netta.


“Amin Mi, jangan menangis, nanti sedih  nanti ikut inang itu sedih,” bisikku.


Segala doa dan ucapkan hanya bisa aku jawab dengan  jawaban Amin mudah-mudahan doa kami semua dikabulkan.


Bersambung ….