
Aku masih duduk dengan papi melihat Candra mengobrol serius dengan seorang wanita, dari ciri-cirinya yang pernah dikatakan Candra, artinya wanita itu mantan kekasihnya.
“Kalau benar itu, mantan dia akan memancing badai lagi dalam rumah tangganya,” ujar papi.
“Apa yang terjadi? Dia janji padaku tidak menemuinya lagi, lalu kenapa dia menemuinya diam-diam. Aku tidak suka orang yang tidak menepati janji,” ujarku kesal.
Aku marah dan kesal melihat Candra bersama wanita yang bukan istrinya, aku tidak tahu apa yang mereka
“Bodoh, dia tidak belajar dari kesalahan yang aku lakukan” Papi menatapku.
“Apa kamu yakin dia mantan kekasihnya?”
“Ya, dia pernah cerita kalau mantan kekasihnya Boru Sitanggang dan ciri-ciri yang dia bilang seperti wanita itu”
“Apa aku menasihatinya saja Pi?”
“Jangan menasihati orang lain disaat kamu marah, hasilnya tidak akan baik”
Mendengar nasihat papi, kami membiarkan Candra hari itu, kami melanjutkan perjalanan kami ke Kuta Bali, sudah jalan satu hari tetapi belum menemukan lokasi yang tepat.
“Kita nyarinya tidak bisa satu hari dan tidak bisa buru-buru juga, kita akan lanjut besok,” ujar papi masih bersemangat walau sudah menjelang sore.
“Papi memang tidak capek?’ Tanyaku penasaran, aku saja yang masih muda merasa lelah, apalagi lelaki paruh baya seperti papi, karena kami menyusuri banyak tempat dengan jalan kaki. Awal jalan masih enak, tetapi lama kelamaan kaki gempor juga. Karena lerlalu lama diajak jalan jadinya sakit.
“Papi tidak sakit biasa saja, makanya jangan terlalu sibuk kerja Mang”
*
Kami pulang ke rumah setelah satu harian berkeliling Bali, sementara mami dan kakak Eva memilih bersantai di pantai dekat Vill.
“Ada apa ? Kenapa ito terlihat kesal begitu?” Tanya kakak Eva saat kami tiba di rumah.
“Ito kesaal, karena kami melihat si Candra sama WIL”
“Apa lok begitu?”
“WIL siapa? Memang kenapa dia kalau sama WIL”
“Aduh mami, WIL itu Wanita idaman atau wanita lain,” ujar Kak Eva pakai ngegas.
“Selingkuh?”
“Kita tidak tau Mi, tetapi kata bapak Paima dia mantan kekasihnya”
“Gila itu orang, cari masalah saja, masalah di keluarga sudah banyak di tambah lagi masalah baru,” ujar Kak Eva.
“Bagaimana sih … harusnya jika istrinya sudah baik, diapun harus baik juga, harus sama-sama,” ujar mami.
“Padahal menurutku Tivani itu sudah berubah, dia sudah baik,” ujar kakak Eva.
Keluarga kami hanya tahu permukaannnya saja, mereka tidak tahu bagaimana selak beluk yang dialami Candra, tetapi apapun yang terjadi, masalah apapun yang dihadapi Candra, aku berharap ia tidak lari ke lain, tetapi menghadapi semuanya dengan sikap berani.
Saat aku ingin jemput Netta, ternyata ia pulang diantar Candra, karena Netta dan Candra bekerja di rumah sakit yang sama, sering sekali dapat shitf yang sama dan terkadang Candra pulang bareng Netta.
“Panjang umur kau Can, duduk sini!”
Candra bigung, ia melihat kami bergantian.
“Ya Kak. Apa ada yang penting?”
“Bukan hanya penting ito, tetapi akan jadi bencana jika tidak diselesaikan”
Netta keluar dari kamar seteleh ia berganti pakain, mendengar hal yang serius ia juga ikut duduk.
“Di sini kamu duduk,” ujar papi menepuk sofa di sampingnya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Tivani?”
Candra menghela napas panjang, sepertinya ia tidak senamg membahas tentang rumah tangganya.
“Ya, begitulah bapa tua”
“Begini Mang, terkadang hal yang kita anggap hanya masalah kecil saja, bisa jadi masalah besar. Apalagi sudah tahu salah malah di lakukan”
“Aku tidak mengerti bapa tua”
Mendengar nama pantai itu, tubuhnya langsung menegang, pantai di mana ia bersama wanita itu duduk bersama.
“Bisa kamu jelaskan siapa wanita itu?”
“Ha?” Netta kaget ia menatap Candra dengan wajah serius.
“Apa dia mantan kekasihmu boru Sitanggang itu?”
Wajah Candra menegang saat kami menyindangnya di rumah.
“Ya Bapa Uda,”ucapnya mengakui semuanya.
“Kamu bagaimana sih Bang, Tivani sudah berubah demi kamu, kok malah selingkuh.” Netta ikut marah.
“Candra, kamu gak kasihan sama Bapak. Kasihan bapak itu, kalau dia tahu kelakuanmu seperti ini, dia akan kecewa dan semakin sakit,” ujar Kak Eva.
“Harusnya , kamu belajar dari abangmu, dia sudah pernah melakukan kesalahan di masa lalu jangan lagi kamu ikuti,” ujar mami lagi.
Semua orang mencercanya dengan pertanyaan dan kalimat memojokkan, tanpa memberi ia kesempatan untuk membela diri, aku masih diam, meneliti wajah Canda.
“Katakan sesuatu jangan hanya diam Can, jadi kita tahu apa yang terjadi,” ujarku lagi.
“Aku bigung mau katakan apa Bang, nanti aku jelaskan … takutnya kalian berpikir aku hanya mencari alasan dan hanya untuk menutupi kesalahan”
“Jadi kamu benar melakukannya?” Tanya kaka EVa.
“Aku mengakuinya, aku bertemu dengannya, tetapi bukan untuk selingkuh ataupun untuk berhianat,” ujar Candra tatapan matanya terlihat tulus.
“Lalu?”
“Tadi saat dirumah sakit, kami bertemu adiknya di rawat di rumah sakit kami. Kami hanya bicara sebentar, dia ingin mengembalikan barang- barang yang pernah aku berikan”
“Kenapa harus di kembalikan? barang milik mantan harusnya di buang saja, bisa saja itu hanya alasan untuk bertemu Can”
“Lalu sudah di kenbalikan tadi?”
“Belum, nanti katanya”
“Sekarang kakak tanya, dia tahu tidak kamu di Bali?”
“Sepertinya tidak Kak”
“Begini saja, aku yang akan mengambil barang itu dari dia. Jangan kamu temui lagi, bisa? JIka kamu masih menemuinya itu artinya menginzinkan ada orang ketiga masuk ke dalam rumah tanggamu. Aku paling membenci pelakor. Sekarang ku tanya. Kau masih suka tidak sama mantan kau itu?” Tanya kakak Eva”
“Gak Kak?”
“Kau benar, jangan di depan kami kau bilang tidak di belakang kau temui dia diam-diam”
“Nungga Ma Akan, unang bar-bar Ho”
(Sudah Mak Arkan jangan kamu ngengas) Ujar mami melihat Singa betina itu mengamuk. Kak Eva memang begitu orangnya tegas dan galak.
“Tidak kakak Eva, aku tidak ada niat seperti itu”
“Baiklah benar ya, sekarang antar aku bertemu wanita itu”
“HAA?”
Kami semua terkejut, terbayang jika pelakor bertemu kakak pasti kena mental.
“Ya, kalau memang kamu tidak salah dan tidak ada niat kenapa harus takut,” ujarnya dengan berani.
“Kakak mau apa bilang apa?” Tanya Candra panik.
“Aku mau bilang ; Jika seorang lelaki sudah menikah dia sudah milik istrinya sepenuhnya, jika wanita itu ingin mengembalikan barang sebaiknya melalui Tivani, itu baru benar. Paham kamu!”
“Ya Kak”
“Baiklah, ayolah kita temui dia”
Candra tidak punya pilihan, aku bahkan mendukung apa yang dialukan kaka Eva . Terkadang, ada niat jadi pelakor karena ada kesempatan dan di beri kesempatan masuk. Jadi sebelum itu terjadi, untuk mengusir para calon pelakor dibutuhkan mental wanita seperti Kak Eva, garang dan galak seperti Kak Eva, aku yakin wanita itu akan kena mental.
Bersambung....