
Masih di rumah kami.
Bali di malam hari.
Malam itu sebenarnya kami tidak ada niat membongkar tentang pemeriksaan yang kami lakukan. Namun karena pembicaraan kami awalnya tentang Tivani yang tidak bisa hamil.
Melihat mami begitu khawatir aku terpaksa memberitahukan rencana kami pada mereka.
“Sebenarnya beberapa hari lalu sebelum kalian ke sini, aku sama Netta sudah bertemu sama seorang dokter hebat yang akan menjadi dokter kami untuk program bayi tabung nanti”
“Benarkah … kapan?” Tanya papi dengan mata berkaca-kaca.
“Tahun depan Pi, tapi aku sama Netta sudah konsultasi langung sama dokternya, tidak masalah aku dan Netta sehat”
“Makanya papi sabar saja … tidak usah dengarkan kata orang, lihat ito sama eda saja tenang, karena mereka percaya Tuhan akan memberikannya,” ujar Kakak Eva.
“Lagian Netta juga masih muda Pi, biarkan kami menikmati masa-masa pacaran yang kami lewatkan dulu, sampai tahun ini, ke depannya kalau sudah punya anak tidak akan ada waktu berdua lagi”
“Benar bangat ito, lihatlah aku, kalau sudah punya anak, boro-boro berduaan terkadang waktu untuk diri sendiri saja tidak ada,” ujar Kak Eva.
“Apa itu nanti bisa berhasil?” Tanya Mami.
“Berhasil Mi, kami hanya butuh persiapan dan butuh pertimbangan dulu”
“Apa lagi yang kalian pertimbangkan, janganlah lama-lama papi sudah tidak sabar”
“Papi atau mami yang tidak enak sama orang?” Cletuk Kak Eva.
“Kamu mah selaku menyalahkan mami, aku mah tidak pernah benar di matamu”
“Bukan Mi, terkadang mami itu plin-plan, terkadang membuat orang jadi bingung, nanti bilang biarkan saja dulu.
Nanti, giliran ada orang menyinggung kapan anakmu punya anak, mami langsung uring-uringan gak jelas … padahal ito sam Eda baik-baik saja”
“Semua orang tua juga seperti itu, Mama Arkan,” ujar mami membela diri.
“Tidak semua hanya mami saja,” ujar Kak Eva, mami tidak bisa banyak bicara di depan kakak Eva.
“Kalau kendala tentang biaya papi bisa bantu Mang,” ujar papi.
“Bukan masalah biaya Pi”
“Lalu?”
“Ini tentang waktu, bulan Desember kan lae Rudi mau menikah kita pasti pulang”
“Oh, berarti habis pesta saja?”
“Sebenarnya ada banyak yang harus kami pikirkan Pi, Netta ingin sekolah lagi untuk mendapat gelar spesialis”
“Holan na sikkola, lalap sikkola molo dung markeluarga marhuabe pola sikkola”
(Sekolah terus, sekolah terus, kalau sudah menikah ngapain lagi sekolah) Ujar mami kembali merepet.
Mami tidak suka kalau Netta itu sekolah lagi, ia tidak mau jabatan Netta atau gajinya lebih tinggi dariku, katanya pamali, bisa- bisa suami dibawah ketiak istri, seperti tante Candra.
“Mami … itu kan baru wacana, parbada kali mami inilah,”ujar Kak Eva lagi.
“Bukan Parbada, tapi kalau sudah menikah ya cukup mengurus rumah, suami, anak untuk cari uang, biarkan urusan suami itu tugas laki-laki istri di rumah.” Mami tetap dengan pendiriannya.
“Pikiran mami kuno, jaman sekarang wanita banyak yang jadi pemimpin, wanita bukan jaman dulu lagi, yang hanya bisa mengurus rumah dan anak,” balas Kak Eva gak mau kalah debat,
“Nanti, kalau Jeni sudah bisa jalan, aku juga akan kerja, ingin menghasilkan uang sendiri, ingin jalan sama teman-teman, tiap hari lihat mami bosan juga”
“Bodat …!” ujar mami kesal.
Sementara Netta ia hanya diam, ia tidak marah tidak juga membela diri, ia hanya jadi pendengar perdebatan anak dan ibu tersebut, wajahnya kembali datar, aku selalu takut kalau Netta diam seperti itu, aku tidak mau ia marah.
“Netta dapat rekomendasi dari rumah sakit yang sekarang, karena mereka melihat Netta punya potensi, waktu menyelesaikan ujian praktek almarhum Nando Netta yang menyelesaikan tes praktek terakhirnya dengan nilai terbaik, mereka tahu kalau Netta sama-sama kuliah di Jerman juga”
“Kan, sudah dokter, memang mau apa lagi?”
“Netta baru dokter umum Mi, untuk punya keahlian khusus kan harus sekolah lagi”
“Itu yang mami bilang, terus sekolah, lalu kapan waktu mengurus kamu”
“Sebagai suami aku mendukung Mi, bagiku tidak masalah , Netta itu pintar, sayang kepintarannya kalau tidak dimanfaatkan”
Mami mulai marah-marah tidak jelas mengoceh panjang lebar, papi hany menggeleng.
“Lalu apa saja persiapannya Mang?” Tanya papi menghiraukan mami yang merepet.
“Semua berkasnya sudah masuk Pi, kebetulan dokter senior Netta yang di Jakarta dipindahkan jadi wakil direktur di rumah sakit di sini, dia kenal Netta dari jaman kuliah dulu, dia mentor Netta juga”
“OH … berkasnya sudah masuk, makannya aku sama Netta itu tinggal siap saja Pi, siap bukan masalah uang, kami sudah menyisihkan tabungan kami untuk itu”
“Lalu apa donk masalahnya?” Tanya Mami dengan suara tinggi.
Papi langsung melotot mami. “Mami bisa diam tidak!”
Seketika suhu itu langsung diam, itu yang aku suka dari papi , ia berbeda dari lelaki dan suami di luar sana, papi itu suami dan bapak yang bisa diajak bercanda, tetapi ada saatnya, ia tegas pada istrinya.
“Aku kan hanya ingin yang terbaik untuk mereka Pi”
“Yang terbaik sama mami belum tertentu terbaik untuk mereka, mereka sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik untuk hidup mereka”
“Ya, jangan mami sampai kayak tante, semua hidup anak-anaknya diatur, sekarang kasihan hidup Candra dia bagai makan buah simalakama. Maju salah mundur salah”
“Maksudnya?” Mami menyengitkan kedua alisnya.
“Dia ingin bertahan demi rumah tangga, tetapi bapak mertuanya meminta Tivani meninggalkan Candra, dia ingin meninggalkan semuanya, tetapi kasihan bapa uda yang sakit karena memikirkan pernikahannya. Coba mami bayangkan betapa sulitnya posisi Candra, dia pasti bingung”
“Ya, begitulah akibatnya kalau orang tua terlalu mencampuri kehidupan anaknya,” cletuk papi ia melirik mami.
Kali ini aku juga dibuat kaget, aku tidak tahu kalau Tivani dihasut papinya untuk meniggalkan Candra.
“Kok kakak tahu? Kalau papi Tivani meminta meninggalkan Candra?”
“Tivani sendiri yang cerita sama kami ya kan Eda” Netta mengangguk.
“Papi Tivani katanya bilang kalau tante yang menghancurkan hubungannya dengan istrinya”
“Sebenarnya tante tidak menyebabkan maminya Tivani pergi, papinya yang selingkuh sama sekretarisnya, tante hanya melihatnya dan menekannya dengan rahasia perselingkuhan itu.
Harusnya maminya Tivani senang karena perselingkuhan suaminya terbongkar akibat menantunya yang mabuk. Coba Candra tidak mabuk saat itu, mungkin mereka akan membohongi keluarganya selamanya,” ujar ku lagi.
“Iya itu benar ito kasihan sebenarnya sama Candra, Ini pelajaran buat mami Ya, jangan pernah ikut campur lagi apun yang ito sama Eda lakukan, mami itu lebih baik mendukung dan mendoakannya,” ujar kakak Tegas.
Mami langsung diam, papi dan aku hanya menahan tawa, hanya kakak Eva orang satu-satunya yang berani bicara tegas seperti sama mami, aku berharap rencana kami tahun depan bisa terlaksana agar orang tua kami tidak khawatir lagi.
Bersambung ..