Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Bos Mafia baru akan publish


Hai Akak -akak yang cantik ada yang kangen sama mereka gak.



Kali ini menjadi Tawanan Bos Mafia2 akan publis ya


ini spoilernya


Bab 3


Anak Mantan Bos Mafia merampok Bank


Apa yang dikatakan Jordan  benar,  merampok kantor polisi sama saja mencari masalah,  misi mereka gagal, Harvis sudah mengetahui rencana Okan, jadi ia menyergap mereka.


Juna tergelatak di depan pintu gudang barang, melihat Juna terluka Harvis bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat, kalau saja Harvis tidak menolong   ia pasti saudah mati kehabisan darah karena  tiga peluru bersarang di kaki dan pundaknya dan benturn di kepala membuatnya tidak sadarkan diri.


Setelah merasa aman, Okan keluar dari sana, ternyata ia juga terluka di tangan saat tembok diledakkan untuk jalan keluar rupanya sebuah kaca mengenai lengan dan pahanya,  dengan tubuh penuh lumpur hitam ia keluar dari  parit. Misi mereka merampok kantor polisi gagal total yang ada mereka bertiga hampir mati.


Okan berjalan ke sebuah rumah meminta air bersih, ia terpaksa berbohong kalau ia mengantuk saat berkendara dan jatuh ke parit, beruntung ada orang baik mau membantu dan meminjamkan pakaianya. Setelah aman dari sana ia menelepon Danis.


“Aku terluka parah, dua peluruh mengenai pundak dan perut, kita jangan bertemu dulu, aku yakin kita sudah jadi buronan sekarang,” ujar Danis meringis menahan sakit.


“Bagaimana dengan barangnya, apa kamu sudah mendapatkannya? Aku harus menyelamatkan Chelia.”


“Aku belum mendapat kabar dari mereka, Aku tidak tahu apa mereka juga selamat atau ditangkap, nanti aku akan kabarin kamu.” Danis meringis kesakitan, sebagai seorang dokter ia mencoba mengobati dirinya sendiri.


“Kamu ada di mana?” tanya Okan.


“Aku di apartemenku,  kamu tinggal dimarkas sampai aman,” ucap Danis.


Mereka anak-anak mantan mafia, tetapi belum  punya ilmu dan pengalaman seperti yang dimilki ayah mereka, Okan salah satu anak yang mengagumi pesona ayah, ia ingin seperti Leon, tenang dan pintar. Mereka bertindak nekat padahal belum punya pengalaman  merampok, sekali melakukan misi perampokan langsung merampok Kantor polisi, anak muda itu sama saja masuk ke mulut harimau.


“Apa yang harus Aku lakukan, bagaimana dengan Chelia.” Okan berdiri menatap  dirinya dipantulan kaca, ia menyalahkan dirinya karena tidak mendengr Juna sama Jordan.


Disi lain.


Jordan, akhirnya memberitahukan Leon kalau Chelia diculik, setelah pulang dari markas, ia bertamu ke rumah Leon.


“Eh … Jordan, apa kabar?” tanya Hara yang sedang duduk di ruang televisi di temanin Leon dan putra menikmati potongan buah.


“Baik Tante,” jawab Jordan dengan wajah pucat,


“Ada apa? kayaknya ada yang mau dikatakan?” tanya Hara langsung bisa menebak gelagat gelisah yang diperlihatkan Jordan.


“Om, apa kita bicara berdua.”


“Eh … bicara apa, Aku sama Ommu tidak ada rahasia, jadi katakan saja,” ujar Hara.


“Ya katakan saja,” kata Leon juga sepakat sama istrinya.


‘Aduh bagaimana kalau tante sakit, bisa panjang masalahnya.


“Apa?” desak Hara tidak sabar  mendengar .


“Tante jangan panik ya, tenang saja. Chelia diculik tadi pagi dirumah sakit.”


“Tidak mungkin, kami duduk di sini menunggu dia pulang.”


Wajah Leon  mengeras karena panik


“Pemilik barang itu, Om.”


“Barang ….?” Kedua alis Leon saling menyepit saat mendengar  hal tersebut,  dugaannya benar, apa yang dilakukan Harvis dan anggotanyakan berdampak ke kehidupan pribadinya, tetapi kenapa harus putrinya yang harus jadi sasarannya?


“Harvis dan rekan-rekannya menyita barang milik mereka.”


“Kurang ajar! beraninya dia melakukan pada putriku, dia belum tahu berurusan dengan siapa,” ujar Leon mengeluarkan ponsel dari kantongnya.


“Aku ingin kamu mengumpulkan orang-orangmu, tunggu saya di sana.”


“Baik Bos,” jawab seseorang dengan patuh.


Kedua mata Hara melotot, ia tidak pernah menduga kalau Leon masih punya anak buah, ia tahunya kalau suaminya tidak terlibat lagi dengan dunia hitam.


“Yah, biarkan polisi yang menagganinya,”ujar Hara memegang dadanya, ia menangis ketakutan mendengar putri nya culik penjahat.


“Polisi tidak akan bisa melakukan apa-apa Bu, untuk melawan penjahat seperti mereka dibutuhkan penjahat yang lebih kuat. Aku yang akan menghabisi keparat itu,” ujar Leon, ia bergegas ke ruang kerjanya mengambil dua senjata dari lemari, senjata miliknya dan menyelipkan di pinggang lalu  ia turun  wajah sangat marah, rahangnya mengeras dan nafasnya memburu.


“Om, Aku ikut.” ujar Jordan.


“Tidak , kamu pulang saja, tolong  bagunanin lukas di atas untuk temanin tantemu,” ujar Leon.


Ia menyetir ke sebuah bar  berjalan menuju sebuah ruangan khusus, di sana sudah ada beberapa orang berbadan tegap-tegap, ternyata anak buahnya dulu masih ada dan membuka  bisnis hiburan malam,  salah satunya Bram.


“Apa yang terjadi Bos”


“Kita ingin menangkap satu tikus tanah, dia menculik Chelia dan Naira,” ujar Leon menggebrak meja dengan kuat, wajah dan emosi kembali muncul persis seperti dua puluh tahun yang lalu saat ia masih bos mafia.


“Serahkan juga samaku,” ujar Zidan, ternyata mantan anak buahnya yang di juluki sniper itu juga mendengar dari Hara kalau Chelia di culik, dan ia langsung datang, ternyata bukan hanya Zidan, Ken, Toni juga datang, Kesetiaan mereka ternyata berlaku sampai mereka tua, persahabatan antara anak buah dan bos itu sepertinya berlaku sampai  mereka  menua, walau Leon tidak ingin melibatkan teman-temannya, ternyata mereka juga datang . Ini namanya para mantan mafia senior bereaksi kembali, mereka sudah kaya dengan pengalaman, sama hal merampok dan menghabisi musuh, tidak seperti Okan, Juna, Danis yang nekat merampok kantor polisi padahal pengalaman dan ilmu masih cetek, tetapi  nekat merampok, akibatnya mereka bertiga hampir kehilangan nayawa.


“Ada apa?” tanya Leon saat wajah Toni terlihat terpukul.


“Juna … dia sekarat di rumah sakit.”


“Ada apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Leon dengan wajah memerah.


“Mereka merampok kantor polisi.”


Leon melonggo mendengar penuturan Toni, mereka susah payah mengamkan barang itu agar jangan jatuh ke tangan orang jahat , ternyata anak-anak mereka mengacaukan semuanya.


“Bagaimana dengan Okan, Danis?” tanya Leon.


“Menurut Harvis mereka ikut terluka tapi berhasil melarikan diri, namun Juna mendapat  tiga luka tembakan,  kata Harvis  saat diminta menyerah, dia malah melawan,” ujar Toni menjelaskan.


“Astaga …!” Leon memegang kepalanya dengan putus ada,” kenapa jadi seperti ini … apa yang mereka pikirkan?” Pundak Leon naik turun menahan kemarahan, ia ingin marah tetapi tidak tahu hrus marah sama siapa, ia ingin marah pada Okan tapi anak lelaki itu tidak ada di sana, lagian ia juga terluka . Leon hanya memegang batang lehernya .


“Tenanng Bos, kita akan habisi si keparat itu, berani-beraninya ia mengusik hidup kita,” ujar Ken.


Para mantan mafia itu kembali beraksi, mereka akan meghabisi Dave dan anak buahnya kalau mereka sampai  menemukan markasnya. Karena dari dulu Leon dan anak buahnya tidak pernah gagal dama melakukan misi.


Apakah Leon dapat menemukan tempat tinggal Dave dan menyelamatkan Chelia?


Bersambung.


Kakak yang baik bantu kasih ulasan dong dalam setiap babnya banu vote, like share ya, terimakasih.