Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ingin Jadi Bapak


Ingin Jadi Bapak


“Terdengar kejam memang, aku juga tahu aku melakukan kesalahan tapi aku sudah berusaha memperbaiki kesalahanku dan aku keluar Ta, aku juga meminta maaf padamu dan semua keluarga.


Itu caraku mempertahankan rumah tangga kita dek, aku sudah bicara baik-baik dengannya, tapi ia tidak mau dengar, aku tidak rela kalau ia sampai menyakitimu, kamu tidak pantas mendapatkan itu, kalau ia memukulku tidak masalah tapi jangan kamu.”


“Baiklah kalau abang merasa itu jalan yang terbaik,


aku mendukung abang,”


kata Netta melempar senyum manis


Mungkin banyak orang yang berpikir kalau sikapku keterlaluan karena memenjarakan Mikha, tapi kalau ia tidak melukai Netta aku tidak bakalan melaporkanya.


Walau ia wanita yang pernah bersamaku selama bertahun-tahun, aku tidak perduli, aku perduli masa sekarang.


Pasti teman-teman yang lain yang mengenalku dan Mikha, menganggap ku lelaki tidak bertanggung jawab, tapi mereka tidak tahu apa yang sudah aku lakukan, aku sudah berusaha bicara bai-baik, aku juga pernah menawari satu rumah tapi ia menolak, ia hanya menginginkanku.


Aku tidak perduli dengan tanggapan orang lain denganku, aku hanya menginginkan dukungan dari Netta.


Saat ini seorang dokter wanita memeriksa Netta.


Sepertinya aku dan Netta harus menginap malam ini di rumah sakit karena Netta belum di izinkan untuk pulang dari rumah sakit, kami harus menginap satu malam ini di rumah sakit.


Seminggu sejak pemukulan yang di lakukan Mikha, aku mendengar Mikha sudah di bebaskan dengan jaminan seseorang.


Karena aku sudah janji pada Netta kalau aku tidak akan mengurusi Mikha lagi, aku punya firasat kalau ia tidak akan diam begitu saja, apalagi aku sudah mengirimnya ke penjara.


Mendengar ia sudah di bebaskan, aku berpikir apa lagi yang akan di rencanakan selanjutnya.


Aku dan Netta menjalani hidup dengan baik, tidak ada kesalahpahaman lagi, aku sengaja berganti nomor dan ponsel juga, bahkan mobil kesukaanku aku jual, aku ingin semuanya baru dan hidup yang baru juga dengan Netta.


Aku dan Netta sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah Mami.


Malam ini seperti biasa, duduk berdua di ruang tamu di depan televisi. Netta membaca buku bersandar di punggungku, aku di depan laptop membawa kerjaan kantor ke rumah.


Ia tidak pernah protes kalau aku membawa pekerjaan kantor ke rumah, terkadang ia malah ikut membantu memeriksa, otaknya yang pintar membuatnya cepat menemukan kalau ada angka yang selisih saat memeriksa laporan kantorku.


“Bang, kita pulang iya ke rumah Bou ,”


kata Netta tiba-tiba malam itu, seakan membaca pikiranku, saat itu kebetulan pikiranku memikirkan keluargaku, walau Mami galak dan suka bertindak sesuka hatinya, terkadang membuat banyak orang sakit hati karena gaya bicaranya, tapi biar bagaimana pun ia tetap orang tuaku.


Netta sering mengajakku pulang ke rumah Mami, tapi melihatnya nanti di marahin membuatku sering menolaknya, karena kalau ia memarahi Netta aku tidak suka melihatnya, dan kadang tidak tahu cara mendukungnya.


Jika mendukung istri takutnya jadi anak durhaka, kalau membela Mami tidak tahan melihat Netta karena ia istriku.


“Kamu tidak apa-apa nanti kalau Mami mengamuk lagi dan merepetimu?,”


tanyaku menghentikan jari-jariku dari laptop, dan menatapnya dengan serius, memastikan jawaban dari Netta.


“Tidak apa-apa, aku sudah siap,” kata Netta.


“Baiklah, kalau kamu sudah siap mendapat omelan dan kemarahan Mami,” kataku.


“Besok iya’ tapi bagaimana kalau aku masak dari sini, kita bawa ke rumah?”


Ia selalu berusaha membuat Mami tidak marah, tapi sepertinya Mami sudah terlanjur membencinya karena apapun yang di lakukan Netta selalu saja salah sama Mami.


“Tidak usah, kita bawa buah-buah saja besok,” menolaknya, aku tidak ingin membuat Netta tambah sedih, karena sebenarnya Mami sering menelepon ke kantor, menanyakan kabar, tapi ujung-ujungnya Mami pasti menjelek--jelekkan Netta padaku. Tentu saja aku tidak


Suka mendengarnya.


Kadang aku bingung sama keluargaku, dulu saja mereka yang memaksaku untuk menikah dengan Netta, tapi setelah aku memulai hal yang baru kenapa malah Mami menentangnya.


Karena tidak semua apa yang di inginkan orang tua harus di turuti, terkadang orang tua juga bisa salah.


jawab Netta tidak pernah membantah omonganku.


“Ayo tidur.”Netta berdiri.


Tapi ada satu hal sebenarnya yang ingin aku tanyakan sama Netta, tapi aku takut ia tersinggung karena rumor yang di buat Mikha.


“Ta, aku ingin bicara sebentar, boleh?”


Matanya menatapku dengan serius, Netta yang sekarang bukan Netta yang dulu aku kenal.


Netta yang dekil dengan kulit kusam, wajahnya yang dulu yang banyak pulaunya, kini sudah menghilang putih bersih dengan alis tebal tertata rapi.


Netta yang sekarang, terlihat seperti anak Kota, kulitnya putih bersih, tapi bukanlah ke salon mewah seperti Mami dan Arnita, yang bisa sampai puluhan juta, jika sudah mampir ke salon. gaya hidup Mami dan Arnita adikku sangat mahal.


Netta melakukan perawatan alami di rumah, ia juga menjaga pola makan, dan selalu rajin olah raga, gampang senyum tapi tidak banyak bicara, calon ibu Dokter idaman.


“Abang mau ngomong apa?” Mata Netta menatapku dengan serius.


“Sini duduk lagi,” tanganku menepuk sofa di sebelahku.


“Iya sudah, abang mau ngomong Apa?”


“Aku sudah lama ingin bertanya padamu Ta, kamu tidak minum pil KB kan?”


“Gak kok bang, walau waktu itu aku bilang belum siap, tapi saat ini aku sudah siap kok untuk hamil , mungkin belum waktunya di kasih.


bagaimana kalau kita periksa ke Dokter?”


tanya Netta.


“Aku merasa lega Ta, aku pikir kamu menundanya karena kamu ingin fokus kuliahmu.”


“Tidaklah, segala sesuatu nya aku pasti bertanya abang dulu, apa lagi ini menyangkut anak, itu hal yang paling utama dalam rumah tangga.”


“Aku ingin punya anak Ta, aku ingin menjadi seorang bapak.” Ucapku bernada serius.


“Mungkin kita harus bekerja keras lagi agar dapat anak,” kata Netta menyipitkan matanya.


“Iya… mungkin kamu benar, ayo… kita harus kerja keras, mungkin kita juga harus melakukan banyak gaya,”


kataku, menarik tangan Netta.


“Eh, mau kemana?”


Netta menahan tawa melihat tingkahku.


“Kita kan mau kerja keras mau bikin anak.”


“Begini bang, menurut ilmu kedokteran


“Sudah, sudah kalau kamu bicara ilmu kedokteran langsung sakit kepalaku.”


Aku memotong penjelasanya, menggendongnya ke kamar, Netta hanya tertawa terkekeh melihatku menggendongnya.


“Apa kita mau bikin anak,” tanya Netta dengan mulut menahan tawa.


“Iya aku mau lima ronde.”


“Ah sedikit,” ucap Netta menggoda.


Meletakkan Netta di ranjang dan berlanjut ronde pertama dan seterusnya, berharap malam ini mendapat hasil.


Bersambung....