Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Akibat marah marah


“Kamu membuatku jijik sih, dari tadi Ngomongin itu mulu.” Kataku tersinggung lagi.


“Ok baiklah, maaf, tidak lagi bang,”


kata Netta menunduk merasa menyesal


Hal yang menyangkut kualitas bibit lelaki, terkadang kalau di tanyakan kebanyakan kaum adam, seperti aku tersinggung dan marah.


Jujur saat itu, aku benar-benar marah dan tersinggung, mungkin untuk Netta itu sudah hal biasa bagi dunia medis.


Tapi bagiku, itu masih hal yang masih tabu dan melukai harga diriku.


Belum juga serapan itu habis, aku sudah berdiri, ingin pergi.


“Abang udahan serapa’nya? Tunggu aku bereskan dulu,”


kata Netta merapikan meja.


“Aku berangkat duluan, saja.”


Netta terdiam menatapku dengan tatapan dalam, wajahnya terlihat bingung dengan sikapku yang uring-uringan.


“Abang masih marah?”


Netta meletakkan wadah yang ia pegang tadi di atas meja.


“Menurut kamu?”


“ Aku sudah meminta maaf Bang, aku tidak akan mengulangi lagi.” Katanya, disini akulah yang bersikap seperti anak kecil.


“Sepertinya benar kata Mami Ta, kamu bakalan sombong kalau kamu sudah jadi Dokter, belum jadi Dokter saja kamu sudah mendikte suamimu.”


Kataku marah.


Mata Netta melongo diam, ia tau kalau aku marah.


“Tapi aku bingung dimana letak kesalahanku?”


katanya dengan raut wajah terlihat menegang, menahan perasaan.


“Kesalahan kamu, kamu menuduhku tidak bisa memberi anak, kamu salah Ta, aku hampir punya anak dulu dari Mikha, tapi kami menggugurkannya, karena saat itu, kami masih kuliah, kamu paham itu?


anak bocah sepertimu tidak paham itu kataku,”


masih dengan nada kemarahan.


Aku melihat butiran kristal itu berjatuhan dari pipi Netta.


Aku merasakan dadaku terasa sesak, aku meninggalkannya dan pergi ke kantor.


Dasar gila, kenapa aku melakukan itu tadi, Kenapa aku mengungkit masa lalu, aku mengingkari janjiku pada Netta, padahal aku sudah berjanji kalau aku tidak akan mengungkit tentang wanita itu, tapi tadi aku melakukannya di depan Netta.


Hampir saja aku di gebukin orang, karena menyenggol bagian belakang mobil yang di depanku,


“Lu, ngapain,


keluar,keluar lu!,”


bentak seorang pria berkepala botak, menghadang mobilku.


Memang tidak bagus, mengendarai mobil dengan dibebani banyak masalah dari rumah, apalagi ini masalah rumah tangga.


Aku terpaksa keluar, karena merasa bersalah, dan karena salahku aku meminta maaf dengan tulus.


“Maaf bang, saya salah saya sangat mengantuk bangat tadi, saya bersedia ganti rugi, mau ganti rugi di bengkel apa disini?” kataku tidak ingin ribut.


Lelaki yang berkepala botak itu terlihat bingung dengan sikap pasrah ku,


“Tidak, aku tidak meminta rugi sama abang, tadi itu kedua kalinya abang menabrak mobilku, abang bisa bawa mobil apa gak?”


Kata lelaki itu merendahkan, padahal aku sudah meminta maaf, aku marah.


“Jangankan bawa mobil, bawa pesawat juga bisa pak,”


sahutku membuat lelaki itu tambah emosi


Para berandalan jalanan bermunculan satu persatu, melihat kami berdebat panas, mata liar mereka sudah mulai mengawasi mencari celah untuk lahan pemasukan.


“Lu, sudah salah ngebacot lagi,”


“Lah situ juga songong, lu mau bayaran berapa lu sekalian gue beli, ayo kita selesaikan di kantor polisi,”


kataku menantangnya


“Tidak, tadinya gue bilang tidak usah di bayar, tadi setelah aku lihat kerusakan parah juga,” katanya setelah beberapa laki-laki mendekatinya dan membisikkannya sesuatu.


“Ok! gue bayar, lu mau berapa?”


“Sepuluh juta saja”


katanya wajah tambah songong.


Tapi aku tidak mau mati konyol di di sini, tanganku menekan nomor Beny meneleponnya diam-diam sengaja membiarkan panggilan tetap on.


“Oh, apa itu sudah cukup, sepertinya kurang,”


“Tidak perlu banyak bacot lu, bayar saja!”


kata seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan yang punya mobil.


Aku tahu orang-orang seperti mereka, mereka itu sampah masyarakat yang berkeliaran di jalanan.


“Tidak, soalnya mobilnya bagus, mobil bagus tentu perawatan mahal,kan?”


kataku melirik bamper mobilnya hanya lecet sedikit.


“Lu bayar saja, seperti yang di katakan lelaki ini,”


kata satu orang lagi yang memakai banyak ukiran-ukiran yang tidak jelas di lengannya.


“Oi… bayar, oi bayar!,”


suara itu makin riuh, sedangkan yang punya mobil hanya menatapku.


“Ok baiklah,”


kata mengeluarkan dompet dari saku celanaku,


Aku berani melakukannya saat aku melihat Beny dan anak buahnya sudah tiba,


“Jadi. Kalian aku ingin membayar 10 juta, iya, hanya kerusakan kecil begini sepuluh juta, bukankah ini pemalakan namanya?”


kataku sudah merekam semuanya dalam ponselku.


Akan aku perlukan nanti untuk membungkam mulut mereka.


“Lu tadi sudah setuju, tahi,”


teriak pria itu memanggilku dengan sebutan kotoran dan memanggilku dengan sebutan doggy dan panggilan pig.


Padahal Beny sudah berdiri di kerumunan, mengunakan jaket kulit jadi seragamnya tidak terlihat, ia datang dengan tiga orang temanya.


Seperti sudah tradisi di Negara tercinta ini hal kecil di bikin heboh, bahaya di jalanan jadi tontonan dan sok ikut-ikutan semuanya menyalahkan padahal tidak tahu inti permasalahannya.


Suara yang meneriakiku semakin banyak, seakan aku sudah menabrak orang sampai mati.


“Biar saya yang bayar,”


kata Beny keluar dari kerumunan, dan membuka jaketnya yang punya mobil langsung pucat pasi.


Kedua lelaki yang ikut mengompor-ompori tadi ikut diangkut ke kantor polisi, tiga orang yang paling lantang meneriakiku melarikan diri, tapi polisi mengamankan salah satu yang paling sangar, dan sempat mengacungkan balok kayu padaku, ia berhasil di bekuk, orang-orang seperti mereka harusnya lenyap dari muka bumi ini, biar aman Ibu Pertiwi.


“Lu itu salah sasaran bodoh!,” kata seorang polisi bawahan Beny menendang salah seorang yang mereka tangkap.


“Urus dia Beny, ia ingin memalakku, mobil lecet sedikit saja ia minta ganti rugi 10 juta, di servis saja tidak sampai dua ratus rebu, ia minta 10 juta pemalakan namanya,”


kataku.


Membuka pintu mobil ingin pergi.


“Lu mau kemana Bro?”


teriak Beny mengambil kunci si tukang palak, biar tidak kabur.


“Gue ada rapat di Kantor nanti pengacaraku yang datang ke kantor polisi, untuk membuat laporannya, tolong ketok kepala si botak itu pakai palu, kebiasaan nanti memalak orang itu,” kataku kesal


“Lu itu salah mencari sasaran bung, hidup lu berat hadapin ia nanti,”


Kata Beny.


Tiba-tiba si botak itu melempem bagai ayam sayur.


“Saya meminta maaf, jangan membawa istri saya kekantor polisi juga pak, saya tadi hanya menggertak,”


katanya, ia meminta maaf padaku


“Minta maaf bang saya salah saya tadinya ingin bawa istri cek ke Dokter,”


katanya memohon.


“Terlambat botak…! Sudah sana lu” kataku kesal, ternyata dari Mobilnya keluar wanita hamil dan anaknya yang masih kecil.


“Tadi juga sudah aku bilang, jangan, tidak usah, bapak sih ngotot,”


kata wanita itu dengan perut besar, mengendong anak yang masih kecil juga.


Hadeh, kalau sudah seperti ini, aku tidak akan tega,


“Sudah! ayo ke kantor polisi, bini lu biar anak buaku yang antar, kalau orang kayak lu di biarkan, akan kebiasaan nanti memalak orang lain dan menipu orang lain dengan cara memaksa dan pakai kekerasan, yang tadi gerombolan kamu kan?”


kata Beny tegas. Membawanya kekantor polisi dan istrinya diantar ke rumah.


Aku membiarkan Beny menyelesaikan tugasnya, walau hati sedikit merasa iba pada Istrinya, tapi polisi memang tidak boleh lalai, siapa yang tahu itu istrinya apa bukan atau penipu juga.


Ah sudahlah, ini semua karena Netta membuat masalah pagi-pagi, membuat semua ini terjadi.


Menarik nafas panjang sebelum menjalankan mobilku.