Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Borneng Marah


Semua rintangan hidup pasti selalu ada selagi manusia hidup, aku yakin dengan hal itu, setelah aku  dan Juna  meninggalkan kehidupan  lama kami, meninggalkan semua hal yang  nakal dulu. Tetapi saat kami berdua, mencoba untuk  meniti hidup yang baru dan masa depan  yang lebih baik, Mikha datang  membawa masalah.


“Dulu aku tidak setakut ini, tapi setelah menikah dan memiliki anak, hidupku penuh pertimbangan dan keraguan,” ujar Juna, saat duduk bersamaku di samping rumah mami.


“Itu wajar … kalau dulu kan tidak ada yang kamu pikirkan hanya dirimu,  sekarang ada empat nyawa bergantung padamu.”


“Itu dia Lae, aku takut Arnita marah dan meninggalkanku”


“Jangan khawatir, kalau kamu selalu terbuka padanya  dia tidak akan melakukan itu”


“Ngomong … ngomong aku tidak pernah mendengar kalian bertengkar sama inang bao …” Juna menatapku.


“Netta bukan tipe wanita yang curiga, dia selalu percaya padaku, maksudku, kami berdua selalu saling terbuka”


“Arnita, susah percaya padaku,” keluh Juna.


Melihat kekhawatiran di wajah  Juna, aku  berjanji membantu, Beny bersedia membantu, aku meminta pengacara Lina untuk membuat laporan ke kantor polisi atas ancaman yang di lakukan Mikha. Tetapi setelah di laporkan  tidak lantas membuat Juna tenang, ia takut wanita gila  itu membayar orang lain untuk mengusik  keluarganya.


“Kalau kamu merasa takut, sewa saja bodyguard untuk menjaga  rumahmu”


“Ya, benar juga, kamu punya kenalan?”


“Ya, Beny punya kenalan , nanti aku akan kabari,” jawabku.


 Besok hari.


Kami mengurus semuanya sebelum mami pulang ke Jakarta, berharap keluarga tidak mengetahuinya, Mami dan Papi mereka berdua masih  betah di Medan mengurus restoran papi yang ada di sana. Tidak ingin hal buruk terjadi pada Arnita,  aku mencari seorang penjaga untuk mengawal mereka, aku sengaja datang menemui Beny di kantor. Sementara Netta sudah berangkat duluan ke Bali bersama Candra dan Tivani, karena masa cutinya akan berakhir, aku memutuskan  pulang belakangan.


“Kenapa tidak lewat telepon saja , kasihan kamu datang jauh-jauh ke sini”


“Aku  hanya takut, terjadi hal buruk pada Arnita, apa lagi dia sedang hamil”


“Oh … benar juga, ayo kita  mengobrol sambil makan saja,aku belum  makan siang.” Beny mengajakku makan di samping kantor.


“Mau  makan apa?” Beny menatapku.


“Seperti biasa saja”


“Ok, ikan bakar, kesukaanmu tidak pernah berubah dari dulu,” ujar Beny.


Sebelum pesanan datang kami mengobrol tentang Mikha lagi.


“Kamu benar Jo”


“Tentang apa?”


“Mantan kekasihmu Mikha, dia  simpanan seorang pejabat selama ini, maka itu,  dia bisa bebas dengan muda”


“Aku sudah tahu”


“Tahu dari mana?”


“ Sebenarnya aku sudah mengira hal ini akan terjadi, ada  temanku punya cafe di Bali, dia melihat Mikha bersama seorang pria di Bali seorang pejabat”


“Itu artinya dia belum tahu kamu di Bali?”


“Aku tidak tahu, awalnya aku cuek saja, aku berpikir tidak ada urusan lagi denganku, ternyata dia kembali mengusik rumah tangga kami”


“Apa dia juga menelepon mu?” Tanya Beny menatapku dengan serius.


“Dia  beberapa kali meneleponku, karena pakai nomor baru, jadi aku  tidak pernah angkat, kemarin baru dia mengirim ini.” Aku menunjukkan  pesan dari Mikha.


“Gila, dia minta bertemu untuk apa, ajak selingkuh lagi?”


“Aku tidak tau, aku diam saja”


“Apa Netta tau?” Tanya Beny penasaran.


“Tau, justru dia  mengajakku menemui bersama-sama, tapi aku melarang,  padaku tidak ada kalimat ancaman,  hanya sama Juna”


“Tenang saja, dia akan segera di panggil polisi” Beny membuatku merasa lega.


Beberapa hari kemudian aku masih di Jakarta mengurus tentang pekerjaan di kantor,  hari itu mami dan papi akan pulang  ke Jakarta, jadi Kak Eva memintaku menemaninya ke bandara  menjemput mereka dari bandara.


“Bagaimana perjalanannya Pi lancar?” tanyaku saat berada di bandara.


“Tidak lancar, papimu membuat tiket kami hangus,” ujar mami marah-marah ia merepet panjang lebar.


“Loh kenapa?”


“Aku sudah bilang jangan bawa banyak barang nanti bagasi kita  kebanyakan repot mengurusnya, papimu  ngeyel …”


Untung papi orang yang sabar, mami merepet dan marah-marah, ia  tetap saja tenang, coba kalau lelaki lain mami sudah di tinggalkan di bandara.


“Mamimu hanya bisa merepet Mang, tetapi bantuin, tidak mau,” ujar papi menyeka keringat di dahinya.


“Memang papi bawa apa ? Sampai bagasi kebanyakan?”


“Tu … no, oleh-oleh lah, aku sudah bilang, tidak usah dibawa oleh-olehnya ngapain di bawa”


“Mi … orang ito sama lae itu,  sudah beli untuk kita, masa kita tolak”


“Memang apa Pi?” Papi menceritakan semua.


Namboruku yang di tinggal di London membawa oleh-oleh dari luar negeri dan dikasih ke papi, bukan hanya makanan, mainan untuk Arkan dan Deon juga untuk Jeny di beli, karena  jumlahnya banyak mami sampai marah-marah.


“Pi, papi itu benar kalau kalian tinggalin di sana, bukannya kalian di bilang sombong,  lagian harusnya mami itu senang di kasih hadiah, itu artinya namboru, perduli pada keluarga kita, coba mami bayangkan namboru membawanya jauh-jauh dai London, mami hanya diminta membawa dari Medan saja sudah merepet,” ujar Kak Eva balik memarahi mami.


“Bukan seperti itu mama Arkan, maksud mami di kirim belakangan saja”


“Mi, itu sama saja, itu kesannya mami tidak menghargai pemberian namboru, aku yakin Jeny sama Arkan dan Deon akan senang dapat mainan baru, apa lagi mainan luar negeri,” ujar Kak Eva.


“Kau bagaimana pendapatmu Bapak Paima, kamu hanya diam saja dari tadi”


Aku paling malas di minta hal beginian, disuruh memilih mana yang benar antara papi dan mami, karena anak itu harusnya jadi penengah, kalau Kak Eva tidak ada istilah memihak, kalau salah ya salah, kalau benar dibela itu prinsipnya.


“Aku tidak mau Mi, itu urusan kalianlah itu”


Saat  kami berjalan menuju parkiran mobi, hal yang ngin di hindari malah bertemu.


Tiba-tiba Mikha muncul, dengan beraninya  ia datang ke arah mobil kami,  menyapa keluargaku.


“Halo Mi …!”


Mami kaget, ia menatap Mikha dengan tatapan tajam, ia bagai melihat hantu.


“Kamu masih berani muncul di hadapan kami ya …! Setelah kamu melakukannya pada Juna”


“Aku hanya ingin bicara sama Bang Jo”


Mendengar Mikha mengancam akan menyakiti Arnita, boru kesayangannya.  Tiba-tiba mami berubah  bagai singa, ia marah,  lalu dengan cepat ia menarik rambut Mikha menjambaknya dengan kasar,  ditarik kanan dan ke kiri, Mikha yang memakai sepatu hak tinggi dan pakai dress mini hanya  meringis kesakitan memegang rambutnya yang di gulung mami di tangan.


“Astaga ini memalukan,” ujar ku pergi meninggalkan mereka aku masuk ke dalam mobil.


“Ma, Arkan hentikan mamimu.” Papi meminta Jeny dari gendongan kakak Eva.


“Biarkan saja Pi, biar mampus dia, dia tidak tahu kalau borneng sudah marah ,” ujar kakak Eva, ia malah mendukung mami.


“Astaga, kalian berdua ini, bikin papi malu.” Kami bertiga memilih masuk ke dalam mobil.


Mami melepaskan rambut Mikha setelah dilerai  beberapa orang.


“Makanya jangan jadi pelakor, seorang ibu akan berubah seperti singa, kalau ada orang  yang menyakiti anaknya, kamu paham,” ujar Kak Eva.


Mereka bertengkar tepat di samping mobilku, papi membuka sedikit kaca mobil karena Jeny menangis,  mendengar kata pelakor orang-orang yang menonton mereka meneriaki Mikha dengan kata-kata kasar bahkan ada yang melempar dengan air kemasan, kata-kata pelakor  masih jadi kalimat yang membuat marah di kalangan ibu-ibu.


Karena Mikha panik, ia masuk ke mobilnya dan menyetir,  aku tidak tahu, apa ia sengaja apa karena panik, ia menabrak seorang wanita petugas kebersihan bandara yang ikut  meneriakinya, lalu ia tancap gas setelah melakukannya. Kejadiannya begitu cepat,  bahkan aku  tidak menyadari apa yang terjadi,  kalau orang-orang tidak berteriak,  tadinya,  aku pikir mami yang ditabrak, aku  buru-buru keluar dari mobil melihat mami masih berdiri, aku  memeluk pundak mami, ia masih  terlihat shock.


“Kamu akan membusuk lagi di penjara Mikha, itu cocok untuk kamu,” ucap Kak Eva tertawa sinis.


 Bersambung