
Keluargaku tidak ingin melihatku tinggal di jalanan, Mami meminta Beny membawaku pulang.
“Bawa dia,” Perintah Beny tegas pada kedua anak buahnya.
Aku dibawa paksa sama Beny dan ke dua anak buahnya, karena aku berontak dan menolak untuk pulang, kak Eva terpaksa menyuntik ku hingga tertidur.
Saat bangun, aku berada di dalam kamar dengan tangan dan kaki sudah di ikat di ranjang, merasa seperti orang gangguan jiwa, padahal semua otakku masih berfungsi dan berpikir baik, tetapi tidak tahu tujuan mereka mengikatku seperti itu, tidak tahu juga siapa yang dapat ide gila ini.
‘Apa yang mereka pikirkan, kenapa sampai mengikat kaki dan tanganku segala. Memangnya aku melakukan hal yang berbahaya apa?’ tanyaku dalam hati.
“Apa-apaan ini, buka, buka,” kataku menatap kak Eva dan papi.
“Maaf Tan kami harus melakukan itu demi kebaikanmu.”
“Sejak kapan mengikat orang jadi kebaikan?” aku protes.
“Kamu merusak dirimu sendiri, kamu membuat keluarga ini malu,” bentak Mami.
Boru Nainggolan yang satu ini rupanya belum sadar kalau semua itu karena ulahnya Mami juga.
“Bukan aku yang membuat keluarga ini malu, memang sudah dasar memalukan dari sana, buka ini!” Ujar ku marah.
Mereka tidak perduli bagaimanapun aku protes, aku tidak terima di ikat seperti kambing, keluargaku takut aku lari dan membuat ulah lagi.
Padahal mereka semua tidak tahu, apa yang aku rasakan, aku butuh pelarian supaya aku tidak menjadi gila kalau di pendam sendirian.
Cara terbaik keluar dari situasi ini, pura-pura jinak, baiklah, mereka semua berbuat seperti, pada orang dewasa sepertiku, makan juga harus dengan tangan di ikat, aku menurut semua keinginan mereka, tangan di ikat dan berbaring.
Saat lengang sedikit aku bisa melepaskan ikatan tanganku dan kabur dari jendela, anak jantan di kurung di kamar itu membuat harga diriku terluka.
Kamarku di lantai atas aku keluar dari jendela.
Tidak ada yang tahu aku kabur dari rumah, entah apa motif keluargaku mengurung dan mengingatku, yang jelas semua bertolak belakang dengan kepribadianku yang maskulin.
Aku diperlakukan seperti pasien sakit jiwa, di ikat di rumah sendiri, membuatku semakin kesal pada keluarga.
Aku semakin merasa rumah kami saat itu, buka rumah yang nyaman untukku,.
Keluar dari rumah tanpa membawa uang, apa jadinya, masa mau merampok? itu juga bertolak belakang denganku.
Saat keluar dari rumah, kebetulan masih sore, terus berjalan dan berhenti ada mobil pickup yang lewat, untungnya mau aku menumpang, biasanya mobil barang seperti itu jarang mau menerima, tapi saat aku melambai tangan minta berhenti si bapak mau berhenti.
“Terimakasih Pak.”
Sebuah mobil pengangkut kelapa, aku merebahkan tubuhku di kelapa, ketiduran dan berakhir di pasar Induk.
Hadeh padahal niatku tadi tidak jauh dari rumah tadinya, ingin ke rumah Jimmy , tapi kalau sudah seperti ini apa yang bisa aku lakukan, tanpa sepeserpun uang di pegangan. Perut sudah mulai lapar, aku memutar otak untuk mendapatkan uang.
“Bang butuh bantuan gak untuk mengangkut barangnya?”
“Tapi aku tidak bisa kasih upah besar iya, ini punya orang soalnya,” ujar si bapak
“Tidak apa-apa Pak, berapa saja buat makan,”ucap ku jujur.
“Baiklah, boleh, muat saja, kalau kamu ingin uang tambahan, mobil di sebelah sana, kuli beras, kuli sayuran, sana nanti ” kata si bapak.
“Baik pak.”
Kelapanya tidak terlalu banyak, hanya beberapa karung saja, hanya di upah lima belas ribu saja.
Dapat segitu saja sudah senang, daripada menggembel di jalanan, tapi saat memanggul karung di pundak, tidak sengaja bertemu Tulang yang dari Bekasi , sebenarnya tidak enak bertemu keluarga dalam situasi seperti ini.
Tulangku ternyata supir pemasok barang ke Pasar Induk.
“Jonathan? Apa kamu itu?,” tanya tulang menatapku tidak percaya.
Melihat penampilanku menjadi gembel, tulang tidak yakin.
“Iya Tulang.”
“Amang Tuhan, aha na tarjadi tu ho bere?( Iya Tuhan apa yang terjadi padamu?)
Tulang Menarik ku, mengajak duduk minum teh manis hangat.
Tulang benar-benar tidak percaya melihat penampilanku yang berubah drastis, dari Jonathan yang biasa yang tulang lihat.
Tubuhku kurus hitam, dan di wajahku di penuhi bintik-bintik hitam seperti bekas cacar.
“Apa yang terjadi Tan, kenapa kamu jadi seperti ini?”
Tanya tulang menatapku dengan tatapan heran.
“Aku keluar dari rumah tulang, kak Eva dan Papi mengurungku di kamar dan mengikatku.”
“Karena apa? tulang pernah dengar kamu di jalanan, apa itu benar?”
“Iya tulang, aku salah jalan sejak Netta pergi meninggalkanku.”
“Tulang tidak melarang kami bersama lagi?”
“Kamu sama Netta tidak ada bedanya bagiku Tan, Netta anak Abang ku dan kamu anak kakakku, tidak ada bedanya, hanya marga yang membedakannya Tan, Netta semarga sama Tulang,” ujar tulang menatapku dengan hangat, tidak ada kemarahan seperti beberapa bulan lalu.
“Aku sangat merindukannya Tulang, aku menggunakan jalan yang salah untuk bisa melupakannya.”
“Aku tahu Bere, maka itu kalau merasa kamu merindukannya pergi Ke sana, kamu punya uang untuk menjenguk Netta, tidak ada yang menghalangi, tapi kalau kamu siap temui dia, tapi jangan keadaan rusak seperti ini.” Tulang ku menasihati ku dengan baik.
“Iya tulang.”
“Pulanglah berdamai degan diri sendiri, dan coba memaafkan Mami kamu, dan berdoa sama Tuhan.”
“Tulang tidak punya uang bere, hanya ini yang tulang punya.”
Hanya di kasi uang 50rb sama tulang ku na burju, rasanya sangat senang, apa lagi beliau tidak marah lagi padaku.
“Tulang kalau subuh-subuh seperti ini angkut belanja dari sini, natulangmu jualan di pasar, kalau siang tulang buka bengkel,” kata tulang
Benar sekali jadi lelaki itu butuh harus serba bisa. “ Ayo serapan sama tulang.”
Mengajakku makan warung makan di pinggir pasar.
“Iya tulang,” kataku tidak merasa malu Kerena aku memang sudah lapar, memanggul beberapa karung membuat tenagaku terkuras banyak.
“Tulang tidak bisa mengantar kamu pulang Bere karena masih mengantar beberapa barang belanjaan orang.
“Iya tulang,” ujar ku ingin rasanya memeluk tulang ku.
Lelaki paruh baya itu meninggalkanku, tergambar rasa kasihan di wajahnya, aku tahu tulang pasti sangat kaget melihatku saat ini.
Bersambung ….
Ayo tebak kak, di BAB berapa ini?
Baru juga sampai di depan pintu, tapi suara kepanikan terdengar dari dalam rumah.
Apa yang terjadi?
Bergegas masuk, suara kepanikan itu datang dari kamar Mami, saat dilihat, tiba-tiba kondisi Mami drop, tubuh mengalami kejang-kejang, dan bibirnya miring dan mulai tidak bisa bicara.
“Pi bawa ke dokter,” ujar ku panik.
“Iya Tan kita bawa ke rumah sakit mana?”
“Ke rumah sakit biasa Pi,” kataku dengan sigap menggendong tubuh Mami ke mobil kakak Eva
Papi masuk dan kak Eva yang menyetir, dan Arnita dan anaknya yang tinggal menjaga rumah.
“Tan, Mami minta maaf iya,” kata Mami dengan suara tidak jelas, seperti orang kumur-kumur, bibir miring sebelah, tangannya mulai gemetaran
‘Jangan Tuhan, jangan hukum lagi Mamiku’ bisik ku dalam hati, melihat wajahnya yang tiba-tiba tidak berdaya dan terlihat tua, membuat hatiku sangat sakit.
“Iya, iya Mi, aku sayang Mami,” merangkul tangannya.
“Netta, aku minta maaf,” katanya masih dengan suara yang tidak begitu jelas tapi aku bisa mengerti.
“iya Mi jangan khawatir” Kataku mencoba menenangkan Mami.
Akhirnya kami tiba di rumah sakit, dan Mami mendapat penanganan, aku bernapas lega, aku sempat berpikir kalau Mami tidak sempat mendapat penangan, tetapi Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup, Mami akhirnya meminta maaf pada Netta.
‘Aku berharap kamu di sini Ta … Mami meminta maaf padamu , Mami menyesali perbuatannya, aku merindukanmu’ ucapku dalam hati.
Saat duduk di ruang tunggu, melihat para dokter dengan jubah itu, membuatku sangat merindukan istriku, aku tidak sabar melihatnya memakai jubah dokternya.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)