Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Cafe Baru


Bali.


Cafe baru.


Semua masalah yang dialami   berangsur reda dan tenang.


Aku dan Netta sedang duduk di cafe baru papi, cafe itu aku yakin maju karena bapa uda menyajikan kopi yang khas enak di Bali, yakni; kopi Sidikkalang,  yang terkenal dengan aroma kopinya yang tajam.


Papi dan bapa tua memang penikmat kopi sejak masih muda, kopi yang mereka sukai kopi yang  penyajiannya   ditumbuk manual tidak pakai mesin, karena begitulah cara mereka dulu katanya menikmati kopi yang enak.


 Netta bisa melakukannya,  biji kopi  digongseng dulu sampai matang dan mengeluarkan aroma yang harum, lalu  biji kopi yang dionseng-onseng tadi di tumbuk  sampai halus lalu diayak,  bubuk yang sudah halus tersebut diseduh saat itu juga.


Itu aroma kopinya nikmat bangat, benar- benar nagih, kami bertiga penikmat kopi sejati, tetapi bapa uda harus dikurangi,  Netta  memperingatkan bapa uda agar jangan banyak-banyak  minum kopi karena jantung bapa uda baru sembuh.


“Suasananya dan kopinya enak bangat,” ucap Netta, borneng menikmati segelas kopi susu.


Padahal biasanya ia tidak terlalu suka kopi, tetapi setelah minum racikan bapa uda ia menyukainya.


“Bagaimana?” Tanya bapa uda mengedipkan alisnya sama Netta, ia mulai tersenyum, kalau belakangan ini ia hanya diam dengan wajah penuh beban, tetapi kali ini semuanya berangsur pulih.


“Enak amang boru, mantap,” ujar Netta  mengacuhkan jempolnya tanda mantap.


“Pi, aku  nanti jadi sering nongkrong di sini, bisa-bisa kantorku aku pindahin ke sini juga, enak bangat kopi bikinan bapa uda,” ucapku.


“Bapa udamu memang jago meracik kopi, kalau papi  minum kopinya yang jago,” ujar papi.


“Bagaimana kalau kita bikin cemilan juga di sini amang boru, buat teman ngopi kayak di cafe- cafe di jakarta, goreng pisang misalnya atau cake,” ujar Netta.


“Benar Pi, bagaimana kalau  papi sama bapa uda juga  bekerja sama dengan seorang barista, aku punya teman kebetulan dia baru di pindahkan di cabang cafe Bali.”


“Boleh  kita coba,” ujar bapa uda  dan papi.


Itu dia enaknya   bekerja sama dengan papi dan bapa uda, mereka mau menerima masukan dari yang muda, tidak tersinggung saat di tegur sama yang umurnya lebih muda.  Berani mencoba.


Akhirnya tercipta sebuah cafe impian mereka.


Bapa uda berkolaborasi dengan seorang barista handal dari Jakarta.


Karena aku punya banyak teman  yang memiliki cafe di Jakarta dan Bali, jadi saat aku minta tolong bekerja sama dengan cafe papi mereka sangat senang karena bisa ber eksperimen dengan banyak rasa kopi yang modern  dan  ada juga kopi original jaman old.


“Wah … itu keren bangat Bang, nanti kalau aku sempat aku akan pulang,” ujar Riko, ia sudah kembali ke jakarta untuk melanjutkan kuliahnya, karena dukungan kami semuanya ia akhirnya berani menginjakkan kakinya lagi di kampus.


Karena ia  kuliah di UKI dan dekat dari rumah aku meminta untuk dia tinggal di rumah agar bisa jalan kaki ke kampus.


Hari itu mami, kakak Eva dan anak-anaknya datang lagi ke Bali untuk melihat pembukaan cafe baru papi yang di Bali.


Aku yakin papi dan bapa uda bukan hanya sekedar mencari uang, tetapi ini sudah seperti hiburan untuk mereka,  bahkan papi memintaku memesan tiket dua orang  untuk teman akrap mereka  dulu saat muda.


“Ya,” jawab papi santai.


“Enak bangat ya, ada yang bayar tiket untuk jalan-jalan.” Mami merepet panjang lebar.


“Sudah Mi, biar saja , papi itu hanya ingin bertemu dengan teman-temannya,” ucapku.


“Tidak tahu ni si mami, papi itu  bersenang-senang dengan uangnya sendiri, lagi papi tidak punya tanggungan lagi, kami semua juga anak-anaknya mampu, mami juga punya kontrakan, jadi biarkan papi menikmati masa tuanya, dan menikmati uang jerih payahnya sendiri toh  juga gak minta dari orang.” Kak Eva langsung maju paling depan untuk papi.


“Tapi, kan, jangan bayarin orang juga kali”


“Mi … teman aku itu, orang yang kurang mampu, dia petani di Sidikkalang, dia teman baikku dulu saat masih muda, dia banyak berjasa padaku, tidak masalah aku membantunya sekarang,” ujar papi.


“Aku setuju Pi,” jawabku mendukung.


“Memang harus begitulah seharusnya, kalau ada teman yang lebih mampu harusnya membantu yang tidak mampu”


“Lalu yang dari Batam ini orang  yang kurang mampu juga?” Tanya mami lagi.


“Dari Batam ini, istrinya  sudah meninggal dan dia juga sendirian di rumahnya, anak anaknya sudah pada menikah”


“Papi itu mau saja dimanfaatkan”


“Itu tidak dimanfaatkan Mi, itu berbagi namanya, papi ada lagi yang mau dibayarin biar aku yang bayar tiketnya,” ujar ku , ikut kesal juga melihat mami seperti.


“Eh … mantap ada ini Mang, namboru dia tinggal di Samosir sekarang,” ujar papi terlihat sangat senang.


“Sombong kalian semua buang-buang uang saja.” Mami  merepet.


“Mi, uang dan harta tidak akan dibawa mati, tetap  di hari tua kita seperti ini, lebih baik kita  menikmati hidup, berkumpul dengan saudara dan teman-teman, bantu orang lain  yang kurang mampu dengan begitulah hidup kita damai,” ujar papi.


Aku senang bangat tentang pemikiran papi yang cerdas, tetapi tidak pernah sombong, papi itu tidak pernah pelit, tetapi kalau mami jangan di tanya … materialistis  sama persis sama kembarannya yang sedang meditasi di hotel prodeo.


Mami sama anaknya saja terkadang masi mau perhitungan, apa lagi sama orang lain, aku akui memang tidak separah dulu lagi, sekarang mami sudah mau membantu keluarganya seperti  anak-anak tulang Gres dan adik- adik Netta di kampung dan anak tante Ros, mami sudah mau mengirim mereka uang terkadang membeli pakaian.


Kalau untuk cucunya sendiri tidak perlu di bantu  suami  kakak Eva juga punya pekerjaan yang bagus, Arnita apa lagi punya banyak restoran dan hotel, dan semua itu atas nama  anaknya Deon dan calon cucunya yang belum lahir.


Jadi anak-anak mami itu  kehidupannya mampu, karena itu kami mendukung papi untuk melakukan apa yang ia mau, kami juga meminta  mereka berdua untuk liburan  ke luar negeri, tetapi papi selalu menolak, alasannya tidak mau jauh dari cucunya.


Maka saat papi ingin mengadakan reunian dengan teman-temannya di Bali dan papi yang mentraktir mereka semua aku mendukung. Bahkan mertua Arnita punya hotel di Bali ikut menawarkan untuk  menginap teman- teman papi.


Karena papi orang yang baik, kami anak-anaknya sangat sayang sayang, dan menghormat beliau, bukan hanya kami banyak orang menghormati papi.


Kondisi bapa uda juga  perlahan pulih karena Candra dan Tivani berhasil meredakan kemarahan Lasria, dan membujuknya untuk kuliah di luar negeri tepatnya di Paris, pasangan suami istri itu lagi berbulan madu di Paris, semoga membawa kabar baik saat mereka  pulang nanti


Bersambung …