
Netta pernah mengatakan padaku, kalau Tuhan punya cara untuk menjawab setiap doa yang tulus para hambanya.
Begitu juga dengan keadaan tulang, teman papi, mereka berapa kali berkomunikasi belakangan ini, bahkan menurut mami, papi itu minta izin sama mami kalau ia ingin membantu temanya dengan memberinya modal, walau uang itu hasil dari kerjanya sendiri tetapi papi itu selalu memberitahu mami kalau ia memberi uang.
Tetapi itu belakangan ini berlaku, sejak mami sudah berubah, kalau dulu , untuk membantu keluarga papi tidak pernah beritahu mami, karena ia tahu tidak akan setuju dan selalu akan jadi awal pertengkaran untuk mereka, termasuk saat membayar uang kuliah Netta.
Tetapi saat ini, setelah mereka sudah tua, papi selalu memberitahu mami kalau ia memberi uang untuk keluarga ia ingin membeli apa ia selalu ngobrol dulu sama mami.
Begitu juga dengan teman papi yang marga Siregar, yang dari Sidikkalang , papi memberinya sedikit modal untuk membeli ternak kerbau di Sidikkalng, tetapi di balik semua keinginannya, ada satu keinginan besar yang ia minta pada Tuhan, katanya belakangan ini ia rindu melihat anak panggoarannya, dan cucunya.
Hampir lima tahun lamanya anak pertamanya dan anak satu-satunya itu tidak pulang ke kampung untuk menjenguk orang tuanya.
Setelah menceritakannya pada kami, hati kami semua begitu ikut sedih merasakan bagaimana seorang bapak merindukan anaknya
Bahkan Netta diam-diam menangis, melihat bagaimana tulang itu bercerita kalau ia ingin melihat cucu-cucunya.
Setelah kami semua mengurus tiket dan rencana kedatangan anaknya, ia sangat terharu.
“Mauliate bah … on ma ra cara ni Debata manjalo tamiangku melalui hamu nadua , Lae”
(Terimakasih … inilah mungkin cara Tuhan menjawab doaku selama ini melalu kalian berdua Lae,” cap tulang tersebut menatap papi dan bapa uda.
“Ah … dang pola songonni, so Manang ise, hita do pos roham, pajuppang doho dohot anakmi”
(Ah … jangan seperti itu, kita bukan orang lain, percayalah pasti bertemu dengan anak dan menantumu,” ucap papi menepuk-nepuk pundak mereka berdua, umur mereka sama, tetapi wajah tulang itu terlihat jauh lebih tua dari mereka berdua, kulit hitam terbakar matahari dan wajahnya terlihat sangat keriput tertimpa beban hidup.
“Aku kasihan bangat lihatnya, apa yang bisa aku bantu ya,” ucap Arnita ia duduk disampingku.
“Kita beli kebutuhan sehari-hari saja Dek,” balas Kak Eva.
“Jangan Da, bapa uda itu akan kesusahan membawanya pulang di sana juga bisa di beli, lebih efisiennya kasih uang,” ujar Netta.
Aku hanya duduk mendengar mereka berunding.
“Bagaimana kalau kita patungan nanti kita kasih amplop,” ujar kak Eva lagi.
“Aku setuju,” balas Arnita.
“Aku juga setuju, tapi … tunggu, kita lihat dulu seperti apa menantu jahanam itu sampai melarang suaminya bertemu keluarganya, kalau aku melihatnya besok pengen aku bikin sate saja kupingnya, biar dia gak gak punya kuping sekalian,” ujarnya geram.
Aku dan Juna yang mendengarnya bicara seperti itu menahan tawa, aku berpikir bagaimana cara ito ini memotong kuping orang lalu dibakar jadi sate,
“Aduh, kalau sudah emosi kakak Eva, terkadang menakutkan keinginannya,” ujar Jua, tetapi suami kakak Eva hanya diam melihat istrinya bicara panjang lebar seperti burung beo.
Malam itu, acaranya berlanjut di hotel.
Hotel milik keluarga Juna tersebut agak jauh dari Villa kami, jadi aku dan Netta ikut mengikuti acara malam itu, karena malam minggu suasananya semakin ramai, tidak diduga papi juga mengundang semua keluarga kami, mereka datang dari Jakarta ke Bali naik mobil ramai-ramai tante Ros dan semua keluarganya juga ikut tulang kembar semua keluarga tulang Gres dan semua keluarga dan lae Rudi juga ikut.
“Ah … papi undang keluarga kita juga?” Tanya Arnita.
“Aku sama bapa uda tadi sepakat, mengajak semua keluarga”
“Ya, bapa uda yang minta abang mengundang semuanya, tidak baik bersedih dan terpuruk selamanya, hidup harus tetap berlanjut, hadapi semuanya termasuk gunjingan keluarga,” ujar Bapa uda.
“Yes, aku sepakat sam bapa uda, tos dulu Uda,” ujar Kak Eva mengarahkan telapak tangannya lalu mereka berdua tos.
“Eh … tante cantikku,” ujar Arnita ingin berlari menghampiri tante Ros, tetapi tiba-tiba tangan Juna menari tangan istrinya.
“Gak usah lari-lari dek, nanti kamu jatuh,” ucapnya selalu siap siaga di belakang istrinya semua orang saling berpelukan bergembira menyambut keluarga kami. Tetapi mataku terus mencari Nettaku hilang.
Aku celak-celeguk ke semua tempat tetapi tidak ada kelihatan Netta.
“Lihat edamu gak Kak?” Tanyaku sama Kak Eva.
“Gak Ito”
Semua keluarga yang baru tiba mencari Netta, aku keluar … benar saja Netta sedang duduk dengan tulang tadi, satu telapak tangannya di pegang sama Netta, lalu ia mengusap-usapnya dengan lembut terlihat seperti seorang putri yang menghibur bapaknya yang sedang sedih.
Aku melihat bisa melihat tatapan tulus dari sorot mata Netta, wajah cantik seperti malaikat, selalu rendah diri dan tidak pernah menganggap dirinya hebat itulah istriku.
Tadinya aku tidak ingin menganggu obrolan mereka berdua, tetapi saat aku ingin balik badan suara Netta menghentikan ku.
“Sini Bang!”
“Apa aku tidak menganggu?”
“Tidak sinilah”
Duduk di satu kursi di samping Netta dan di depan kami tulang itu sedang duduk sedih, matanya sembab ternyata ia menangis sendirian dan Netta duduk menghiburnya.
“Jangan khawatir tulang dia akan datang besok pagi dengan kedua pahoppu tulang,” ujarku menghibur.
“Muruk doi annon tu au ake inang?” Ia menatap Netta.
(Marah gak dia samaku nanti Nak) Ia menatap Netta dengan perasaan cemas, hati kami semakin iba.
“Daong bapa uda, tenang bapa uda dang muruk,eta istirahat ma bapa uda asa sehat, asa kuat molo pajuppang marsogot ”
(Tidak bapa uda, tenanglah bapa uda, ayo bapa uda istirahat saja biar sehat dan fit saat bertemu besok” ujar Netta, kami membawa bapa uda itu ke kamarnya untuk istirahat, saat kami tiba ternyata bapa uda sama papi tidur di kamarnya juga, sengaja menemaninya agar tetap terhibur.
‘Benar-benar sahabat sejati’ ucapku dalam hati.
*
Akhirnya yang ditunggu datang juga, Pak Biden datang juga bersama istrinya.
“Selamat pagi Pak Jonathan”
“Pagi Pak, bagaimana perjalanannya, tidak mabuk kan?”
“Tidak Pak, ia bingung melihat banyak keluarga kami ada di hotel, apa ada acara Pak”
“Oh, tidak hanya acara liburan, mari ikut saya antar ke kamar kalian”
“Tidak usah diantar Pak, sebutkan saja nomor berapa”
“Tidak apa-apa ito. Mari kita antar.” Kak Eva berjalan di depan mereka, membawa Biden ke kamar di mana tulang itu menunggu.
Saat membuka pintu …. wajahnya sangat terkejut.
“Bapa! Naisondo Bapa!” Ia memeluk orang tuanya dengan penuh rindu ia menangis di pelukan bapaknya.
Kami semua tertegun, kami pikir tadinya ia akan marah, ternyata dengan dengan cepat ia memeluk bapaknya dengan haru, kami menduga masalahnya ada sama istrinya.
Tatapan tajam dari kakak Eva ditujukan pada istri Biden.
Sayangilah orang tua kita selagi dia masih dia hidup, jangan biarkan ia menangis karena menahan rindu, jika kelak dia sudah dipanggil yang kuasa, tidak ada rasa penyesalan di hati orang tua kita
Bersambung …