Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ingin Memutuskan Hubungan Terlarang 2


Mikha! Dengar…


Aku datang kesini bukan untuk mendengar curhatan mu.”


Kataku menjauhkan tubuhnya dariku.


“Dengar, kapan kamu menemui Netta? Apa yang kamu katakan pada Mami? dan untuk apa kamu menemui Netta saat itu?”


Aku bertanya dengan nada tegas.


Ia terkaget menatapku dengan mata membulat, ia pikir apa yang ia lakukan tidak aku ketahui.


“Itu aku hanya-“


“Katakan!” Aku membentaknya, dengan suara meninggi, membuat bahunya berkedik karena kaget.


“Iya, aku menemui cewek kampung itu, aku bilang kalau kamu milikku, ia hanya perusak hubungan kita, ia sebenarnya orang ketiga dalam hubungan kita, bukan aku, harusnya aku yang menjadi istrimu.”


Mikha berkata lantang.


“Mikha!


kamu tau gak… Kamu merusak rumah tanggaku, kamu dulu bilang tidak masalah kalau aku menikah, kenapa sekarang kamu mengusik keluargaku juga.” Kataku menahan emosi yang hampir meledak.


“Aku yang harusnya yang jadi istri kamu, aku tidak mau hanya bayangan kamu saja


aku ingin dirimu yang seutuhnya, aku ingin jadi istrimu dan hidup bersamamu.”


“Dengar iya Mikha, aku sudah menikah dan tidak akan menikah lagi, bagiku cukup menikah sekali seumur hidup, dulu kamu bilang tidak masalah kalau hubungan kita hanya sebatas kekasih.”


“Aku berubah pikiran, aku ingin jadi istrimu, menyingkirkan wanita kampung itu dengan caraku, dan itu sangat gampang.” Mikha terlihat sepele.


“Apa maksudnya?”


“Mami kamu percaya padaku, adik bungsu kamu juga sangat mendukungku, ia dan teman-temanya sudah beberapa kali menginap di apartemenku,


ia supel, katanya ia lebih mendukungku jadi istrimu, dari pada anak kampung itu,” Mikha menghina Netta menyebutnya dengan wanita kampung.


“Apa yang kamu katakan pada Mami?” aku menatap dengan tajam.


“Tidak bilang apa-apa.”


Mikha mengelak.


“Katakan dengan jujur, tidak mungkin masalah ini sampai sebesar ini, jika kamu tidak mengatakan apa-apa ke Mamiku,”


Aku mendesaknya dadaku hampir meledak.


“Katakan Mikha dengan jujur, kamu tau aku kan, aku gak suka orang yang tidak jujur, jangan buat aku membencimu.”


Aku menatap dengan kemarahan.


Ia diam, menatapku dan kembali mengalihkan pandangannya kearah lain, aku tahu ia menyembunyikan sesuatu.


“Aku menemui Mami kamu, itu karena kamu tidak bisa di temui, dan kamu tidak mau mengangkat teleponku, tidak mau membalas pesan dariku, maka itu aku menemui Mami langsung.”


“Mami??”


“Iya, kalau ia Mami kamu, aku juga harus memanggilnya seperti itu,


karena aku calon istri kamu,” Mikha terlihat percaya diri dengan semua kata-katanya.


“Apa yang kamu adukan sama Mami tentang, Netta?”


“Mami kamu bilang, ia ingin cucu dan Netta tidak bisa memberikannya.”


“Terus!?.”


“Aku bilang aku akan memberikan cucu yang banyak buat Mami.”


“Terus?,” tanyaku lagi makin memburunya dengan berbagai pertanyaan.


“Terus.


Mami kamu setuju.”


“Karena apa ia setuju?”


Aku bertanya lagi kali ini menatap langsung kedalam manik-manik matanya menguncinya di sana.


“Karena Mami menyukaiku, ia mendukungku ia menyesal memilih anak kampung itu jadi menantunya, ia malu memperkenalkannya pada teman-temanya.


Mikha bercerita seakan ia sudah jadi seorang pemenang piala oscar,


ia seakan bangga dengan pencapaian yang ia lakukan, karena berhasil mengusir Netta dari rumah.


“Terus apa yang kamu katakan tentang Netta ke mami?”


Dadaku terasa sesak mendengar fakta itu dari mulut Mikha membuatku emosi . tapi tidak tahu pelampiasan emosiku untuk siapa.


di usianya seperti itu tentu ia tergiur dengan popularitas, Arnita ingin menjadi seorang model.


Ia menukar keutuhan rumah tangga abangnya demi sebuah popularitas.


Mami aku tidak habis pikir padanya. Ia sudah bergelimang harta dan kekayaan, tapi saat Mikha memberinya barang-barang mewah, ia tergiur juga.


Apa rumah tangga dan kebahagian anaknya bisa di tukar dengan uang?


Nettaku istriku…!


Tiba-tiba aku sangat merasa kasihan padanya, bagaimana perasaannya saat mertuanya malah mendukung wanita lain untuk anaknya, yang sejatinya itu sebuah kesalahan. padahal Mertuanya adalah bibinya sendiri.


Bou atau mertua yang harusnya menjaganya malah membiarkannya sendirian malah menusuknya dari belakang.


Jika aku di posisi Netta entah apa yang harus aku lakukan. Mungkin sebagai lelaki aku sudah mabuk-mabukan.


Suami selingkuh, mertua mendukung perselingkuhannya, dan adik ipar jadi biang adu domba. Komplit sudah yang di rasakan Netta selama bersamaku.


Netta maafkan kami, maafkan aku.


“Kamu, menemui Mami di mana?


Di rumah apa di luar? Katakan juga Fitnah apa yang kamu karang untuk Netta?” kataku menatapnya lebih tajam, merasa sangat marah, saat itu juga aku sangat membencinya, membenci karena sudah menghasut Mami dan memFitnah Netta.


“Aku tidak pernah memFitnahnya, itu kenyataan, aku melihatnya,” kata Mikha terlihat sangat yakin.


“Apa yang kamu lihat, apa yang mau kamu katakan?


Katakan semuanya, tidak ada yang ditutupi,


katakan dengan jujur,” ucapku dengan nada tegas.


“Aku melihat Netta mendatangi rumah sakit bagian masalah kandungan.”


“Terus kamu membuat kesimpulan sendiri?”


“Kalau ia tidak mandul, kenapa ia tidak hamil sampai sekarang, apa coba?”


Mikha menatapku dengan sangat dalam.


“Oh sial, kenapa kamu memfitnah orang seperti itu Mikha…!”


“Aku tidak bohong itu benar adanya, kan?”


“Mikha dengar…


Aku ingin kita sampai disini, aku berharap kamu mendapatkan lelaki yang tepat dengan kamu,


aku ingin memperbaiki rumah tanggaku dengan istriku,” kataku dengan berusaha memberinya pengertian.


“Aku tidak mau, kenapa saat Mami kamu sudah memberi restu, kamu malah mundur?”


“Aku tidak mundur Mikha, aku lelaki yang bertanggung jawab, saat ini, aku sudah menikah dan aku ingin menjaga istriku dengan baik, karena aku sadar apa yang kita lakukan kesalahan dan aku ingin memperbaiki,” kataku,


berharap Mikha mengerti.


“Aku tidak perduli, aku tidak mau pisah, aku tidak mau berhenti


selagi keluargamu memberiku izin, aku akan terus berjuang, karena dari awal kita sudah punya hubungan yang sudah terjalin lama empat tahun,


apa kamu sadar itu?” wajahnya menahan tangisan.


“Aku tidak ingin melihat ke belakang Mikha, jadi tolong jangan mengungkit masa lalu.”


“Apapun kamu bilang aku tidak mau.”


Mikha ia tidak terima aku putuskan.


“Aku berharap kamu mengerti Mikha,” kataku mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang, ia selalu ingin memeluk pinggangku, tapi aku sudah berkomitmen keras dari rumah bahwa hubunganku dengan Mikha berakhir saat itu juga.


“Aku tidak akan rela sampai kapan pun Jonathan!


aku akan tetap berjuang, akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu.”


Mikha bangun lagi, ia ingin memelukku, tapi aku selalu menolaknya.


Tidak ingin berubah pikiran, aku memutuskan meninggalkannya,


“Aku pulang , aku berharap kamu jangan menemui ku lagi.”


Ia berteriak tidak terima, ia mengancam akan menyakiti Netta.


Aku keluar dan masuk ke dalam mobil, baru duduk sebentar aku melihat seseorang di lobby Hotel sepertinya ingin menemui Mikha.


“Ckkk, dasar” aku mendengus kesal dan meninggalkan Hotel.


Bersambung..