
Aku sudah mendingan, penyakit ku masih seperti yang kemarin itu, tidak jauh dari lambung.”
“Harusnya abang jaga kesehatan, masih mudah, abang sudah sakit-sakit.”
Kata Netta, tapi ia mengabaikan pertanyaanku tentang uang kuliahnya dan tentang Aldo.
Aku tidak tenang, aku panas, pastinya aku cemburu, saat ini.
Tapi Netta terlihat tenang seakan semuanya tidak terjadi apa-apa.
Saat jantung bergemuruh menahan perasaanku, tapi istri kecilku bersikap tenang seakan semua baik-baik saja.
Oh, ayolah… aku harus mulai dari mana kenapa jadi kaku seperti ini, aku terlihat mulai gelisah.
“Ta, kamu belum menjawab satupun pertanyaan ku?,” aku bertanya lagi.
“Abang sebaiknya minum obat dulu deh, wajah abang itu pucat,” Netta mengalihkan pembicaraan lagi.
“Iya, ambilkan minum lagi geh’ jangan yang dingin,” kataku, ia meletakkan ponselnya di atas meja, baru beberapa menit ia berdiri ponselnya berbunyi.
Dringggg
Dringggg
Saat ia berdiri memesan minuman, ada panggilan masuk, biasanya aku bukan lelaki tipikal yang posesif pada pasangan, tapi kali ini berbeda, mataku langsung menatap tajam, saat nama pemanggil tertera di layar ponsel Netta.
Aldo menelepon Netta, lelaki yang satu ini perlu di kasih racun tikus sepertinya,
sudah tau Netta sudah menikah masih berani deketin aku bermonolog dalam hati.
****** ni orang, aku memaki kesal menyambar ponselnya .
“Ada apa!?”
“A-a-a Nianya ada bang?”
“Tidak ada.
kenapa?”
Sengaja ,aku menjawab ketus.
“Baik bang.”
Katanya grogi ia menutup teleponnya.
Netta masih berdiri mengantri, ia tidak menyadari kalau aku menjawab panggilan teleponnya. Ia tidak tahu kalau lelaki yang meneleponnya sudah ketakutan karena aku membentak.
Tidak, tidak , boleh seperti ini aku harus melakukan sesuatu.
“Ini Bang”
Netta membuka botol mineralnya membantuku memilah –milah obat yang aku minum yang banyaknya hampir satu lusin.
“Aduh, kepalaku sepertinya sangat pusing, aku tidak kuat,” aku mengerang sakit setelah beberapa menit minum obat itu, aku memijat kepalaku, dengan mata menutup menahan sakit.
“Ada apa Bang?
Apa sakit?
Kita ke Dokter iya, aku panggil orang untuk memapah abang, iya.”
“Tidak usah, Ta kost mu kamu bilang tidak jauh dari sini, kan, aku ingin rebahan, aku merasa kepalaku sakit dan perutku juga mual rasanya sakit sekali.”
“Iya kosanku tidak jauh kok bang, tinggal jalan kaki dari sini juga bisa, apa kita mau ke kosanku saja?”
“Iya Ta,
aku merasa ingin merebahkan badanku, apa kamu masih ada kuliah hari ini?,”
aku menatap dengan mata sayu, terlihat kekhawatiran di wajah polosnya,
Netta bukan wanita yang suka berdandan berlebihan seperti Arnita adikku.
Kalau Arnita terkadang bedaknya bisa-bisa lima centi meter tebalnya, dan lipstik nya terkadang merah, seakan tidak terhapus selama seminggu.
Mikha juga seperti itu, ia akan selalu berdandan lama dan berlebihan setiap kali ketemu.
Tapi Netta terlihat natural dan alami sederhana, ternyata aku lebih suka melihat wajah natural milik Netta dari pada Mikha dan Arnita.
Netta, hanya memakai bedak tipis dan lipstik yang tidak terlalu menyala.
“Iya sudah bang,
ayo’ biar saya saja yang bantu berdiri, saya tidak ada mata kuliah lagi hari ini,”
kata Netta merangkul lenganku.
“Kita naik mobil saja, iya tidak mungkin mobilnya aku tinggalin disini,” tanganku memegang perutku lagi.
Untung Netta tidak menyadari kekonyolan ku, soalnya yang aku bilang sakit kepala, tapi yang aku pegang perut.
Kalau tadi aku hanya bertanya di mana ia tinggal, aku yakin ia tidak akan memberitahukannya, karena ia akan mengungkit tentang perjanjian konyol yang aku ciptakan dalam pernikahan kami.
Tapi saat ini, aku harus cari jalan lain untuk mengetahuinya walau melakukan tindakan kebohongan, tapi tidak mengapa, hanya sedikit kebohongan di dalamnya, selebihnya ketulusan dan cinta.
Ini juga salah satu cara untuk mendapatkan hatinya yang sudah tidak mempercayaiku lagi.
Aku tahu, karena kesalahan yang aku lakukan aku harus bekerja keras untuk memperbaikinya lagi.
“Tapi abang kuat gak?
Kalau tidak, nanti aku suruh orang untuk membawa mobil abang, di depan kosanku juga bisa parkir sih, ada parkirannya.”
Kata Netta ia masih merangkul lenganku.
“Dipaksa saja Ta."
Dengan sikap seolah sakit aku dan Netta berjalan kearah mobil, wajah Netta terlihat sangat khawatir, aku menyukai sikap dan perhatiannya padaku kali ini.
Aku pura-pura menyandarkan kepalaku di kursi joknya.
“Yakin abang Nathan kuat?
Aku khawatir, bagaimana kalau aku panggilkan temanku agar kita diantar sebentar.”
“Tidak usah Ta, nanti ngerepotin orang,” kataku lagi.
“Baiklah, tapi hati –hati iya bang, kalau tidak kuat bilang saja, biar aku minta tolong sama orang lain,” Netta menatapku dengan khawatir.
“Tunggu…! Aku oleskan minyak gosok ke bagian perutnya, iya?”
Perut!?
Otak licik ku berteriak gembira.
.
“Boleh Ta. Aku juga merasa perutku sakit,” kataku pura-pura merasa sakit di bagian itu juga.
Dengan dengan pelan-pelan mobil putih milikku meninggalkan Kampus Netta.
Sesuai petunjuk Netta, kami masuk ke gang yang lumayan sempit, untungnya mobil bisa masuk, berhenti disalah satu rumah kos.
Tapi didepannya ada tulisan khusus Putri, rumah permanen berlantai dua atas bawah berderet kamar layaknya kosant.
“Abang, masukkan saja mobilnya nanti aku bilang sama ibu kosantnya,
ini bisa di tutup gerbangnya, kalau di parkir di luar khawatir ada yang niat jahat nanti.”
Netta turun membuka gerbang sekalian pamit pada pemilik kosant.
Layaknya kosan putri tentunya penghuninya kaum hawa, kedatanganku mengendarai mobil mewah, datang ke kosant Netta sepertinya menarik perhatian semua penghuni kosant.
Penghuninya yang hampir semua anak kuliahan juga sama seperti Netta.
Bukan rahasia umum lagi cerita banyak anak kuliahan yang jadi simpanan lelaki berkantong tebal itu benar adanya.
Saat aku turun mata mereka melotot segede jengkol, tentunya mulut mereka bergosip seperti lebah.
Netta terlihat santai, tapi aku malah merasa kurang nyaman, aku merasa seperti di intimidasi dengan tatapan para wanita muda menatapku seperti sepotong coklat yang ingin dicicipi.
Masuk ke tempat seperti ini sudah biasa untukku,
bedanya Mami punya kontrakan petak sekitar 20 pintu dan penghuninya juga kebanyakan yang sudah berkeluarga, tapi ditempat Netta semua penghuninya ladies-ladies yang masih muda, yang berpakaian baju tali satu.
Maka saat aku naik mata mereka menatap Netta dengan tajam.
“Dapat cuan tuh anak baru,” gurau salah seorang dari mereka.
Tapi tiba-tiba seorang perempuan berbadan tambun membuka kamarnya dan mendatangi kami, saat itu Netta lagi membuka kunci kamarnya.
“Hai anak baru, lu gak tahu ini kosan perempuan, malah bawa lelaki ke sini,”
hardiknya dengan gayanya yang songong.
“Saya tahu kak, ini suami saya, tadi kebetulan sakit, hanya ingin istirahat sebentar,”
ucap Netta dengan sopan.
Sepertinya wanita itu senior di kosan, wajahnya sangar seperti Mami germo.
“Lu yakin itu suami Lu?
atau lu simpanan’nya?”
katanya ber-nada ketus terdengar kasar, aku ingin buka mulut, tapi Netta melarang ku.
“Benar kok kak, ini suami saya, tadi saya sudah izin sama Ibu yang punya kosant.” Kata Netta tetap tenang dengan sopan.
Salut dengan Nettaku, sikapnya terlihat tenang, membuat perempuan gemuk itu meragukan tindakan kasarnya sendiri.