Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kejutan


Kejutan .


Malam itu kami semua masih duduk bersantai di depan Villa , Lae Rudi memetik gitar, ia dan Riko memang pintar nyanyi lagu-lagu Batak yang terkenal dengan nada-nada tinggi, depan Villa sudah seperti lapo tuak


Sementara Netta  sibuk dengan ponselnya,  ia catingan dengan seseorang , sesekali ia melihat Candra dan mengetik sesuatu dan mengirim pesan, Candra tampak beberapa kali menganganguk tanda setuju.


‘Ada apa dengan orang ini dua? Apa mereka saling berkirim pesan?’


Sebagai suami Netta, aku wajar curiga, aku sengaja duduk di samping, mamataku melirik layar ponsel miliknya.


“Apa ada  Dek? Dari  tadi sibuk terus?” tanyaku curiga.


“Tidak ada apa- apa Bang?”


“Tidak ada, tapi kamu sibuk mengirim pesan dari tadi,”ujarku kesal, Netta hanya  tersenyum kecil.


“ Ada kejutan nanti,” ucapnya lagi.


Saat sedang  mengumpul dengan keluarga tertawa bersama, tiba-tiba, sosok yang selama ini di rindukan datang.


 Edo akhirnya menunjukkan dirinya pada keluarga, sejak bapa uda sakit dan tante bikin ulah, ia marah dan menghilang dari peredaran sampai beberapa bulan. Tidak lama kemudian ia datang, tetapi ia tidak datang sendiri Edo datang dengan seorang wanita.


“Bapak …!” Ia memeluk bapa uda yang saat itu duduk   bercerita dengan papi, sedangkan kami  anak-anaknya  saling bercanda, mami dan Kakak Eva rebutan jagung bakar, mereka berdua bagai Tom dan Jery Netta, Tivani, Lasria, Arnita tertawa melihat ulah ibu anak  yang selalu bertengkar tersebut.


Mata kami semua tertuju pada sosok baru datang.


“Dek, salam ini bapak,”ujar Edo pada wanita muda yang bersamanya.


“Bah … naung mamboan calon do, nungga dengganni”


(Wah, sudah bawa calon sudah bagus itu”ujar mami.


Setelah semua di salam, kami  duduk ke rumah karena ada tamu spesial, saat kami semua terkejut Nette dan Candra ternyata bersikap tenang.


“Tiba-tiba Edo berdiri dan memperkenalkan secara resmi wanita yang bersamanya.


“Bapa, bapa tua, mama tua maaf jika selama ini aku tidak ada aku memang marah sama mama dan kecewa, tetapi semua itu sudah aku terima dengan lapang dada. Maaf jika kedatangan kami mendadak.


Aku ingin memperkenalkan dia secara resmi. Namanya Lyra  Putri boru Naibaho dia istriku, kami sudah menikah "


Wajah bapa uda tampak tegang, tidak ada berita tidak ada kabar tba-tiba  Edo datang membawa istri, ia terdiam sangat lama, begitu juga dengan Candra dan yang lainnya tidak ada yang berani buka mulut, jelas sekali  mereka semua terkejut.


“Kenapa tidak memberi kabar pada keluarga, kedua orang tuamu masih hidup dan  masih sehat tapi kamu menikah  tanpa kami tahu,” ujar mami.


“Aku hanya ingin menikah tanpa ada pesta ada besar  mamak tua, kami menikah hanya diberkati dan  sudah izin dari kerjaku”


“Maksud kamu boru Naibaho ini sudah hamil duluan?” Tanya mami.


“Mami dengarkan saja repot bangat si!” Bentak Kak Eva.


“Dari mana kampung boru Naibaho ini, di mana orang tuanya?” Mami kembali kayak inag-inang Batak pada umumnya yang selalu menyelidiki  menantunya dari A-Z.


“Aku tinggal di Medan Namboru “


“Dang namboru au simatuam do au”


(Aku bukan Namborumu aku simatuamu” ujar mami.


“Mananya tidak ada emasnya,” bisiknya lagi sama Kak Eva, Kak Eva langsung melotot kesal sama mami. Lebih dari situl yang akan dilakukan tante saat ia ada disana, mami sepertinya mewakili kembarannya saat itu.


Istri Edo langsung diam wajahnya benar-benar tertekan berada diantara  ibu-ibu parbada itu.


“Dia mamak tuaku Dek, dia kakak mama berarti dia ibu mertuamu,” ujar Edo.


“Maaf Inang”


“Boru aha omakmu? Aha karejo na? Tinggal di didia?


“Mamaku boru Sinaga, tinggal di  Samosir Inang”


Mungkin sudah satu kebiasaan kalau menantu datang ke rumah  akan di interview seperti saat itui, bagaimana pun cara kami melarang mami tetap melakukannya.


“Apalah pekerjaanmu?”


Istri Edo melirik suaminya ia benar- benar  ditanya  semua sama mami, Edo mengangguk.


“Aku jualan baju Inang”


“Bah hupikir naking PNS”


“Aduh, kupikir tadi pegawai negeri,” ujar mami kaget.


“Mi, sudah, Edo sudah memilih dia jadi istrinya kenapa kita tidak mendukungnya”


“Tapi dia kan hamil sebelum  menikah, kita harus tahu motifnya,” ujar Mami.


Mami lupa kalau Arnita juga dulu hamil  sebelum menikah, tetapi itulah mami,  ia melupakan kesalahan besar diirinya, tetapi  cepat melihat keburukan orang lain, coba kalau Edo  membalikkan pernyataan mami, apa ia tidak bertambah malu. Tetapi ia menahan diri karena menghormati aku dan papi.


“Mi … mereka sudah menikah, bisa mami jangan membahas yang lain? Kita hargai Edo karena dia datang ke sini.” ujarku.


“Kita dengarkan saja apa yang dijelaskan mereka berdua,” ujar papi lagi.


“Maaf Mak Tua, dia tidak hamil diluar Nikah, sebenarnya aku  minta duluan menikh sama mama dulu, tetapi mama menolak tidak boleh melangkahi abang, katanya, ya sudah,  setelah abang menikah aku bilang sama mama lagi, mama menolak menerima wanita pilihanku aku tidak mau mama yang memilih istri untukku.


Ya, sudah setelah seminggu abang menikah aku juga diberkati”


“Apa bapak tahu?”


“Bapak yang memintaku membuat keputusan sendiri”


“Lalu mama tau?”


“Tidak, mama tidak tahu, tetapi abang Can tahu”


“Aku yang meminta menikah, untuk apa pesta mewah kalau hanya pamer, lebih baik menikah secara sederhana tapi bahagia,” ujar Candra.


Kami semua diam, aku tidak tahu kalau Candra ternyata melindungi semua adik-adiknya aku pikir ia diam selama ini  seperti itu tidak ada perhatin, ternyata ia mendukung Edo menikah  tanpa adat, karena dalam adat Batak tidak boleh pesta dua orang, dalam satu tahun, makany Edo menikah tanpa adat Batak , katanya ia hanya melakukan resepsi sederhana  dengan teman-teman dan komandannya.


“Sudalah Bapak Candra, terimalah menantu ini. Ambil beras dulu,” ujar papi  Kak Eva membawa dalam piring akhinya bapa uda dan papi memberkatinya dengan beras.


Kamui semua masih terkejut karena Edo datang membawa istri yang sudah hamil, Lasria dan Rikko terlihat kecewa karena  bapa uda tidak dilibatkan dalam pernikahan mereka. Sedih memang.


“Walaupun abang  marah sama mama, tapi bapak ka masih ada harusnya kasih tahulah bapak kalau abang  mau menikah,” ujar Lasria dengan suara bergetar.


“Sudah Inang, bapak sudah ikhlas, ” ujar bapa uda.


“Aku tidak ingin membebani bapak dengan pernikahan kami”


“Itu tidak membebani Bang, bapak selama ini selalu memikirkan abang, tetapi abang  tidak memikirkannya sedikitpun tentang bapak kita, aku  kecewa,” ujar Lasria.


Walaupun semua terkejut tetapi ada kegembiraan di balik pernikahan Edo.


“Sebenarnya adat na gok, dohot adat na gelleng sarupa do makna na petting diatas sasudenai dipasu-pasu dohot dos roha"


(Sebenarnya pesta adat besar dan adat yang kecil sama artinya yang penting diberkati dan saling mengerti,” ujar bapa uda.


Nettalah yang memaksa Edo datang, sebenarnya ia  tadinya belum ingin memperkenalkan istrinya pada keluarga kami, tetapi atas dukungan Candra dan Netta ia memberanikan diri membawa kejutan besar untuk keluarga kami.


 Bersambung ...


Bantu like dan Vote, Kasih hadiah agar masuk rank ya Kakak bantu share juga.