
Mencoba menata hati dan menata hidupku yang sempat rusak, mencoba bangkit menuju kehidupan yang baru, terutama untuk Mami, Ia belum sembuh total masih duduk di kursi roda, ia terlihat sangat putus asa, terkadang menatap orang-orang yang lalu lalang dari depan rumah kami, ia hanya bisa melihat dari jendela kamar, di suruh berjemur di luar saja kadang Mami menolak, hilang sudah kepercayaan dirinya, aku bisa mengerti perasaan Mami, tadinya sangat aktif tiba-tiba terkurung di kursi roda, itu sangat menyakitkan, beruntung ada kak Eva yang merawatnya bisa membujuknya.
Beruntung kak Eva dan mertuanya sudah berbaikan jadi kak Eva dan suami beserta anaknya sudah bisa berkumpul kembali, suami kakak Eva lelaki yang luar biasa menurutku, ia bisa menerima keadaan keluarga kami dengan sagala masalahnya.
Demi merawat Mami, Kakak perempuanku yang baik hati ini terpaksa rumah mereka di kontrak kan dan pindah ke rumah Mami, kak Eva dapat suami sebaik laeku, selalu mengerti keadaan keluarga kami, saat kak Eva resign dari pekerjaannya, ia tidak marah, saat kak Eva menggunakan tabungan mereka untuk membantu pengobatan Mami, suami tidak mempersoalkannya, hanya mertua kak Eva yang kurang setuju
karena menganggap kak Eva memberikan keluarganya uang dengan diam-diam, memang seharusnya dalam satu rumah tangga, martangan Pudi akan menjadi satu masalah dalam rumah tangga.
(Martangan pudi, artinya memberikan pada keluarga dengan diam-diam)
Tetapi kakak Eva anak yang sangat berbakti, walau ibu mertuanya marah, tetapi Kakakku tercinta itu tidak tega membiarkan keluarganya menderita sendirian, ia memakai tabungannya untuk membantu keluarga kami.
Aku merasa beruntung punya kakak baik seperti kak Eva, walau luarnya terlihat galak dan tegas dan bawelnya itu terkadang tidak tahan kalau lagi marah ngegas tidak pakai rem , tetapi di balik sikap bawel itu hatinya lembut selembut bagot ni horbo. (Bagot ni horbo adalah susu kerbau yang di peras lalu dimasak, rasanya enak dan lembut)
Seperti itulah sifat kakak Eva, tetapi saat ini hubungannya dan ibu mertuanya sudah berbaikan, beliau sudah datang ke rumah kami untuk menjenguk mami.
“Benar katamu Tan mertuaku memaafkan ku,” bisiknya padaku saat kami duduk di teras.
“Iya kak, lae pasti membujuk namboru itu,” kataku.
“Sebenarnya aku tidak enak Tan sama ibu mertuaku dan Laemu karena keluarga kita,” ujarnya dengan suara pelan.
“Maaf iya Kak … nanti uang kakak pasti aku ganti.”
“Bukan masalah uang Tan, masalah di keluarga kita yang tidak ada habisnya.”
“Percayalah Kak, kita pasti bisa melewati ini semua.”
Lalu ia menatapku dengan tatapan memelas.
“ Tan kamu harus berusaha iya, kamu harus bangkit, jangan sampai Eda Netta kecewa, dia calon dokter loh Tan.”
“Iya Kak, aku akan berusaha,” kataku dengan yakin.
“Terimakasih ya Tan.”
“Untuk apa Kak?”
“Karena kamu tidak menjual mobil Papi dan terimakasih karena menyimpan uang untuk pengobatan Mami,” ujarnya dengan tulus.
Mata kakak Eva berkaca-kaca.
“Baik Kak, aku akan berusaha lebih baik lagi Kak, percayalah,” ucapku memenangkan hatinya.
“Iya Tan sudah seharusnya, Papi sudah pernah bilang kan … walau aku lahir duluan dari kamu, tetapi kamulah yang akan memimpin aku dan Arnita, kamulah hula-hula yang membawa marga dan penerus marga di keluarga kita.
Kamu wakil Papi, kalau Papi tidak ada kamulah nantinya yang jadi bapak kami,” ucapnya lagi.
“Baik Kak, aku ngerti,” ucapku garuk kepala, pusing rasanya kalau di nasihati dengan kalimat-kalimat yang itu, itu lagi.
“Ngerti … ngerti tapi tidak di lakukan,” ucapnya setelah melihatku garuk kepala.
“Mulai lagi marah marahnya,” ucapku.
“Iya kamu Tan, di nasihati bukannya di dengar!”
Melihat ia mulai marah aku mengambil jurus paling aman, yakni: kabur …. jika aku duduk di sana yang ada gendang telingaku akan meledak mendengar suaranya yang seperti toa itu.
“Mau kemana?” Kak Eva menatapku.
“Mau tidur saja , melihat kamu marah-marah terus yang ada aku bertambah stres,” keluhku.
Meninggalkannya yang masih duduk di teras.
Tetapi aku harus hadapi dan aku harus bangkit, harus mendapatkan hidup yang lebih baik.
Aku ingin menjalankan perusahaan keluargaku yang sudah hancur dibuat sepupuku Brayen, Ia di tunjuk Mami menggantikan ku, tetapi bukanya maju malah dihancurkan dan bangkrut, hal itu jugalah yang menyebabkan Mami sakit.
Karena kalau tidak ada keahlian akan susah menjadi seorang pemimpin, bagaimana mau sukses, cara kerja pemimpin juga tidak tahu, bagaimana mengatur dan memberi perintah?
Mami pikir jika sudah jadi Bos, hanya akan duduk diam ongkang-ongkang kaki di kursinya.
Menyerahkan Perusahaan pada Brayen, orang yang tidak punya pengalaman apa-apa satu kesalahan besar, bukannya bertambah maju saat di pimpin, anak itu malah meninggalkan utang di mana-mana, dan kini Brayen membawa uang Perusahaan, ia kabur ke keluar negeri bersama pacarnya.
Hari ini, aku akan datang ke kantor, Lina sudah bersedia membantuku.
Baru tiba di depan Kantor,1 kantor itu sudah ditutup, ada rasa sesak di dalam dada, banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan dalam kantor itu.
Untung kita bisa mendapatkan kunci gedung berlantai dua itu, kini hatiku semakin sedih melihat ke dalam, lebih hancur lagi, komputer-komputer terlihat berdebu tidak terurus, saat masuk ke ruangan ku, aku malah ingin menangis, Barang-barang milikku masih ada, tapi terlihat sangat berantakan.
“Anak kurang ajar itu sepertinya datang ke kantor hanya masuk ruangannya untuk sekedar duduk, main dan bersantai dan ongkang kaki,” aku memakinya dengan kesal.
Aku penasaran apa yang ia lakukan, dari dulu aku selalu memasang kamera pengawas dalam ruanganku, walau sebagian cameranya sudah mulai rusak karena sudah bertahun - tahun, tetapi masih ada sebagian rekaman yang masih bisa lihat.
Aku periksa , ternyata benar, Brayen bahkan membawa pacarnya ke ruangannya dan bersenang-senang di sana.
“Keparat kamu Brayen,” ujarku lagi .
‘Apa dia pikir ini cafe? kurang ajar bangat itu anak itu’ melihat isi rekaman itu, ingin rasanya aku menyeretnya dan melindas kakinya dengan traktor.
Kerja kerasku, dan kerja keras papi selama bertahun-tahun, ia hancurkan dalam hitungan satu tahun.
“Lin, bisa minta tolong cariin orang untuk membersihkan ruangan ini?”
“Gampang Pak, kalau hanya membersihkan, tetapi apa masih bisa di selamatkan? karena aku baca data dan laporannya, sepertinya sudah berat untuk berdiri, sudah sangat tepar perusahaan.” Lina menatapku tidak percaya.
“Bersihkan saja dulu Lin, aku ingin mulai dari Nol lagi ini.”
“Ok baik.”
Beberapa hari kantor sudah rapi, aku mulai masuk kantor, aku karyawannya dan aku juga bosnya, karena aku sendirian datang sendiri dan pulang juga sendiri.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)