Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Mendengar Penjelasan Netta


“Maksudmu, aku harus membiarkan kamu pergi, begitu permintaanmu?”


“Iya,”


jawab Netta tegas.


“Aku tidak ingin kamu pergi Ta, walau aku melarang, tapi kamu akan tetap pergi, terus apa gunanya kamu meminta izin padaku?”


tanyaku.


“Itu caraku menghormati abang sebagai suami.”


"Baiklah, pergilah, aku tidak perduli lagi, pergi dan jangan kembali lagi, supaya kamu puas,"


aku marah aku kecewa.


Ternyata kesalahan aku di masa lalu merusak hidupku saat ini, seandainya waktu bisa di putar, aku tidak seharusnya menodai pernikahan kami, dengan sebuah perselingkuhan.


Netta pergi, ia juga manusia biasa yang punya batas kesabaran, perlakuan buruk Mami padanya selama ini ia tahan, tapi pada akhirnya ia juga menyerah.


Bagaimana denganku?


Netta diam melihatku marah, ia tahu kalau ia menjawab atau menyahut omonganku yang ada makin jadi alias makin panas.


Ia membiarkanku menghabiskan satu batang rokok, itu aku lakukan karena aku marah, padahal ia sudah beberapa kali memperingatkan ku untuk tidak merokok demi kesehatanku,


tapi dengan masalah seberat ini, satu batang rokok rasanya tidak cukup untuk menenangkan pikiranku.


Aku ingin membakar bibirku dengan satu bungkus untuk mengurangi kepalaku yang terasa suntuk.


“Kamu bilang aku suamimu tapi kamu tidak menuruti ku,


apa artinya aku jadi seorang suami?”


“Bukankah abang sudah sepakat untuk selalu mendukungku?”


tanya Netta.


“Iya aku mendukungmu Ta, tapi aku tidak menyuruhmu pergi, aku mendukungmu tetap bersamaku disini, aku mau tetap kamu disini, aku tidak mau kamu pergi?” kataku sedikit memohon.


“Tapi Bou ingin aku pergi meninggalkanmu Bang,


tapi aku tidak ingin melakukanya, aku juga tidak ingin ada kata pisah diantara kita, aku ingin rumah tangga kita tetap bertahan, tapi kita tidak bisa selamanya seperti ini, sampai kapan aku bisa bertahan ditindas bang,


aku diam bukannya aku kuat, tapi karena aku tidak punya kekuatan, aku bukan robot yang bisa selamanya diam walau sudah di hina dan di rendahkan,”


kata Netta, kini matanya terlihat sangat berat, bendungan di matanya hampir tumpah.


Sungguh,


Aku tidak tega melihat air mata Netta, ini salahku juga yang menghiraukannya dulu, ini hukuman untukku karena mempermainkan pernikahan, mungkin ini teguran dari Tuhan, karena aku berselingkuh dulu.


Penyesalan selalu datang terlambat.


“Terus bagaimana dengan aku, Ta?”


Ia diam tidak bisa menjawab.


“Aku harap, abang mengerti posisiku, bang.”


“Kamu menyuruhku ngertiin kamu, terus kamu mengerti aku tidak?


Kamu egois Ta, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri ,aku tidak kamu pikirkan,” kataku meninggalkan Netta.


Ia diam, hanya berdiri melihatku pergi, aku tidak menunggu Tulangku pulang, aku pulang meninggalkan Netta , pulang membawa rasa sedih yang sangat dalam.


Akhirnya Netta pergi juga, Ketakutan ku beberapa hari terbukti.


Aku duduk memandang langit, hari suasana mendung, awan seakan ikut bersedih.


Apakah mereka ikut merasa sedih seperti yang ku rasakan?


Aku sedih, bahkan sangat sedih, hingga tidak dapat terungkapkan lewat dengan kata-kata.


Aku terpaksa menginap lagi di salah satu Hotel di daerah Jakarta, tidak jauh dari rumah Mami, tapi karena pikiranku masih penat dan marah, aku memilih menginap di Hotel ketimbang ke rumah Mami.


Dari tadi malam ponselku, sengaja aku matikan agar tidak ada yang mengusikku, untungnya mobil Beny yang aku pinjam dari semalam masih di perbolehkan aku pakai.


Aku masih duduk di sofa Hotel, di mana aku menginap tadi malam.


Saat melirik jam sudah jam 11:00, aku enggan menghidupkan ponsel.


Tapi hari ini semua keluarga besar akan berkumpul di rumah kami, memutuskan nasib kami dengan Netta.


Baiklah aku menghadapinya, aku memutuskan untuk datang ke rumah Mami, menghadapi keputusan Netta.


Benar saja rumah sudah ramai, semua keluarga sudah berkumpul, sepertinya tinggal menungguku kedatanganku saja.


kata Papi.


Aku menghiraukannya dan ikut duduk tidak jauh dari Netta.


“Berhubung Nathan sudah disini, mari kita mulai acaranya, tulang yang paling tua yang dari Bandung mulai membuka acara, di awali dengan Doa, tapi mataku tidak tertutup, aku menatap Netta yang duduk di sebelahku, memohon dalam hati agar ia tidak meninggalkanku.


Arisan kali ini lebih ramai, aku menyandarkan kepalaku di tembok karena tamu datang lumayan banyak, jadi tikar yang dibentangkan.


Aku sudah kehilangan semangat, mengangkat kepala saja, aku sudah tidak mampu tatapan semua ibu-ibu semua mengarah pada Netta, dengan rambutnya yang pendek.


“Kami tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, kami hanya mendengarnya setengah-tengah, karena itu juga, kami semua datang ingin mendengar kebenaranya, itu pentingnya keluarga agar kita bisa saling bertukar pikiran.


Kemarin ito mama Candra sudah menelepon dan memberitahu kami, katanya mertuamu memukulimu?


Apa benar itu Boru?”


Tulang bertanya sama Netta.


“Saya tidak memukulinya, ngapain aku melakukan itu? kurang kerjaan itu ito, kata Mami,masih punya muka untuk bicara setelah Mami menghancurkan hidupku.


“Mami diam, biarkan lae ini yang bicara,” kata Papi.


Aku tidak bisa bicara, dan tidak ingin ngomong apa-apa lagi, kenyataan Netta memutuskan pergi membuatku tidak bertenaga.


“Terus apa yang terjadi?”


tanya tulang lagi.


“Aku hanya meminta ia melahirkan anak, wajar aku rasa, karena aku ingin punya cucu, tapi sepertinya tidak bisa melahirkan anak, ia rusak tidak berguna, jadi aku menyuruh ia mengijinkan Jonathan menikahi kekasihnya yang sudah hamil,”


kata mami dengan bangganya, bahkan ia tidak tahu kalau ia mempermalukan dirinya sendiri,


terus terang aku tidak punya rasa simpati lagi pada Mami.


“Apa itu pantas kak?


Menyuruh Nathan menikah lagi, terus Netta kamu buang begitu?


Netta itu siapamu Kak?


Kamu akan mendapat perlakuan jahat mu sama Netta, kamu tahu karma itu selalu ada, kamu menyuruh Arnita memukuli Netta, karena tidak mau menandatangani surat itu kan?


Ibu macam apa seperti kamu?”


kata Tanteku dengan wajah marah.


Ruangan penuh seperti suara terlebih


ibu-ibu yang hadir mulai menghujat Mami


“Aku tidak melakukan, aku juga tidak tahu kalau ia melakukannya,”


kata Mami masih membentak tanteku.


“Benarkah, Mami yang menyuruh Arnita melakukan itu?”


Tanyaku serius.


“Aku tidak menyuruhnya, aku hanya menyuruh mengingatkannya.”


“Berarti benar, Mami menyuruhnya, Mami yang menyuruhnya, ia tidak akan berani bertindak kasar seperti, kalau tidak ada yang menyuruhnya,


apa Mami begitu sangat ingin melihat aku berpisah dengan Netta?


Aku baru melihat orang tua kayak Mami, yang mengorbankan kebahagian anaknya demi uang.


Mami ternyata senang melihat hidupku rusak. Mami menang, baiklah kalau Mami ingin kami berpisah kami berpisah, Netta juga tidak mau menerimaku, sekarang Mami puas?”


kataku dengan kemarahan tatapan mata mereka semua melihat Netta.


“Aku tidak bilang begitu, aku tidak seperti, itu karena Netta perempuan yang rusak,” kata Mami.


“Mami yang rusak itu bukan Netta, tapi sudalah, biar Netta yang menjelaskannya,”


kataku mengusap Air mataku.


“Baiklah dari tadi kita belum mendengar penjelasan Netta, biarkan dulu Boru ini yang menjelaskan semuanya,”


kata Tulang. Akhirnya tiba waktu Netta membuat tamparan, aku ingin melihat reaksi Mami kalau yang rusak itu bukan Netta, yang tidak berguna itu adalah anaknya sendiri, akulah yang tidak bisa punya anak.


Netta diam dan menutupi selama ini, itu karena Netta tidak ingin aku minder.


Aku ingin lihat bagaimana reaksi Mami saat tahu kalau anak yang di kandung Mikha bukanlah anakku, tapi anak dari pacarnya. Saatnya Netta membuat gempar di rumah ini.”


Bersambung....