Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menunggu Waktu yang Tepat


Semua  keluarga mendukung kami pulang ke kampung, aku dan Netta mempersiapkan diri, tetapi rencana kami tertunda karena Netta  belum mendapatkan persetujuan pengajuan cuti dari pihak rumah sakit.


Saat duduk  meja kerja, Netta menelepon dengan suara lemah


“Bang … maaf ya.”


“Kenapa?” Tanya menahan suara.


“Cuti Ku  belum disetujui.”


Aku menghela napas panjang.


“Abang kecewa?”


“Tidak, bukan karena itu.”


“Lalu?”


“Aku kira ada hal yang buruk Dek.”


“Untuk bulan ini belum bisa, kita cari waktu yang lain ya Bang.”


“Baiklah, nanti kita bicarakan lagi di rumah Dek, kamu fokus saja kerjanya, bukannya kamu bilang hari ini ada operasi? entar kamu salah pasang  lagi, kuping kamu tempel di mata,” ujar ku bercanda.


Netta tertawa. “Memangnya operasi apaan,” ujar Netta.


“Ya sudah Dek, tidak apa-apa  lanjutkan saja kerja fokus.”


“Baik Bang.”


Aku tahu Netta juga pasti marasa kecewa karena  tidak dapat cuti, namanya juga bekerja  pada satu perusahaan pasti ada suka dukanya. Sebelum menutup teleponnya.


“Bang.”


“Ya.”


“Bang Jonathan  Alexsander Situmorang!”


“Apa! Nettania  Marta Br Nainggolan!”


Dia yang mulai dia juga ketawa. “Jangan marah  ya Hasian,” ujarnya lembut, mendengar kata hasian dari Netta rasanya  hati ini dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.


(Hasian > sayang)


“Baiklah Borneng,” ujar ku sembari tertawa seperti orang yang sedang kasmaran.


Sampai- sampai aku tidak menyadari ada Tari di depan meja, terlalu asik bertelepon sama Netta,  di depan mejaku sudah berdiri Tari pegawai bagian keuangan di kantorku, wanita  berkacama itu memincingkan  kedua alisnya saat melihat tingkah slengeanku pada Netta.


Ia pasti berpikir aku menelepon  wanita lain, sebentar lagi ia akan menyebar humor itu. Sebelum itu terjadi aku menegurnya.


“ Ini untuk perbelanjaan material di proyek   kantor  Cakung pak ,” ujar Tari.


Setelah aku periksa sebentar dan aku lihat rinciannya, barulah aku tanda tangan.


“Terimakasih Pak.” Ia merapikan  file yang ia bawa.


“Mba Tari!”


“Ya Pak.”


“Yang menelepon tadi istriku,” ujar ku menatapnya.


“Iya, iya pak,” jawbanya tersipu malu, lalu keluar dari ruangan ku.


“Dasar tulang gosip,” gumam ku pelan.


Saat sedang berkutat dengan setumpuk dokumen  di atas meja,  aku mendengar suara  ribut-ribut di ruangan karyawan .


“Ada apa?”


Penasaran aku ikut keluar,  pegawai  lelaki bagian drafter memberi buket bunga dan satu kotak bunga pada karyawan perempuan bernama Nina, saat aku keluar mereka kemudian menawan tawa.


“Ada pembagian apa?”


“Pembagian coklat Pak.


Mana coklatnya Pak?” Tanya Tari.


“Coklat? Memang kamu ulang Tahun ?”


Mereka semua tertawa. “Bapak ini pura-pura gak tau.”


“Memang tidak tau,  emangnya hari apa?”


“Eee … badboy lupa!” sorak bagian drafter, para lelaki itu memang sebagian  karyawan lamaku yang sudah mengenalku di masa lalu.


“Valentine Pak … Valentine …!”


‘Oh …. jadi hari ini hari kasih sayang? Apa karena itu tadi Netta panggil aku dengan Hasian?’


Ya ampun, aku mendadak pikun, tiba-tiba merasa seperti kakek usia enam puluhan, padahal dari jaman kuliah dulu selalu merayakan nya.


“Valentine Itu Bukan Budaya Kita


“Budaya Kita lebih Galak yang punya Hutang


Dari Pada yang ngutangin. Saat di tagih,” ucapku mengedipkan mata pada Pak Bayu.


“Valentine itu Bukan Budaya kita!


Budaya kita ditinggal saat Lagi sayang-sayangnya!” Balas Ronal.


“Bukan- bukan begini:


Valentine itu bukan budaya kita


Budaya kita  ceweknya seolah memberi sinyal cinta pada kita


Tetapi saat di tembak ngakunya sudah pacar!” Teriak Tio  sembari menyenggol Bayu.


Ternyata yang ribut-ribut barusan Bayu  memberi buket bunga dan coklat untuk Nina,  ia mengatakan cinta pada wanita sang pujaan hati, ternyata di tolak.


Saat aku meliriknya ia menunduk, wajahnya sangat kasihan, lelaki bertubuh kurus itu selalu jomblo, sekali menembak  wanita idaman langsung di tolak.


“Mana Pak Coklatnya?” Tanya Tari lagi.


“Gak ada coklat,  sebagai gantinya  saya traktir makan siang saja semuanya orang kantor,” ujar ku.


“Hore, Lumayan, lepas uang makan untuk siang,” ujar mereka.


“Orang lapangan gak Pak?Orang lapangan paling capek Pak,  mereka ini hanya duduk di AC, kita di panggang di matahari?” Frans.


Ikut angkat tangan.


“Ya, pesan saja sekalian, kamu kordinasi sama Tari.”


“Baik Pak terimakasih.”


Aku memang tidak seperti dulu, yang selalu  membuat jarak antara bos dan atasan, saat ini aku memilih dekat dengan mereka.


Aku berpikir tanpa mereka aku tidak ada apa-apanya, disaat perusahaan ku jatuh terpuruk,  merintis dari bawah lagi, waktu itu aku  bilang pada mereka aku hanya bisa  gaji di bawah UMR, tidak disangka mereka mau dan bangkit bersama mereka.


Orang-orang  yang kerja di kantor sangat profesional, saat istirahat mereka mau bercanda padaku, di saat  membahas pekerjaan atau diwaktu jam  kerja mereka kembali serius, serta profesional bagaiman seharusnya.


Belajar dari Lae ku Rudi yang menjadi berkat untuk keluarga kami terutama keluarga tulang Gres, aku beharap juga aku bisa berkat untuk orang lain.


“Ya sudah kalian makan siang saja, ada Tari yang sebagai jaminannya, nanti pas mau bayar tinggalkan saja dia sana,” ucapku bercanda.


“Kok jadi aku Pak?”


“Kan, kamu yang pegang uang kantor Tar, kamulah yang akan membayar mereka.”


“Oh, makasih Pak. Ayo semua aku bayarin, tapi pakai uang perusahaan,” ujar wanita berkerudung hitam tersebut  dengan wajah ceria.


Mereka semua keluar, tetapi Bayu kembali duduk ke mejanya.


“Loh … kok kamu gak ikut?” tanyaku menatapnya.


“A-aku malas Pak,” jawabnya sedih.


“Kamu masuk ke ruangan saya,” pintaku padanya.


“Bapak tidak makan siang?”


“Nanti saja.. Kita bicara sebentar.”


Lelaki tinggi kurus itu masuk.


“Ada apa Pak?”


“Duduklah sebentar.” Ia duduk.


“Kenapa? Kamu patah hati karena di tolak Nina?” tanyaku, ia menatapku dengan  bingung, karena  ia tahu  selama ini aku bukan tipe bos yang mau ikut  campur dengan  hal pribadi karyawan. Tetapi aku ingin mencoba menghilangkan sifat-sifat seperti itu. Netta mengajari banyak hal termasuk sikap peduli bagi sesama.


Bukan hanya dengan materi, dengan perhatian juga itu termasuk sikap peduli.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)