Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Pesta Adat


Arnita di hina dan di rendahkan banyak orang , pada akhirnya lelaki yang pernah mencampakkannya dengan putranya  bertobat dan menikahinya .


Mami semakin pulih setelah melihat rumah tangga anaknya bahagia.


Beberapa bulan kemudian saat ada acara di rumah mami, kami di undang datang ke rumah mami, boru Nainggolan itu sudah tertawa lebar saat melihat cucunya  bermain.


‘Terimakasih akhirnya keadaan mami  semakin pulih’ ucapku dalam hati.


“Mari Ito Eda duduk biarkan aku saja yang mengerjakannya,” ujar Artnita saat Netta ingin membantu di dapur.


Setelah di ajarin Netta beberapa waktu lalu tentang adat batak dan partuturon, akhirnya ia melakukan sesuai dengan adat Batak, di mana kalau anak laki-laki  selaku  hula-hula, harus di hormati sama saudara perempuan


(Hula-hula : Saudara laki -laki)


Arnita tidak lagi panggil nama padaku setelah ia menikah dengan Juna,  ia  panggil ito, saat berada  di rumah mami sebagai boru, maka ia  yang jadi pelayan, dan aku sama Netta sebagai anak raja yang duduk untuk di layani, saat ini Arnita marhobas pakai sarung ia sibuk di dapur.


“Kalau Juna apa tugasnya?” Tanyaku pada Netta .


  Netta menyebutnya. Mamereng Parhundulna artinya ( Di lihat di pihak mana posisinya  pihak suami apa pihak Arnita)


“Saat ini mereka berdua Hela dan boru sebagai parhobas,” ujar Netta.


Jika Arnita ke keluarga suaminya atau Sitinjak maka ialah yang akan di layani, karena saat ini ia jadi Boru atau anak perempuan maka ia akan melayani.


Netta bukan hanya pintar dalam pelajaran, ia juga pintar dalam hal adat istiadat, lahir dan  besar di Samosir membuatnya tahu banyak tentang adat Batak.


Wanita cantik inilah yang saat ini yang  banyak mengajari kami, aku, Kak Eva, Arnita lahiran anak Jakarta, tidak mengerti adat Batak, kami Batak dalle,  tetapi setelah menikah dengan boru Nainggolan ini, aku banyak diajari olehnya, bukan hanya aku Nita, Kak Eva,  bahkan belajar juga darinya.


Saat di rumah mami seperti ini …  Juna sebagai hela atau menantu laki-laki, ikut   marhobas sama dengan istrinya Nita, ia  tampak bingung saat  di minta melakukan ini dan itu, ia anak orang kaya dan  anak satu-satunya  di keluarganya yang selalu di layani kebutuhannya.


Tetapi menikah dengan Nita  dan masuk ke dalam keluarga besar Situmorang tentu akan    berubah  hidup Juna, dulu kami berdua berteman lalu pernah  menjadi musuh besar juga, aku sampai sempat menghancurkan hidupnya, tetapi kini Juna lelaki Manado berwajah tampan  itu,  jadi laeku atau adik iparku,


Surat takdir hidup memang tidak ada yang tahu,  dari awal pernikahan sampai beberapa bulan aku memang tidak pernah mengobrol dengannya, terkadang aku masih merasa panas saat mengingat apa yang di lakukan padaku.


Tetapi belakangan ini aku sadar lagi, aku juga bukan orang baik di masa lalu, jika Netta istriku bisa memaafkan ku dan bisa menerimaku dengan baik, kenapa aku tidak bisa memaafkan orang lain? Itulah yang membuatku akhirnya memaafkannya.


Ia mendekat saat aku bermain dengan putranya di  dekat kolam renang, putra Juna semakin hari semakin mirip dengan Juna, cucu satu-satunya di keluarga Juna . Karena itulah ia diperlakukan sangat manja sama opa dan omanya.


“Tan … kamu masih marah, iya?”


“Eh … kamu mau di pecat jadi menantu iya?”  menatapnya.


“Kenapa?”


“Kamu tidak boleh panggil  dengan nama lagi,” ujar Arnita


“Lalu?” Juna menatap istrinya dengan bingung.


“Kamu harus panggil Lae,” ujar Arnita.


“Oh …  gitu.” Ia  melirik Papi yang  duduk di teras.


“Kayaknya bangga bangat Bang,” ujar Netta yang tiba-tiba datang dari belakangku.


“Bangga dong, soalnya aku ini Hula-hulanya sekarang,” kataku lagi.


“Apaan itu hula-hula?” Juna menatap kami dengan tatapan penasaran.


“Jadi level kamu sama suamiku sama dek,” ujar Kak Eva ikut-ikutan datang.


“Suami Kakak juga panggil Lae sama Jonathan?”


“Eh … panggil nama lagi, gue geprek juga lu,” kataku bercanda.


“Gak  … maksudku lae,” ujarnya meralat.


Kami tertawa melihat wajah  Juna yang bingung, ia mulai terbiasa dengan  semua  kebiasaan  kami, termasuk suara Kak Eva yang seperti pakai speaker kalau lagi ngomong


 Di keluarga kami hanya Netta yang suaranya lembut dan pembawaannya tenang dan berkelas, istriku layak  dapat julukan  boru Batak langka, jika  boru Batak kental dengan ciri khas  dengan suara  keras, dan pipi marsuhi-suhi.


tetapi tidak untuk istriku Netta, ia lembut dan cantik dan sangat baik. Aku berharap apa yang jadi impian kami bisa terwujud. Aku sangat berharap bisa jadi seorang bapak.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)