
“Eh, abang datang kesini, mau lihat kita, iya,” kata Betaria bergurau, perempuan yang satu ini selalu buat lelucuan tapi garing, berbeda dengan Revina yang terlihat lebih dewasa walau umurnya lebih muda dari mereka semua.
“Iya, aku mau mengajak Netta bicara empat mata, boleh?” kataku, melirik Netta yang duduk di pojok ruangan.
“Boleh saja, mau bayar berapa?” Sina merentangkan tangannya.
“Maksudnya .…?” Tanyaku bingung dengan tingkah anak-anak remaja teman-teman Netta
“Maksudnya jatah preman ,Bang."Wati menimpali.
“Baiklah, kami hanya bercanda, iya ela… mukanya serius amat kayak, kayak mau ujian kenaikan kelas saja,” kata Sina terkekeh.
“Boleh aku masuk?" kataku pada anak-anak perempuan itu.
Rumah berdinding papan dan berlantai papan itu rumah yang di tempati Netta, ia kurang suka saat melihatku sedang menyelidiki rumahnya, tidak ada kamar khusus untuk seorang anak gadis dewasa, dalam rumah itu hanya dipasang gorden panjang dan dua lemari sebagai pemisah atau sekat. Aku baru pertama kali melihat dengan jelas bagian dalam rumah Tulang ku.
Tidak ingin merusak apa yang sudah di sepakati para pemuka adat dan keluarga yang sudah menentukan hari yang tepat untuk melangsungkan pernikahan kami aku terpaksa mengalah, mengalah agar urusan pesta dan segala macam dapat terlaksana, tidak ingin berlama-lama di kampung. Maka meminta maaf pada gadis ingusan itu jalan yang tepat.
Tadinya agak berat hati, masa lelaki dewasa sepertiku harus meminta maaf pada anak kecil seperti Netta, tapi demi kebaikan mengalah tidak apa-apa .
“Duduklah Bang, keluar’pun kami dari sini, ayo, woi…!” Teman Nettania yang bernama Sina mengajak temannya keluar.
“Kita bicara disini saja, iya, Aku hanya mau bilang, aku ingin pernikahan ini cepat selesai, jadi, ayo kita saling berbaikan dan aku harus meminta maaf atas kata-kataku kemarin.”
“Baiklah,” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, padahal aku sudah bicara panjang lebar sepanjang jalan tol, tapi jawabannya hanya ‘baiklah’
“Itu artinya, kita tidak ada masalah ‘kan?”
“Dari pertama kita memang tidak ada masalah, bang Nathan yang menjadikan jadi masalah.”
“Ok, baiklah, aku salah, jadi boleh kita pergi ke rumah Oppung sekarang? kamu di tungguin di sana, kalau kamu tidak datang tidak acara makan katanya.”
Aku terpaksa membujuknya karena desakan Papi dan Mami padaku juga, sedangkan aku sudah mulai di rundung rasa jenuh, Tidak bisa di bayangkan aku di jauhkan dari ponselku, Ponsel sudah seperti kekasih kedua bagiku.
Belum lagi rasa rindu pada Mikha, ia pasti sudah menunggu kabar dariku, ia pasti sudah berpikir aku tukang bohong, tukang kibul, karena tidak ada satupun janji yang aku ucapkan pada Mikha aku tepati, salah satunya mengirim foto pemandangan Danau Toba.
Ia tersenyum kecil, Nettania orang yang tidak terlalu banyak bicara, mempunyai banyak adik membuatnya cepat dewasa dan keadaan yang sulit menempanya jadi anak yang cepat berpikir dan mapan.
“Tidak ada hal seperti itu, mungkin orang itu sudah makan duluan, Abang duluan saja, nanti saya menyusul kesana.”
“Baiklah,” kataku mengangguk tanda setuju.
Benar, meminta maaf hal tepat untuk cepat menyelesaikan masalah, tidak perduli yang kamu hadapi anak kecil ataupun orang dewasa, kalau merasa salah maka meminta maaflah.
Aku pun demikian, meminta maaf pada Nettania, ia akhirnya datang dan kesalahpahaman bisa diatasi.
Tidak terasa aku sudah hampir dua minggu di kampung Nettania. Tiga hari menjelang pesta semua perlengkapan untuk pesta sudah beres, mulai dari tenda, parhobas dan segala seksi-seksi, jika pesta yang biasa aku lihat di Jakarta.
Pihak pesta tinggal terima beres karena akan memberikan pada wedding organizer, tinggal terima beres, kalau tidak tinggal pesan catering dan gedung kalau pesta di Jakarta.
Tapi ini pestanya diadakan dikampung, tidak ada gedung yang jadi tempat pesta, halaman rumah Oppung kami yang jadi gedungnya lengkap tendanya.
Seminggu sebelum pesta semua orang sudah sibuk, saat ini menjelang H-3 perlengkapan sudah lengkap.
Tapi, ada ungkapan yang mengatakan: Malang tak dapat di tolak untung tidak bisa di raih.
Saat keluarga besar kami tengah berkumpul dan berdatangan dari perantauan untuk ikut menghadiri pesta pernikahan kami. Rumah Oppung terlihat sangat ramai. Rumah adat yang terbuat dari kayu itu, di penuhi anggota keluarga yang datang, anak-anak dan cucunya yang datang dari perantauan.
Untungnya, rumah adat itu di bagian belakangnya dibangun lagi bangunan permanen sebagai bangunan tambahan, jadi muat menampung keluarga besar kami, tidur berjejer seperti ikan asin, tapi dari situlah keunikan nya, saat bisa tidur ramai-ramai bersama semua keluarga.
Tidak ada yang menginginkan hari ini, bahkan tidak ada menduganya.
Hari itu, tidak ada lagi cahaya matahari memberikan nuansa jingga di hamparan langit luas. Saat aku duduk menikmati sore, seorang bapak-bapak berlari buru-buru ke rumah Nettania. Tidak berapa lama suara tangisan terdengar memecah keheningan sore, tidak lama kemudian empat orang laki-laki dewasa terlihat menggotong tandu. Saat itulah mimpi buruk itu datang menghampiri keluarga besar kami terlebih aku dan Nettania.
Aku masih duduk dengan bingung di ujung halaman, langit bewarna jingga semakin memudar menghilang di balik cakrawala.
Tangisan histeris itu memecah keheningan sore.
Apa yang terjadi, batinku ikut terpanggil, aku masuk ke rumah Nettania.
Saat itulah aku merasakan lututku bergetar tak mampu menopang berat tubuhku.
Terlihat Tulangku, bapak Nettania terbujur kaku dengan luka parah di bagian kepala dan bagian dada.
Tangisan semua keluargaku mengisi seluruh rumah bahkan seluruh kampung, otakku belum mampu mencerna terlihat sebagai mimpi yang mengerikan
Bagaimana mungkin Tuhan? besok lusa kami akan menikah tapi ini sudah terjadi, bagaimana ini?
Oppung ku pingsan, diikuti nantulang ku, mataku begitu berat terlihat Netta menangis di atas tubuh lelaki yang sudah terbujur kaku itu.
Apa yang terjadi? baru beberapa jam yang lalu tulangku sehat-sehat saja bahkan beliau masih berpamitan padaku.
Tadi saat tulangku mau berangkat membawa alat-alatnya, aku masih meminta ikut menemani, tapi tulang melarang, tidak bagus calon pengantin bepergian itu yang di katakan nya, ia mengajak adik Nettania untuk ikut menemaninya.
Tulang selain berladang beliau juga maragat atau menyadap tuak dari pohon aren (Tuak minuman khas orang batak)
Disela-sela tangisan histeris keluargaku, bapak yang menolong tulang menceritakan kronologi nya.
Tulang terjatuh saat memanjat pohon aren dan terjatuh ke sungai, kepalanya mengenai batu sungai yang keras, parang besar milik tulang melukai bagian dadanya.
Adik Netta yang melihat bapaknya terjatuh, berlari meminta bantuan orang-orang di dekat ladang.
Tapi nyawanya tidak terselamatkan karena luka parah di bagian kepala dan dadanya.
Tuhan memanggilnya dengan caranya sendiri, tidak ada firasat, bahkan saya sendiri tidak merasakan Firasat pada tulang saat ia pergi tadi, ia hanya ia tersenyum padaku.
“Bagaimana ini? Bagaimana dengan pesta si Netta?
Meninggalnya tulangku, bagaimana sebuah mimpi di siang bolong pada keluarga kami, kesedihan, tangisan terdengar pilu di rumah Oppung.
Mimpi buruk pada keluarga besar kami, terlebih untuk Netta, ia tidak sedikitpun berdiri dari samping Tulang, hingga besoknya tulang kami di makamkan.
Tapi besoknya, akan ada pesta pernikahan kami, bagaimana selanjutnya? semua undangan sudah di sebar dan tenda saat Tulang meninggal tidak di buka lagi.
Hidup mati rahasia Tuhan, hanya Tuhan yang tahu kapan hidup manusia berakhir.
Bersambung...