Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Gara-gara Mantan


Masih di rumah mami, niat ingin pulang jadi tertunda.


Mengingat kondisi Arnita yang hamil muda, jadi aku perlu menjelaskan padanya, aku tidak ingin hal buruk terjadi.


“Lae Juna hanya ingin meminta maaf pada Lian Ito, dia gak mau karena dosa kenakalan dia di masa lalu kamu dan bayimu menanggung karmanya, karena belakangan ini dia bilang dia sering mimpi buruk, jadi dia mengajakku”


“Lalu kenapa dia mengirim alamat rumahnya?”


“Dia Bilang kalau  ingin minta maaf harusnya bawa istri, itu baru benar, katanya,” ujar ku lagi.


“Itu betul, seandainya aku jadi wanita itu juga akan melakukan hal seperti itu juga”


“Abang benar?” Arnita berhenti menangis.


“Ya, lae hanya meminta maaf”


Setelah semua kesalahpahaman selesai, aku dan Netta pulang, Netta dari rumah mami bersikap biasa , ia tidak marah, hatiku sedikit legah, mungkin  karena aku  sudah menjelaskan jadi ia tidak terlalu marah.


“Apa kamu lapar, Hasian biar kita pesan nasi goreng,” ucap Netta.


“Boleh deh,  tapi kita makan di rumah saja”


“Ok, baiklah.” Netta turun dari mobil dan aku menunggu di dalam mobil.


Saat menunggu sebuh pasan dari Juna.


[Maaf ya kamu ikut kena masalah, apa aman?] isi pesan Juna.


[Aku bilang juga apa, Arnita pasti tahu, apa dia masih marah?] tanyaku.


[ Dia masih marah … aku tidur sama Deon di kamar lain]


“Waduh … berarti aku belum tentu aman donk.” Aku melihat Netta dia duduk menunggu nasi goreng, tetapi tangannya sibuk   mengetik sesuatu  di ponsel miliknya, sepertinya dia sedang berkirim pesan dengan seseorang.


Jika Juna tidak selamat, itu artinya aku juga, padahal Juna tadi sudah meminta maaf dan berterus terang pada Arnita, dan mereka sudah baikkan tadi, ternyata setelah mereka pulang ke rumah Juna diusir dari kamar.


Tidak lama kemudian Netta masuk membawa dua bungkus nasi goreng.


“Sudah Hasian, ada lagi yan ingin kamu beli?” Bersikap baik, agar nasip ku sama dengan Juna.


“Sudah kita pulang”


“Apa kamu mau jalan-jalan malam melihat pemandangan malam, kita bisa makan nasi gorengnya sambil menikmati bintang malam,” bujuk lagi.


“Tidak usah, kita pulang saja, badan ku lengket belum, mandi,” keluh Netta.


“Tubuhmu gak pernah bau walau belum mandi seminggu,” ujar ku, mengeluarkan jurus gombal terbaikku, berharap Netta tidak marah.


“Benarkah … besok- besok aku ga usah mandi ah, aku langsung tidur di sampingmu,” balas Netta.


“Tidak apa- apa Hasian, tidak masalah bagiku”


Netta hanya tertawa  garing mendengar rayuan gombal ku.


“Abang menggombal terus  dari tadi  malam, apa ini?”


“Malam jumat,” jawabku tanpa pikir panjang”


“OH, pantas”


“Bukan Dek, memang  kamu sangat cantik hari ini.”


“Perasaan kita dari tadi tidak membahas soal cantik deh … kita bahas soal keringat tidak mau,” ujar Netta kali ia benar-benar curiga.


“Ya, sama saja Dek, kalau keringatnya tidak bau, berarti ia tidak cantik”


“Biasanya abang kan menggombal”


“Tidak kok Hasian, ini tidak menggombal ini serius”


Tidak lama kemudian mobil kami sampai di rumah, Netta bersikap biasa dan masih mau tersenyum padaku, aku lega bangat melihatnya.


Saat makan nasi goreng  aku masih melihat was-was sampai nasi goreng itu terasa serat aku telan.


“Bang bagaimana menurutmu rencana ito Rudi itu, apa dari kantornya sudah  memenuhi syarat untuk menikah? Kalau dari kepolisian biasanya kan, ada minimal berapa tahun  baru bisa menikah?” Tanya Netta memulai obrolan santai.


“Sudah bia kali Dek, kan dia bukan masa pendidikan lagi , dia sudah penempatan tugas”


“Tapi coba jelaskan lagi sama Pak Beny besok, takut ada kesalahan nanti,” ujar Netta.


“Dia tidak mau pisah dari istrinya se sudah menikah. Abang gak tahu sih bagaimana rasanya LDR an sama suami, karena aku sudah merasakannya saat jauh sama abang saat aku pendidikan di Jerman”


“Bukan hanya kamu kali hasian, aku yang lebih parah sampai gila, tetapi sekarang gak lagi, biarlah yang lalu berlalu. Aku akan tetap bersamamu,” ujarku dengan lembut gombal keduaku.


“Baiklah hasianku, aku percaya padamu sangat percaya,” ujar Netta mendaratkan bibirnya di pipiku.


‘Yes … Yes …! jatah malam jumat pasti dapat’ ucapku kegirangan.


 “Kamu gak mandi Dek? Mandi saja  biar aku nyalakan air panas di kamar mandi,” ujar ku  lagi, kalau  Netta mandi ia pasti akan lebih cantik.


Biasanya  juga kalau ia pulang malam kerja  ia akan berendam air hangat, aku pikir aku akan  bertambah semangat kalau Netta  mengajakku berendam bersama.


“Gak … usah mandi, aku cuci muka saja dan lap saja lalu ganti baju”


“Oh, baiklah”


“Abang mau mandi?”


“Kamu mau temenin Dek, kalau kamu temenin aku akan mandi,” bujuk ku penuh semangat.


“Gak ah, sudah malam”


Netta keluar dari kamar mandi, ia mengenakan  baju tidur yang berbeda, kalau biasanya ia  tidur dengan daster , tetapi kali ini ia  memakai baju tidur mirip lingerie sexy night .


Mulutku sampai menganga melihat Netta yang cantik malam itu, aku bersemangat masuk ke kamar mandi dan mandi buru-buru  karena Netta sudah menunggu di kamar.


Melilitkan handuk di pinggang dan buru-buru keluar dari kamar mandi, membuka lemari menarik satu kaos dan boxer.


“Ayo  Hasian kita tidur,” ujar ku menepuk-nepuk bantal di sampingku.


Netta yang duduk di meja rias lagi mengoleskan pelembab di wajahnya hanya menolah sekilas, lalu ia tersenyum sangat manis,


Membuatku bertambah bersemangat.


‘Aku akan membuatmu sampai capek’ gumam ku dalam hati


Membuka laci di samping ranjang lalu menyemprotkan spray penyegar mulut, waktunya menunggu Netta.


Ia mendekat dengan senyuman yang merekah di pipinya.


‘Ah … manisnya istriku kalau senyum, apa lagi tersenyum dengan memakai pakaian sexy itu’ ucapku dalam hati.


Netta mengambil bantal dan selimut, lalu memberikannya padaku.


“Loh … ini untuk apa Hasian?”


“Untuk kamu tidur sama si Milon di luar”


Raut wajahku seketika  lemas terong milikku yang sedari tadi berdiri tegak, tiba -tiba berkedut lemas.


“Tapi, kamu berpakaian seperti itu bukannya kita  ing-”


“Daster kesayanganku lagi ada di keranjang kotor hasian,” ujarnya tertawa sinis.


“Sayang … hasianku, kali ini lupakanlah dulu perjanjian kita, ini kan malam jumat, dari tadi si ucokku sudah bangun, itupun kamu yang membangunkannya, kenapa kamu berpakaian seperti itu,” ujar ku merayu.


“Hasian … janji harus ditepati, lelaki sejati jika sudah berjanji, maka yang  di lakukan” ujarnya menasihati ku.


“Tapi aku akan hanya menemani lae Juna”


“Dia mantanmu juga kan?”


“I-iya sih”


“Karena itu … Abang ada dua pilihan, di luar tidur sama si molin jatah ranjang akan  dapat di hari berikutnya, tetapi jika abang tidur di sofa … satu bulan jatah ranjang hilang”


“Waduh pilihan yang sulit”


“Kan abang yang nulis itu, aku mah hanya mengikuti”


“Baiklah, aku tidur di luar, sakit kepala-sakit kepala deh aku,” ujar ku kesal sama si Juna, gara-gara ia aku tidur di luar, hilang jatah malam jumat, belum lagi sakit kepala gara-gara gagal menyalurkan.


Gara-gara mantan makannya kalau sudah mantan buanglah jauh-jauh


Bersambung ….