Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kado untuk Tulang


Aku dan Netta  berencana akan memberikan sebuah rumah untuk tulang kami yang di Bekasi.


Kami hanya perlu merenovasi rumah tersebut agar lebih layak lagi karena rumah yang kami beli itu sudah banyak yang bocor, dan keramiknya banyak yang pecah.


Setelah hampir satu bulan di kerjakan akhirnya selesai juga.


Netta tidak mau  asal memberikan, ia mengecek semuanya.


“Bagaimana Dek?” Tanyaku saat kami memantaunya  hari itu.


“Bagus Bang, ini sangat bagus.”


Setelah Netta bilang bagus baru aku merasa lega, kami  akan menghadiahkan rumah itu untuk tulang kami yang akan ulang tahun bulan itu juga.


*


Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga, arisan  keluarga kami akan diadakan di rumah mami,  semua   keluarga sudah tiba begitu juga tulang Gres.


“Bagaimana bu dokter, belum ada kabar baik?” Tanya tante Ros.


Pertanyaan seperti inilah yang membuat mental semakin tertekan, kalau misalkan  Netta sudah hamil mereka juga akan  melihat perut Netta membesar.


‘Aaah …. kenapa semua orang bertanya seperti itu tiap hari? memang tidak ada pertanyaan lain ‘ aku membatin merasa kasihan Netta, aku tahu, Netta tidak akan marah dengan pertanyaan-pertanyaan yang itu-itu lagi.


“Belum ada bou sayang, doakan saja lagi bekerja keras,” jawab Netta santai.


Karena  pertanyaan seperti itu terkadang membuatku  malas  ikut ke acara keluarga,  kalau pertemuan klien atau rekan kerja mereka paham, tetapi kalau keluarga, terkadang minggu kemarin sudah ditanya  minggu ini akan di tanya lagi.


Aku duduk di luar memainkan ponselku, aku langsung malas rasanya ikut berkumpul kalau itu terus yang  jadi topik bahasan.


“Kenapa Ito?” Tanya Arnita, ia baru datang dengan suaminya Juna dan putra mereka.


“Malas masuk ke rumah kalian saja,” ujar ku malas.


“Memangnya masalah apa?” Arnita saat ini  sudah berubah jadi seorang ibu yang baik dan rendah diri,  menikah dengan  lelaki yang kaya raya tidak  lantas mengubahnya jadi sombong.


Tadinya kami pikir ia akan sombong, karena ibu mertuanya memberinya hadiah sebuah restoran, rumah mewah, mobil, itu hadiah  karena menjaga cucu mereka.


Ternyata Arnita tidak sombong, ia malah semakin dekat pada  mami dan papi, hampir setiap minggu  dia selalu datang ke rumah membawa mami cek dokter dan membawa jalan-jalan.


Kejadian pahit di  masa lalu rupanya menempa hidupnya menjadi pribadi yang baik, ia terlihat bagai emas dibakar dan ditempa dulu hinga tercipta  sebuah perhiasan yang indah, begitulah hidup  Arnita.


“Kenapa sih Bang?” Ia bertanya lagi dan duduk di sampingku.


“Aku malas mendengar pertanyaan yang itu-itu lagi dari keluarga ini.”


“Sabar Bang, Eda saja  santai kalau ditanya seperti itu, kenapa Abang yang malah jadi sensitif, biasanya perempuan yang sering baperan,”ujar Arnita.


“Aku tidak bisa, Netta yang memiliki mental baja dan hati selapang stadion Senayan,” desisku kesal.


“Sabarlah Bang, jangan jadi lemah, jika abang kuat, Eda Netta juga akan lebih percaya diri,” ujar adik perempuanku .


“Ya, kalian masuk saja,” ujar ku lagi.


Tenyata papi  mendengar pembicaraan kami, ia duduk  di sampingku, hanya duduk tidak mengatakan apa-apa, untuk beberapa menit kami berdua saling diam.


“Papi masuk saja, aku saja ingin duduk cari angin,” ujar ku.


“Bang …!”


“Ya ….”


“Apa kamu pernah baca kisah tentang Sarah di Alkitab?”


Aku menggeleng, karena aku tidak hapal tentang isi Alkitab, jangankan membaca Alkitab, aku  ibadah  minggu saja setelah menikah dengan Netta.


“Sarah melahirkan anak setelah ia tua, artinya tidak ada yang  mustahil bagi Tuhan, papi mau bilang, kamu masih bisa, Netta belum tua, masih ada kesempatan.”


“Aku malas saja mendengar mereka  bertanya seperti itu terus menerus sama Netta.”


“Istrimu saja cuek dengan pertanyaan mereka, masa kamu lemah … sudahlah, papi yakin  kamu akan mendapatkannya tetaplah berdoa.”


“Baik Pi.”


“Oh … papi dengar kamu ingin kasih sesuatu sama tulang Gres?”


“Papi tahu?”


“Eva yang kasih tahu,” ujar papi.


“Tidak jadi kejutan dong kalau semua sudah tahu,” ucapku protes.


“Tidak, hanya papi dan kakakmu yang tahu, tadi istrimu  memasukkan kue ke kulkas.”


“Oh, baiklah mari kita masuk.”


Setelah kami masuk dan semua keluarga mengumpul, barulah kami membuat kejutan untuk tulang Gres, lelaki berkulit gelap itu awalnya kaget karena kami memberinya kue.


“Memangnya aku ulang tahun hari ini ya Ma?” tanya tulang sama istrinya.


“Boro-boro mikirin hari ulang tahun  Bere, bisa makan saja adik-adikmu ini sudah syukur,” jawab tulangku.


“Tiup...lilinnya... tiup lilinnya ….!”


lagu ulang tahun berkumandang di rumah mami.


“Ini lagi tiup lilinnya !” Seru Lae Rudi.


“Eh … katanya tugas kau hari  Mang, datangnya rupanya,” ujarnya tulang Gres mengusap ujung matanya sembari meniup dua kue yang di sodorkan di depannya.


Tadi  pagi  Lae Rudi bilang kalau ia  lagi tugas hari itu, ternyata ia  minta izin pulang demi memberi kejutan untuk tulang Gres.


“Aku juga punya hadiah sama tulang Gres,” ucap Kak Eva setelah setelah selesai cara memotong kue.


“Apa pula itu …?” Tulang Gres mulai garuk-garuk kepala, maklum tulangku ini orang kampung, tidak  pernah ada acara perayaan ulang tahun..


“Unang pola mailaho, dokdo palai.”


(Gak usa malu , itu ajapun,” hardik istrinya pada tulangku yang tampak  tidak biasa dengan kejutan yang kami berikan.


“Aku juga dong kasih hadiah sama tulang baikku,” ujar Arnita memasukkan uang lembaran seratusan  ke dalam amplop karena tidak sempat  memberikan kado.


“Kalau aku kadonya terakhir yang paling besar,” ujar Tante Ros bercanda.


“Aku juga punya untuk ito ku, mungkin selama ini aku belum pernah kasih apa-apa sama ito,  saat mama Harapan bilang mau kasih kejutan sama ito, hatiku ikut terpanggil,” ujar mami. Saat nyonya besar itu yang bicara kami semua langsung diam.


“Suhu lagi bicara,” ledek papi.


Tentu saja ini satu kejutan sama kami, karena selama ini mami itu di kenal sangat pelit, saat ia bilang mau kasih sesuatu ke tulang, kami semua diam. Ternyata mami memberi hadiah cincin emas sama tulang kami.


Mata kami semua langsung melotot  saat mami memberikan hadiah tersebut.


“Wah dapat berkat tulang di hari ulang tahunnya,” ujar Kak Eva.


“Ah … aku juga ingin memberikan kado untuk tulang, karena aku sudah dapat gaji.” Lae Rudi membelikan satu ponsel untuk tulang.


Dapat kado dari Lae Rudi, barulah raut wajahnya berubah.


“Wah dapat hape impian dari bereku,” ujarnya dengan bangga.


Setelah semuanya memberikan Netta juga berdiri.


“Bah adong dope muse …? Bah godang ma akka hadiah? on tu au lean deba.”


(Wah masih ada hadiahnya …? banyak bangat samakulah kalian berikan sebagian) ujar tante Ros.


“Ya, Bapa uda, aku sama bang Jonathan  memberikan hadiah juga sama bapa uda,  bukan untuk pamer tetapi karena panggilan hati kami ingin memberikan sesuatu untuk bapa Uda.”


“Jadi apalah yang kamu berikan dah …?” Tanya tante Ros tidak sabar.


“Sabar jo Ros!” Ujar papi disambut tawa dari kami.


“Aku, bang Jonathan, ito Rudi membelikan satu rumah untuk tulang.”


Tulang sama nantulang terdiam  menatap Netta dengan tatapan tidak percaya.


Maunya Author dapat hadiah juga dari pembaca hahahaha


@ngarep di share du FB


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)