Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Jangan Bertemu Mantan


Setelah semua pembahasan selesai  kami pulang dari rumah tulang dan kembali ke rumah mami baru nanti akan kembali ke rumah kami, pikiranku tidak enak sama si  Milon, walau aku sudah meminta Bi Atun untuk melihatnya ke rumah, tetap saja tidak tenang, roman-romannya aku akan tidur dengannya malam ini.


Kalau sempat  Netta tahu aku dan Juna ke rumah Lian sang mantan pacar, bisa dipastikan aku akan  tidur dengan Milon.


Harusnya aku tidak membuat perjanjian konyol ini dulu.


Ini janji yang aku buat beberapa bulan yang lalu saat Netta dan Aldo bekerja di rumah sakit yang sama, karena aku cemburu tercetuslah ide konyol tersebut:


Barang siapa yang menemui mantan pacar diam-diam  atau telepon sama pacar maka akan dikurung diluar tidur sama si Milon.


Tetapi saat tiba di rumah, aku melihat Arnita semakin marah-marah pada Juna, Arnita menunjuk-nunjuk ke ponsel milik suaminya.


‘Aduh, apa dia tahu kami tadi pergi ke rumah mantan? Bisa mati aku kalau Netta sampai tahu dari Arnita’


Tadi pagi sebelum kami ke rumah mantan, mantan kami berdua pula, dulu setelah putus dariku Juna pacaran dengannya, tetapi baru beberapa bulan Juna memutuskan hubungan setelah mendapatkan apa yang ia mau.


Tetapi aku tidak ada masalah, aku putus dengannya baik-baik, hanya Juna yang punya masalah, aku hanya menemaninya tadi tadi pagi. Tetapi aku akan dapat masalah besar jika Netta sampai tahu.


Saat kami tadi pagi kami ke rumahnya, Lianta saja kaget kami datang, karena ia sendiri sudah melupakan masa lalu sama sepertiku. Tetapi Juna saja yang terlalu takut  dia bilang takut kena karma dan segala macam kutukan mantan.


Tetapi tadi pagi, Lianta meminta kami membawa istri kami,  untuk bertamu baik-baik ke rumahnya, itu baru tepat untuk datang minta maaf, tidak bisa hanya bertemu dan meminta maaf.


                                      *


Saat tiba di rumah mami, niatku langsung pulang agar Arnita tidak cerita pada  si borneng, aku duduk di teras , menunggu Netta mengambil barang miliknya di lantai atas.


“Masuk dulu, kita ngopi dulu,” ajak papi sembari ia masuk.


“Pulang saja Pi, takut kemalaman.”


Saat duduk di teras, ternyata perdebatan Arnita dan suaminya masih berlanjut.


‘Gawat, kalau Juna sampai mengaku, jangan sampai dia mengaku’uacapku membatin merogoh ponsel dari saku celana untuk mengirim pesan pada Juna, agar tidak memberitahukan kunjungan kami ke rumah Lianta, baru juga ingin mengetik, tiba-tiba suara itu mengangetkan ku sampai ponsel jatuh.


“Kenapa Bang?” membuatku terkejut setengah mati, aku seperti pencuri yang tertangkap basah.


Bagaimana tidak. Saat aku sedang was-was agar tidak ketahuan sama Netta tiba-tiba saja  ia nongol. Ia menatapku dengan  bingung, kedua alis matanya saling menungkik bertanda bingung.


“Aduh Dek, kenapa kamu datang tiba-tiba?”


“Haaa?”


Ia menatapku penuh penyelidikan.


‘Mati aku ketahuan’ ucapku dalam hati.


“Abang  menyembunyikan apa?”


“Gak ada, lihat saja memang apaan.”


“Di hape.”


“Na … lihat Borneng.  Ada  apa di hapeku.”


Aku menjulurkan ponsel milikku padanya, ia meraihnya dan mengecek semua, tetapi tidak ada.


Melihat suasana yang tidak enak, daripada-daripada aku lebih baik pulang.


“Kita pulang, keburu malam, ayo,” ajakku sama Netta.


“Tunggu bentar lagi Bang, aku mau ngomong dulu sama amang boru.”


“Sudah besok saja.” Berjalan  buru-buru, aku tidak mau Netta ikut-ikutan marah seperti  Arnita.


Saat mau pamit pulang ….


“Bang, Tunggu!”


“Apa?”


‘Mampus aku, semua gara-gara Juna si kampret ini’ aku memaki laeku di Juna,  gara-gara bantuin ia aku pasti kena masalah juga. Aku diam, tidak tahu harus jawab, Juna bukannya bantuin malah diam bae …


“Kalian berdua ke rumah Lian ya!?”Arnita menatapku dengan tatapan kemarahan.


“Lian Siapa?” Tanya mami sama papi datang datang menatapku bingung.


Tentu saja aku panik, panik bukan karena mami dan papi mengetahuinya, bukan karena Arnita marah, tetapi aku panik saat Netta bersikap tenang dan diam. Itu salah sikap yang paling menakutkan untuk darinya lebih baik aku ditampar di tonjok dari pada didiamkan . Netta kalau marah seperti itu, ia akan diam tidak mengatakan apa-apa tetapi aku benci didiamkan.


“Siapa?” tanya papi.


“Mantan Juna.”


“ Mantan lae Jo!


Suara kami serentak tetapi berbeda jawaban, dengan begitu kami terdengar berbohong, Juna sudah terlihat pucat bangat, karena ada papi dan mami di sana, ia juga takut kalai Arnita.


“Astaga.... apa kalian berdua? Kenapa ada tentang mantan lagi setelah menikah,” ujar Mami wajahnya sangat kesal melihat kami berdua.


Benar dugaan ku, Arnita pasti akan  tahu, makanya kalau ada mantan lebih baik lupakan saja dari pada ada  masalah nantinya, tetapi aku akan menjelaskan semuanya. Karena tujuan kami menemui mantan untuk meminta maaf bukan untuk menjalin hubungan.


“Baiklah  aku jelaskan …. lae Juna tadi hanya ingin meminta maaf pada wanita yang pernah dia sakiti dulu, dia tidak  mau Arnita keguguran lagi.”


“Ha, kapan kegugurannya, kok kami gak tahu.” Mami kaget.


“Itulah Inang, aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak ingin terjadi hal buruk lagi pada Arnita dan bayinya, karena itulah aku mengajak lae Jo menemui wanita yang pernah  menyumpahi ku dulu, karen aku menyakitinya.”


“Jangan percaya hal kutuk-kutukkan Hela, karena yang Kuasa yang mengijinkan semua yang terjadi dalam hidupku kita.” Papi menasihati.


“Ya Amang aku tahu, tapi, karena aku sadar nakal di masa lalu, aku pikir perlu meminta maaf pada orang yang pernah aku sakiti agar hal buruk tidak terjadi pada keluargaku,” ujar Juna.


“Harusnya papa ngomong dulu denganku,” ujar Arnita mulai emosi naik turun lalu ia menangis.


“Ma, kalau aku izin, kamu pasti tidak mengizinkannya, makanya aku mengajak lae, aku tidak ingin macam-macam,” ujarnya panik, ia menatapku seolah-olah minta tolong.


“Kalian ini ada-ada sajam,” ujar mami.


“Sudah biarkan mereka menyelesaikan masalah  rumah tangga mereka, kita tidak perlu ikut campur hal begitu,” ujar papi mengajak mami masuk.


Karena itulah jangan sekali-kali bertemu mantan, kalau tidak mau kejadiannya sama aku dan Juna, jika harus bertemu bicarakan  baik-baik dengan pasangan, saat aku menoleh Netta  wajahnya masih terlihat sangat tenang melihatku, berbeda dengan Arnita yang  menangis dan marah-marah. Tetapi terkadang air yang tenang justru lebih menakutkan.


Bersambung...


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)