Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Saat Netta Pingsan


Setelah marah sama mami, aku  berdiri, ingin pergi setelah melihat mami menangis sesenggukan, Sementara papi dan kakak Eva minta maaf padaku, sebenarnya aku  tidak apa-apa yang aku pikirkan itu Netta, tadi wajahnya sudah pucat karena kecapean dan belum makan dari pagi hingga sore. Saat lagi berdiri Juna menelepon.


 “Lae … naik ke atas inang bao pingsan”


“Apa? Netta pingsan?”


“Pingsan?” Papi ikut panik.


Aku berlari  secepat kilat menuju ruangan Arnita.


Semua oran jadi ikut panik saat Netta pingsan,  saat aku tiba,  ia sudah berbaring di atas ranjang di samping kamar Arnita seorang dokter memeriksa Netta.


“Apa yang terjadi Dok?”


“Saya lihat gejalanya dia kecapean dan belum makan, lambungnya kosong, nanti kita akan periksa lebih lanjut ya Pak, tolong tunggu di luar dulu”


Kami  semua berdiri dengan panik di luar ruangan Arnita, mami semakin menangis, saat mendengar Netta pingsan karena kelelahan dan belum makan.


“Mami minta maaf padaku, aku tidak tau, kalau dia belum makan dari pagi,” ujar mami semakin menangis.


“Aku juga minta maaf To, karena aku eda jadi sakit,” ujar Arnita .


“Tidak apa-apa kamu istirahat saja biar cepat pulih,” ujarku.


Aku serasa berhenti bernapas saat melihat Netta pingsan, aku ingin berteriak marah,  karena tidak bisa menjaganya, kalau saja aku tidak selalu menuruti permintaan mami, Netta tidak akan sakit seperti itu.


Beberapa menit kemudian, dokter yang memeriksa Netta akhirnya keluar.


“Bagaimana Dok? Istriku sakit apa?” Tanyaku dengan panik pada  reka kerja Netta.


“Tidak pak, dr. Netta hanya lelah saja katanya, dia sudah bangun, masuk saja”


Aku masuk ke ruangan  tersebut,  Netta masih berbaring lemah wajahnya masih terlihat sangat pucat.


“Tidak apa-apa aku hanya kelaparan,” bisikknya tersenyum.


‘Masih bisa -bisanya ini orang tersenyum, padahal aku sudah hampir mau mati karena takut’ ucapku dalam hati.


“Apa yang kamu rasakan Eda?” Tanya Kak Eva.


“Lapar,” ujarnya sembari tertawa.


“Jadi kamu pingsan karena lapar?” Mami ikut masuk.


“Maaf ya karena aku pingsan semua jadi panik,” ujar Netta.


Aku masih diam, aku masih kesal melihat dua-duanya Netta sama mami.


“Maaf ya Eda, aku tidak tahu kalau eda belum makan dari tadi pagi,” ujar kak Eva.


“Ya, karena kita semua sibuk, aku sendiri lupa belum makan”


“Kamu mau makan sekarang apa tunggu pingsan lagi?” tanyaku, aku berdiri.


Semua diam menatapku dengan takut.


“Sekarang saja Bang.” Netta menatapku dengan diam.


Aku mengambil satu nasi kotak yang disediakan mertua Arnita dan memberikannya pada Netta. Tidak banyak komentar, Netta makan dengan buru-buru, sesekali ia melirik jam, karena ia masih ada pasien yang menunggunya.


“Aku masih  kerja,” ujar Netta meletakkan  bungkus nasi kotak di atas nakas di samping tempat tidur.


“Apa kamu mau bilang … kamu akan kerja lagi?” tanyaku menatap Netta tajam.


“Bang itu tugasku”


“Nettania …! Kamu baru saja sadar dari pingsan, memangnya hanya kamu dokter di rumah sakit ini!”


“Bang suaranya di kecilkan, jangan teriak-teriak seperti itu,” ujar Netta.


“Kamu itu bukan robot Netta, jadi berhenti bersikap seolah-olah kamu bisa melakukan semuanya. Jangan kerja lagi!”


“Abang, kenapa sih marah-marah terus dar tadi, apa masalahnya?” Netta menatapku dengan bingung.


“Masalahnya kamu Netta … kamu!”


“Baiklah, aku tidak akan berkerja lagi, aku akan minta orang lain menggantikan. Bisakah kamu berhenti berteriak-teriak sekarang?” tanya Netta menatapku dengan tatapan tajam juga.


Seketika aku tidak bisa bicara,  saat melihat tatapannya  yang sinis, aku memilih diam dan keluar dari ruangan  tersebut. Beberapa minggu ini, aku  merasa seperti wanita yang sedang pms, gampang bangat emosian, gampang tersinggung .


‘Ada apa denganku, kenapa juga aku marah-marah gak jelas seperti itu’ ucapku dalam hati, tanganku mengaduk-aduk nasi goreng dalam piring, saat marah sama Netta, aku merasa  lapar, padahal sore tadi, aku sudah makan nasi kotak yang disediakan mertua Arnita, sekarang aku merasa lapar lagi, saat lagi fokus ke nasi dalam piring, tiba-tiba ada suara yang familiar.


“Satu Bang.” Papi duduk di sampingku . “Memang kalau lagi marah-marah, bawaannya jadi pingin makan ya Bang, papi barusan marahin mami juga,” ucapnya lagi,  ia seperti bapak yang mencoba membujuk anak laki-lakinya yang sedang merajuk, aku hanya diam mendengar cerita papi.


“Papi kenapa makan nasi goreng. Bukannya kata Kak Eva papi gak bisa makan ini?”


“Sttt … dia tidak akan tahu, kalau kita makannya dengan diam-diam,” ucap papi lagi.


Aku sengaja menunggu pesanan papi datang agar kami bisa makan berdua sambil mengobrol.


“Maaf tadi Pi, aku marah-marah, aku hanya kasihan sama Netta”


“Tidak apa-apa,  papi mengerti apa yang kamu rasakan,” ujarnya lagi.


Setelah bicara berdua sama papi dan  mencurahkan semua kemarahan yang aku rasakan dari beberapa hari, papi hanya mendengarnya,  dengan  begitu kemarahanku sama mami dan Netta berangsur pulih, papi juga memberiku masukan dan nasihat-nasihat bijak.


                               *


Satu Bulan setelah melahirkan, Arnita mengadakan acara potong rambut untuk putrinya, kalau dalam adat Batak,  ada  satu acara adat,  di mana … tulang dari bayi, harus  pertama memotong rambut keponakannya,  barulah bisa di botak dan di beri nama oleh keluarga. Adat itulah yang di adakan Arnita, kami di undang ke rumah mereka untuk mengadakan acara potong rambut. Acara  biasa juga, bisa jadi mewah dan meriah kalau ada uang, itulah yang aku lihat hari ini, mertuanya mengudang saudara-saudara mereka juga.


“Potonglah rambutnya Mang, lalu taruh di piring itu” Aku melakukan sesuai anjuran papi. Memotong sedikit  ujung rambut bayi, lalu diletakkan di atas piring yang dipegang Lae Juna.


“Kasilah sirihnya itu sama tulangnya,” ujar mami.


Lalu Arnita memasukkan uang lima puluh ribuan  beberapa lembar ke dalam lipatan daun sirih,  lalu disalam ke tanganku, uang sebagai upah untuk tulang,  lalu mami meracik sirih untukku.


“Untuk apa ini?” Tanyaku bingung karena aku tidak suka makan daun sirih.


“Makan, lalu kuahnya yang merah semburkan sedikit di kepala bayinya,” ujar Netta.


“Itu untuk apa?”


“Orang tua jaman dulu menyebutnya mengusir roh jahat dari bayi.


Aku melakukannya apa yang dikatakan Netta, aku mengerti satu lagi tradisi adat Batak yakni potong rambut ala tulang.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)