Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Mendapat nasihat -nasihat dari keluarga


“Memang kamu makan sirih?’ Tanya mama tua  judes itu sama Netta.



Visual Netta


“Makanlah Bou.” jawab Netta sembari membuka gajut tempat siri mama tua itu, aku hanya melihatnya mencampur  kapur dan sedikit tembakau dalam daun sirih lalu dilipat dan dimakan di makan sedikit buah pinang.


“Astaga itu apa rasanya?” Tanyaku melihat mulut Netta penuh dengan  cairan merah.


Ajaipnya, Netta meneleannya.


“Makan sirih banyak khasiatnya Bang, apalagi untuk wanita,” ujar Netta.


Melihat Netta makan siri mami dan tante Ros ikut-ikutan selalu saja kedua kakak beradik ini seperti itu.


“Boasa dan sian naking digagat hamu, dung diallang si Netta diallang hamu, habis jadina debban ki”


(Kenapa tidak dari kalian makan sirih, setelah dimakan si Netta baru kalian makan) ujar mamak tua itu merepet, tetapi mami dan tanter Ros bersikap bodot amat, mereka sudah tahu kalau kakak sepupu mereka seperti sikapnya.


“Bagaimana cara bikinnya Dek?” Tanya tante Ros sama Netta.


Netta meracik untuk tante Ros, ternyata mami juga tidak tahu cara mengatur porsinya.


“Bou juga tidak bisa.” Mami menyodorkan daun siri itu sama Netta.


“Aaah akka parhuta sian dia ho sada-sada mangatup demman pe so diboto”


(Eee … entah dari kampung manalah kalian satu-satu,  meracik sirihpun tiddk tahu)ujarnya marah-marah lagi.


Tetapi kali ini aku menahan tawa  melihat kelakuan ketiga borneng ini, mereka bertiga duduk  berjejer sama-sama makan siri dengan  tubuh menegak dan kepala menatap lurus ke depan terlihat seperti robot, mendengar  mamak tua itu marah-marah mami mengedipkan mata sama tante Ros dan tante, menyenggol Netta mereka bertiga sama-sama diam menahan tawa. Aku tersenyum melihat kekompakan mereka bertiga menghiraukan ocehan mamak tua.


“Biarkan jangan hiraukan dia memang cerewet,” bisik mami sama Netta, lalu mereka menahan tawa sambil makan siri.


Saat aku menoleh ke depan  diam-diam  papi tersenyum melihat kearah mami, ia menatap istrinya penuh cinta, ini pertama kalinya papi menatap mami seperti itu setelah kami menikah.


Tidak  lama kemudian acara  memberi mereka makan di mulai,


Candra diminta menyuapi   Tivani dan begitu sebaliknya, mereka berdua mendadak Jinak. Tivani sepertinya  merasa  bersalah dan malu pada Candra setelah tahu siapa dirinya, sementara Candara tidak marah pada Tivani, tetapi ia menatap sinis sama mamanya.


Entah apa yang ia pikirkan.


Sederetan acara mereka ikuti tanpa membantah, melihat sikap Tivani yang mendadak jinak tante dan tulang yang ikut dan menyaksikan bagaimana sikap asli Tivani terlihat saling berbisik.


Aku merasa tidak tenang melihat tatapan Candra saat semua keluarga saling berbisik.


‘Aku berharap rencana uda itu tidak diketahui merek semua, kasihan Candra ia pasti merasa malu saat ini’ ucapku dalam hati.


Acara makan sudah selesai , saatnya mendengar kata-kata nasihat bagiku pribadi, inilah momen yang paling menjenuhkan, semua keluarga memberi nasihat, tetapi terkadang nasihatnya itu-itu saja yang diulang-ulang, dari orang satu ke orang lainnya tetapi terkadang panjang kayak jalan tol, terkadang ekor sampai sakit kelamaan duduk, untuk mendengar   nasihat itu. Aku dan Netta sudah kenyang merasakan itu.


Kini giliran tante yang mandok hata, atau mengucapkan sepatah dua kata, seperti biasa ia akan  bersikap sombong.


“Sebenarnya, acara seperti ini tidak perlu, karena tidak ada -apa sama menantuku, dia hanya pulang ke rumah orang tuanya, dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri saja”


“Ehe allangma tapei, so iboto perjuangan halak ito menjemput  menantu mu yang kaya itu”


(Eee … makanlah tape itu, kamu tidak tahu bagaimana perjuangan ito, bagaimana menjemput menantumu yang kaya itu) ujar tante Ros merepet tak karuan.


“Bah nungga! Dihojot”


(Lah … sudahlah ! Digas) Bapa uda, suami tante Ros  menegur istrinya, uda suami tante marga Pandiangan jarang ikut, karena uda jaga toko agen milik  mereka, tante buka  toko agen kebutuhan pokok di Bandung, ekonomi tanteku ini juga lumayan, tapi ia tidak mau pamer, seperti mami dan tante Candra, dan yang paling aku suka orang baik dan suka bercanda, tante Ros juga setiap kali ada acara keluarga tidak pernah absen, walau  ia harus datang sendiri dari Bandung.


“Ya, kan, bapak Paima, kamu lihat sendiri saat kita ke rumahnya”


Aku hanya mengangguk tidak ingin memperpanjang.


“Oloma  … nungga diceritahon sian nabodari, alai annommai hatai muse”


(Ya … sudah kau ceritakan itu semua tadi malam, tapi nantilah  bahas lagi) ujar uda, ia tipe laki-laki yang kaku.


Terkadang aku berpikir tanteku sangat baik, tetapi dapat suami kayak udam otoriter. tetapi tante sama mami orang yang  cerewet sombong dapat suami yang super baik, seperti papi dan bapa uda, tetapi itulah, jodoh tidak akan harus sama karakter.


“Jadi, Tivani aku yakin pasti dia akan pulang  ke  rumah kami, tanpa harus di jemput sebenarnya, karena Candra yang memaksa orang ito kembar, ito Bandung  dan yang lainnya menjemput. Dia kangen mungkin sama istrinya. He … he.” Tante tertawa garing.


“Eheee … marsipalesem maho”


“Eee … pura-puralah kau) ujar Tante Ros, tante yang kepanasan melihat tante Candra berakting seperti itu, padahal semua keluarga sudah tahu apa yang terjadi pada pernikahan Candra.


Justru semakin ia berbohong menutupi semuanya yang terjadi, semakin ia akan tenggelam dalam kebohongan sendiri, hingga suatu hari, semua tidak terbendung dan meledak.


Tante tidak tahu ada kata istilah seperti ini;


‘Sada do mata mamereng, alai saribu baba makkatahon’


(Satu mata yang melihat kejadiannya tetapi semua mulut menceritakannya)


“Tidak usah kamu panjang  lebar sampai kemana - mana, lihat waktu orang ito ini mau pulang ke Bandung. Cukup kamu bilang terimakasih sama ito ini begitu saja cukup,” ujar mami.


Aku setuju bangat sama mami dan semua mengangguk setuju sama mami, dengan wajah cemberut, ia mengucapkan kata terimakasih, tetapi kesannya  memaksa, ia masih mempertahankan pemikirannya, mengatakan kalau Candra yang memaksa tulang untuk menjemput Tivani.


Aku melihat tangan Candra terkepal kuat di sampingnya, saat tante mengatakan ia yang memaksa menjemput Tivami. Padahal Candra sudah cerita, kalau tante teriak-teriak dan menekannya .


Bapa uda yang duduk di kursi roda menatap Candra  dengan mata berkaca-kaca, ia sangat kasihan sama Candra,  aku melihat mata mereka berdua saling menatap ia mengangguk kecil pada Candra.


Candra juga menatap bapa udah dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah ia ingin mengatakan aku akan kuat demi bapak.


Tiba-tiba Candra ingin muntah, ia izin ke kamar mandi, aku mengikutinya keluar.


“Apa semuanya baik-baik saja?” tanyaku melihat wajahnya yang memerah, sepertinya ia tidak bisa memendam semuanya sampai tubuhnya bergejolak.


“Tidak baik,” jawabnya jujur, ia merentangkan tangannya menghentikan ku agar tidak mendekatinya yang sedang muntah.


Aku mengerti apa yang dirasakan Candra saat ini, ia pasti merasakan dunianya runtuh , ia pasti tidak punya siapa- siapa. Ibu yang ia harapkan bisa tempat mengadu tidak ada dalam sosok tante.


Bersambung