
Terkadang hidup dipaksa untuk memilih, begitu juga yang dialami Tivani ia akhirnya memilih keluarga suaminya dari papinya, saat papinya datang ke rumah mereka ke Bali ia suruh memilih antara papinya atau keluarga suaminya.
Kecurangan yang dilakukan tante dan besannya telah menjerat mereka berdua, walau sebenarnya tante awalnya hanya sebagai saksi. Namun, pada ahirnya ia juga pasti akan ikut terjerat. Karena dalam hukum, seseorang yang melihat kejahatan tetapi tidak melaporkannya ia juga bisa jadi tersangka, itulah yang sebenarnya yang dialami tante. Ia tidak ikut melakukan kecurangan itu ia hanya melihat dan tidak melaporkannya. Tetapi terahir papi Tivani memang orang yang sangat licik, ia tidak mau terjerat sendiri, belakangan katanya ia meminta sekretarisnya mentrasfer sejumlah uang ke rekening tante, agar tante ikut terjerat.
Tante akhirnya menerima hukuman atas ketamakannya, tetapi sayangnya bukan hanya ia yang terkena dampaknya, semua keluarga Nainggolan dan Manurung ikut malu di dalam pungguan gara-gara perbuatan tante, tetapi anak-anaknya yang terkena dampak yang paling besar.
“Apa yang terjadi nanti sama Candra sama Tivani Bang?”Tanya Netta setelah papi Tivani terbukti jadi tersangka, bahkan papinya Tivani sudah ditangguhkan penganannya dan tante tinggal menunggu jadi tersangka dan siap memakai rompi orange.
“Aku yakin mereka akan bersama, aku sudah bicara sama Candra”
“Syukurlah Bang, kasihan bapa uda dan Lasria kalau rumah tangga mereka juga akan hancur. Tapi … terimakasih Hasian,” ucap Netta.
“Untuk apa?” tanyaku kaget.
“Karena kamu berperan sebagai abang yng baik untuk mereka semua”
“Itu sudah tugasku Hasian sebagai abang.” Netta mendaratkan bibirnya di pipiku, bagaimana aku tidak bertamba semangat.
**
Semua keluarga kami sangat shock terlbih mami, ia tidak tahu kalau saudara kembarnya melakukan tindakan pidana, sebenarnya tante tidak ikut melakukanya hanya ia dipaksa ikut terjerat sama besannya. Bukan hanya tante dan papi Tivani. Ternyata ada dalang besar yang mengendalikn semuanya.
Uda Candara telah menyelidikinya ada oknum pejabat yang bermain di belakang mereka.
“Aku ingin bertemu mami di Prancis, dia pasti shock mendengar berita ini,” ujar Tivani malam itu.
Kami semua diam aku berpikir kalau itu alasannya untuk meninggalkan Candra. Aku juga melihat wajah Candra begitu sedih dan berantakan, mereka semua terpikul atas kasus yang menimpah tante, bahkan Riko terpaksa keluar dari kampusnya karena malu pada semua teman-temannya aku meminta untuk tinggal di Bali bersama bapa uda.
“Apa kamu tidak ingin kembali lagi?” tanya Candra akhirnya ia menjunjukkan perasaanya pada istrinya.
“Apa kamu ingin aku kembali?”
“Ya, aku berharap kamu kembali bersamaku dan menemani dalam menghadapi masalah yang berat ini. Aku membutuhkanmu Tivani,” ujar Candra, di depan kami semua, ia tidak malu lagi mengungkapkan perasaannya .
“Itu artinya kamu sudah ada perasaan samaku?”
“Ya”
Kami semua menahan senyum.
“Abang Can akhirnya menunjukkan taringnya,”ujar Rikko.
Lelaki berambut gondrong itu pada akhirnya mau tersenyum juga, setelah beberapa hari ini terpuruk, karena tidak tahan dengan cibiran orang di media sosial aku meminta menutup akunya dan memintanya kerja denganku. Bali sebagai tempat persembunyian untuk anak-anak tante, aku berharap tante sadar dengan semua yang ia lakukan, karena kelakuannya semua anak-anaknya ikut malu.
“Kalau begitu ikut aku saja ke Prancis kita akan menemui mami di sana,” ujar Tivani.
Wajahnya sangat tegang saat mengajak suaminya ikut.
“Aku juga mendukung.” Netta sok ikut-ikuttan.
“Anggap saja kalian bulan madu,” ujar bapa uda, ia tidak mau menantu dan anaknya berpisah walau papi Tivani meminta anaknya untuk meninggalkan Candra bahkan menyebut kelurga Candra hanya mengincar uang mereka. Tetapi di sini aku salut sama Tivani ia membela Candra di hadapan keluarga papinya, padahal ia tahu kalau Candra belum bisa menerimanya sebagai istri.
“Baiklah aku setuju,” ujar Candra.
Kami semua melongo karena kaget, tidak mendunga kalau ia akan setuju, padahal sebelumnya ia masih terlihat sangat cuek sama Tivani. Tetapi saat ia tahu kalau Tivani akan menemui maminya di Prancis, Candara seperti cacing kepanasan, ia takut juga kalau istrinya pergi.
“Serius ?” tanya Tivani kaget.
“Ya sayang”
“Aaa … sayang!” Rikko meledek
Kami semua tertawa di balik masalah besar yang mereka hadapi ternyata ada seberkas harapan, i itu karena kebaikan Tivani yang bertahan .
Benar kata Pujangga.
Cinta itu bisa datang kapan saja tanpa terduga dan tanpa berkabar, Candra membuktikakannya, ia akhirnya luluh pada istrinya ia jatuh cinta pada TIvani atas sikapnya yang berubah baik, Karena Tivani tetap memberi perawatan pada ayah mertuanya, walau papinya dan keluarganya semua menentangnya dan meminta berpisah. Tetapi tetap mempertahankan rumah tangganya bersama Candra.
“Ah kamu memanggilku sayang di depan Bapak aku jadi malu,” ujar Tivani malu-malu bahkan pipinya ikut merah merona, kami semu tertawa melihat dia seperti itu, ia seperti wanit yang baru jatuh cinta.
Tadinya ia selalu seombong setiap kali bicara, tetapi setelah berteman akrap dengan Netta dan Kak Eva, akhirny ia berubah juga, kebaikan ternyata bisa menular, jika kamu berteman dengan orang baik, kamu juga akan berpikir baik.
“Begini saja, kita akan menemui mami mertua, tetapi tunggu aku mengurus cuti dan kita minta orang untuk meneruskan ruang praktekmu, kasihan orang yang bekerja kalu sampai tutup berapa lama.
“Jangan khawatir aku dan Kakak Netta sudah memikirkan ini kemarin,” ujar Tivani.
Wania bermata cipit itu akhirnya mengikuti adat dalam Batak, ia sudah memangil Netta dengan sebutan kakak , walau umurnya jauh lebih banyak. Ia juga memanggilku dengan sebutan amang.
*
Beberpa minggu kemudian yang kami takutkan akhirnya terjadi juga, akhirnya tante ditetapkan jadi tersangka bahkan dia dipecat dari pekerjaannya, tadinya aku berpikir kalau bapa uda akan shock mendengar kabar memalukan itu, ternyata ia kuat demi anak-anaknya ia memberi semangat pada anak-anaknya ia meminta mereka agar tidak membenci tante.
Sudah bisa dipastikan tante akan mendekam di hotela prodeo atas kasus korupsi yang menjeratnya, Bapa uda meminta orang untuk memindahkan barang-barang mereka dari rumah yang di Bogor karena rumah itu juga sebelumny sudah digadaikan tante.
Harta mereka ludes tidak tersisa dijual semua, benar, harta di dunia ini tidak ada yang abadi bisa hilang hanya sekejap mata
Benar kata para pembuka agama;
‘Jangan mengumpulkan harta di dunia ini, karena harta dunia tidak ada yang abadi, tetapi harta yang abadi yang jadi bekal kita kelak,perbuatan baik yang kita lakukan di dunia ini, itulah yang jadi jembatan kita. Jika tiba waktunya di panggil pemilik hidup’
Bersambung ….