
Netta memberikan Ponselnya dengan berat Hati, saat aku membuka pesannya, benar bahasannya tidak jauh dari mata kuliah mereka.
Aku terdiam, kalau terus begini, usahaku untuk mencetak anak akan gagal terus.
Salah lagi nih, apa aku bertindak berlebihan, tidak, ini masih wajar, aku menatap Netta dengan sorot mata yang tegas.
“Jangan dekat-dekat dengan lelaki Longor itu lagi, karena aku tidak suka, aku marah,”
aku memberikan ponselnya.
Kedua alis Netta menyengit tidak terima dengan sikapku.
“Kok jadi aku sih, aku sudah bilang bang, aku tidak ada masalah apa-apa, ia meneleponku karena tugas kampus,”Jawab Netta.
“Aku bilang jangan dekati, ya janganlah.
Atau aku menghentikan membiayai uang kuliahmu, kamu pilih mana?” kataku bernada marah, perasaanku bagai di aduk-aduk.
Sebenarnya aku uring-uringan saat Netta menolak ku malam ini,
apa yang sudah aku rencanakan, tidak tercapai aku kesal aku marah, aku cemburu.
“Baiklah, kalau memang harus begitu,” kata Netta.
Wajahnya terlihat datar, aku tau apa yang di pikirkan pasti ia berpikir kalau aku tidak waras ,memaksakan kehendak, keras kepala.
“Sebaiknya kamu siapkan dirimu, jangan sekali-kali menolak ku,”kataku meninggalkan Netta yang masih duduk di sofa.
Aku masuk ke kamar mandi, mengguyur kepalaku dengan air dingin, mencoba mendinginkan dadaku yang terasa panas, mencoba meredakan kemarahan ku.
Samar-samar aku mendengar Netta membereskan piring bekas kami makan tadi, ia tertunda membereskan karena kemarahan ku.
Tidak seharusnya aku marah seperti itu padanya tadi, harusnya aku bicara baik-baik dengannya, karena di sini akulah pihak yang salah.
Aku keluar dari kamar mandi, aku pikir Netta dalam kamar, tapi saat aku sudah berpakaian, aku melihatnya duduk di sofa dengan barang-barang di sampingnya.
Aku menatapnya dengan diam, mencoba menebak, aku berpikir ia minta pergi dari rumah ini, karena sikapku yang memaksa.
Dengan tanganku dilipat di dada, aku mencoba bersikap tenang.
Kalau kamu ingin minta pergi jangan harap anak kecil, karena saat ini, kamu sudah aku beli, itu artinya kamu sudah milikku.
Aku membatin, merasa jengkel.
“Bang… aku”-
“Tidak bisa!” kataku tegas membuatnya terdiam kebingungan.
“Kamu mau bilang kamu mau kabur, kan?
Kamu mau bilang kamu tidak cocok di sini Kan?,”
Aku menatap dengan serius.
“Tidak… maksudku barang-barang ku taruh dimana?”
Sekarang giliran ku yang dibuat melongo, , sungguh memalukan.
Saat aku merasa tebakanku sudah benar, padahal kenyataan salah.
“Iya…dimana iya?
di kamar kita,” jawabku gugup, ingin rasanya aku membenturkan kepalaku ke tembok saat itu juga.
“Oh, baiklah,
ini kamarnya dua, kan? bagaimana kalau aku pakai satu?”
“Tidak terimakasih, itu ingin aku gunakan ruangan olah ragaku,” kataku membuat alasan,
“Besok saja bereskan, lihat jam sudah setengah dua belas,” aku mengantuk, kataku merebahkan badanku di ranjang.
Netta terlihat ragu, ia duduk dengan sikap pelan-pelan, mendudukkan panggulnya di sisi ranjang.
“Baiklah, baik… aku tidak akan memaksamu Ta, tidurlah, aku tidak sejahat itu kali,
aku ingin melakukan atas dasar suka sama suka, mau sama mau, bukan paksaan seperti yang kamu pikirkan,” kataku lagi mencoba mengusir ketakutannya.
“Benar!?
Abang Nathan tidak akan menyentuhku ‘kan?” matanya menatapku dengan panik.
“Baiklah bocah kecil, tidurlah! Tidur!,”
ucapku kesal membelakanginya.
“Siapa yang anak kecil?
aku sudah dua pulu satu tahun kali.
“Kamu tidak se harusnya menikah Ta, kamu harusnya masih main masak-masakan dan main boneka,” kataku jengkel
masih merasa sakit hati.
“Apa? abang pikir aku masih anak TK?”
Ia mendorong dari ranjang, hingga benar-benar terjatuh dari kasur.
“Auuuu
Netta! Punggungku sakit, kamu main kasar.”
Teriakku kesakitan di lantai.
Masa bodoh, ia malah merebahkan tubuhnya disisi ranjang,
tidak memperdulikan ku yang merintih kesakitan.
Ingin rasanya aku membalasnya menendang Netta sampai jatuh, tapi tidak tega rasanya menendang wanita, kesannya kasar, walau punggung serasa encok.
Tidak menduga Netta akan berani mendorongku dari ranjang, mencoba bangkit lagi dengan tangan memegang pinggang, yang tiba-tiba seperti sakit encok.
Tiba-tiba ia berbalik badan menatapku dengan mata melotot.
“Dasar om-om bangkotan!,” katanya meledekku lagi.
“Eh ngatain!
Bocah! sana main boneka,” kataku lebih kesal , ini bukan bercanda, ini perang atara dua kubu, yang tidak terima di sebut tua dan kubu menolak di sebut anak kecil. Maka tabu perang di mulai.
“Abang Nathan tau gak? umur kita bedanya berapa?” Tanya Netta mampu membuatku terusik, ia pendiam ternyata punya keahlian buat orang marah juga.
“Bodoh amat dengan umurku! kamu anak baru kemarin sore, dasar bocah kemaren sore, jangan-jangan kamu masih pakai pempers.”
“ Apa??
Abang Nathan saraf iya, masa anak segede aku dikatain masih pakai pempers,” kata Netta ternyata, ia bisa naik pitam juga.
“Iya gue yakin itu.” kataku membungkuk mencari obat gosok, mengurut punggungku yang sakit.
“Jatuh dari kasur saja abang Nathan sudah encok bagaimana kalau di ajak malam pertama?
Satu ronde sudah pasti ngab-ngapan tapi malah menuntut ingin melakukanya,” ledeknya lagi padaku
“Apa?”
Aku kaget dengan ucapan Netta barusan.
“Kamu nantangin aku, Ta?”
“Tidak, aku tidak nantangin, tadi abang itu terlalu Lemah, lettoi,
aku yakin barang abang juga pasti segede terong hijau,
tau kan, terong Medan yang kecil,”
Netta membuat berkeringat, ia tau kalau aku sakit pinggang tidak bisa menangkapnya, ia sepertinya ingin membalas ku juga, ia meledekku sampai-sampai kupingku panas mendengarnya.
“Kalau saja, punggung tidak sakit, aku sudah menelan mu Ta,
jangan pancing-pancing aku,” ingin rasanya aku menarik kakinya dan mengangkatnya keatas, ternyata Netta kalau lagi kesal bisa bikin orang naik pitam juga.
“Coba buka…! aku pengen lihat,
kalau kami di ruang praktek sudah mempelajarinya, aku yakin burung per kutut bang Nathan kecil,” kata Netta lagi membuatku sakit leher.
“Kamu mencari masalahmu sendiri, Ta, itu sama saja kamu membangunkan singa tidur, “ kata Mengatupkan gigiku menahan kesal.
“Aku’kan calon Dokter bang, jangan abang pikir aku lari saat abang membuka celana, justru aku pengen ambil penggaris, untuk ukur berapa centi meter,” kata Netta
“Iya Tuhan, kamu mempermainkan ku, Ta, kamu menguji kesabaran ku?”
“Tidak, anggap saja istrimu ini lagi melakukan penelitian,” katanya dengan santai, aku tau ia benar-benar mengerjaiku.
“Baiklah, aku akan membuka celanaku dan kamu harus melihatnya secara dekat, iya?” kataku mencoba menggertak.
”Ok, lakukanlah,” ungkap Netta dengan raut wajah tenang.
“Oh iya ampun Ta, kamu ingin menjadikanku bahan praktekmu?”
“Dua-duanya,” katanya menantang ku, terus terang saja nyaliku langsung ciut, bagaimana mungkin seorang wanita muda menjadikan aset pribadiku sebagai bahan penelitiannya?
Aku menyerah menghadapi Netta , aku di buat benar-benar bodoh sama Netta.
Bersambung