Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Banjir Ucapan Selamat


 Banjir Ucapan Selamat


Kami masih masih suasana gembira malam itu.


Mami masih menelepon panjang lebar sama edanya mamanya Netta, mereka berdua saling tangis-tangisan.


“Ago  Itoku  …  Bapak Ni Saut, Oppung Ni Saut, Nungga dililit andor be Si Netta. Mauliate Tuhan di Jalo Ho Tamiang nami”


(Ya ampun  Abangku … Bapak Ni Saut, Oppung ni Saut, sudah di berikan keturunan sama Si Netta, Terimakasih Tuhan, karena di terima doa kami) Suara mami memenuhi ruangan saat menangis


“Sudahlah Mi sudah malam ini, ngomonglah sama  nantulangi itu terimakasih … Jangan nangis, jadi ikut sedih nanti kami semua,” bujuk Arnita,


“Jagalah menantumu itu ya Eda, jaga kesehatanmu, banyak makan, jangan capek, kalau perlu cuti lagilah dia, sebulan lagi,” ujar inang mertua.


“Doakan sajalah eda, nanti kami semua akan menjaganya,” ujar mami.


“Doakan kami ya Inang,” ucapku lagi.


“Ya amang, jaga dia ya , jangan capek dulu dia kerja”


“Baik Inang”


Setelah menutup telepon dari Inang, ternyata sambungan  telepon dari Tulang Bandung, mereka semua terkejut, karena saat mereka ada tadi tidak ada yang memberitahukan Netta hamil.


“Terkejut tulang bacanya pesan orang, padahal kami masih di jalam mau pulang ke Bandung, tadi tidak ada kalian beritahukan itu”


“Kami juga baru tahu tullang Netta ingin memberiku kejutan”


“Harusnya kasih tahu kian nya si Netta, biar kami juga kasih beras dan ucapan selamat,” ujar tulang Bandung.


‘Kalau diumumkan itu bukan kejutan tulangku, itu namanya pengumuman’ ucapku dalam hati’


Tetap tidak berani membantah tulang awak, aku  pun hanya mengangguk, saat  Netta tidak memberitahukan kehamilannya sama mereka.


“Maaf Tulang aku pun baru tahu, katanya dia ingin memberi kado spesial tadi”


“Oh, ya sudahlah, sehatlah  si Netta”


“Ya Tulang”


Banyak keluarga yang terkejut saat tahu Netta hamil, karena  mereka datang tapi tidak tidak dikasih tahu.


Malam sudah mulai larut, tetapi kami semua masih duduk mengobrol di rumah mami, seolah-olah kegembiraan dan kejutan yang manis  yang aku terima malam itu awet selamanya.


Aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata bahagia dari mulutku, aku terus saja menatap wajah Netta, saat  ini aku melihatnya semakin cantik. Mungkin itu karena efek aku terlalu bahagia, jadi semua orang yang aku lihat tiba-tiba jadi cantik dan ganteng, walau alis mami malam ini  menyeramkan seperti biasa, melengkung seperti celurit  Madura,  tetapi tiba-tiba aku melihatnya cantik malam ini.


“Sudah istirahatlah kita, biar anak-anak  tidur,” ujar papi.


“Entar saja Pi, kita mengobrol dulu, biarkan para wanita yang tidur duluan”


Papi menyengitkan kedua alisnya karena aku meminta lelaki paru baya itu berdagang  bersama,


“Baiklah, kalian tidur duluan saja, papi mau bergadang dulu sama anakku”


“Tumben ito mengajak papi bergadang biasanya paling malas,” ujar Arnita.


“Ikut boleh gak?” Juna  minta ikut.


“Bapa uda juga”


Para laki-laki duduk minum tuak dan bir.


“Ada apa Mang, kenapa meminta papi untu bergadang?”


“Tidak apa-apa Pi, hanya takut tidur saja”


“Loh … kenapa sakit?”papi menatapku dengan tatapan bingung.


“Tidak aku hanya takut, saat bangun, ternyata aku hanya bermimpi,” ucapku.


Papi mengambil air dan menyemburkannya ke wajahku. “Ini bukan mimpi, sudah… sudah sadar?”


“Aaa … kenap  di siram Pi?”


“Biar kamu  paham apa yang kamu alami saat ini bukan mimpi ini kenyataan”


Memang sikapku terlalu berlebihan, tetapi aku masih  merasa belum percaya, aku hanya mengharapkan sebuah kertas jadwal periksa dokter pada Tuhan saat itu, ternyata Tuhan memberikan kejutan dan hadiah yang besar.


“Sudah ayo tidur sudah malam”


Papi mengajak kami semua untuk tidur, tiba di kamar menatap Netta tidur dengan pulas, aku duduk di sisi ranjang menatap wajah Netta yang tidur dengan tenang.


                                 *


Saat bangun pagi, Netta sudah bangun  lebih awal, seperti kebiasaanya tiap hari, sebelum ia hamil, aku  berjalan menuju dapur di rumah mami, saat semua orang terlelap tidur Netta dan Bi Atun sudah berkutat di dapur.


“Dek … bangun cepat, Mau ngapain?”


“Aku bantuin  Bibi masak serapan”


“Ya ni Bang, Bibi sudah bilang ,biar bibi saja yang  beres-beres sudah biasa”


“Aku sudah terbiasa bangun pagi Bi, dalam otakku, seperti sudah alarm, setiap kali jam lima aku sudah otomatis bangun dan tidak bisa tidur lagi”


“Nanti kamu capek Dek, biar bibi saja,” ujarku mulai bersikap posesif berlebihan, aku hanya takut bayi dalam kandungan Netta kenapa-kenapa.


“Biasa saja bulan kemarin juga begini tidak ada masalah”


“Itu karena aku tidak tahu kamu sedang hamil sudah duduk sini”


“Bang … aku tidak biasa bersikap manja dan tidak pengen di manja- manja, aku akan mengerjakannya kalau aku bisa dan kira-kira mampu,” ujar Netta.


“Tapi waktu itu Kak Ev dan Arnita manja, manja bangat malah”


“Begini ya Bang, setiap orang itu berbeda-beda setiap hamil, ada yang suka mabuk, lemas dan ngidam, tetapi aku tidak. Tapi justru kamu yang mengidam”


“Memang lelaki  bisa ngidam, aku baru tahu”


“Ya, ada kalau itu memang terjadi aku sangat bersyukur dan Tuhan sangat baik samaku”


“Benarkah ada laki-laki mengidam?” Tanya terkejut


Tetapi kalau dipikir-pikir satu bulan ini memang akulah seperti orang hamil, pengen cemilan, pengen makan , suka marah-marah tidak jelas. Kalau memang aku yang harus merasakan siklus ngidamnya Netta aku sedang dengan begitu aku bisa merasakan apa yang dirasakan Netta.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)