
Setelah mami memukul tante
kepala tante, barang kali otaknya sedikit bergeser, untuk sementara tante diam. Kalau biasanya ia akan semakin heboh, dibantah sedikit saja pendapatnya ia marah-marah apalagi dipukul.
“Kamu harusnya yang banyak mengalah, karena ini acara untuk penyambutan menantu mu.” ujar mami.
Masih di rumah kami.
Tante tidak mengerti pepatah Batak yang mengatakan.
“Di torudo tangan ni namangado”
(Di bawah tangan orang yang meminta)
Candra dan Tivani meminta pasu-pasu dari tulang dan keluarga, harusnya tante rendah diri dan banyak mengalah, tetapi di saat itu tante justru yang mengajak mamak tua berantem.
Tante tidak menjawab tetapi ia bersungut-sungut tidak jelas.
Melihat keadaan agak reda, aku berdiri niat hati ingin mengantar Netta pulang karena ia harus kerja, kalau mengikuti kata-kata orang itu sampai besok pagi urusannya tidak akan kelar.
“Abang jangan pulang dulu, kita di sini saja dulu,” lirih Tivani, tatapan matanya sedih.
“Tidak apa-apa ada mama di sini, kita akan pulang ke rumah kita. Di Bogor udaranya lebih sejuk,” ujar Tante membujuk Tivani.
“Aku ingin di sini saja,” ujar Tivani.
“Tapi si Netta itu ingin kerja!” Ujar Tante nada suaranya mulai tidak terkontrol.
Semua orang semakin bergosip, dan salah satunya mamak tua yang cerewet itu, ia tertawa kecut melihat tante.
“Aise ma attong olo tu jabunai, ibana riting si bar-bar losung”
(Siapa yang mau ke rumahnya dia aja galak) bisiknya sama nantulang kembar, Mak tua tertawa miring.
“Tapi, aku ingin punya teman”
“Ada suamimu di sini,” ujar tante memaksa, aku kasihan melihat Tivani yang begitu tidak nyaman dangan situasi seperti saat ini.
‘Ayolah Can, jangan hanya diam seperti patung seperti itu, istrimu butuh kamu’ balasku dalam hati.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Candra, saat mamanya berusaha membujuk Tivani, ia malah sibuk melihat layar ponselnya, seolah-olah menghukum mamanya secara tidak langsung. Ia membiarkan tante berkerja keras membujuk menantu pilihannya untuk pulang ke rumah mereka. Candra tahu tante tidak akan berani menekannya karena ada keluarga besar kami saat itu.
Melihat Candra tidak perduli, Tivani semakin menolak untuk ikut.
“Jangan dipaksa lah, kalau dia mau, biarkan saja dulu di sini ada Mama Arkan , ada Arnita,” ujar papi.
“Ake boha tutu?”
(Ya, Bagaimana?”) Tanya tulang kembar, mereka juga akan bersiap pulang Ke Bogor.
“Aku ingin Jonathan dan Netta di sini,” ujar Tivani mendengar namaku di sebut, mamak tua kembali bikin ulah.
Wajar Tivani memanggilku dengan sebutan nama, karena ia belum tahu kalau haha doli atau kakak ipar laki-laki dalam adat Batak harus di panggil amang, dan adik iparnya juga harus segan dan hormat pada abang iparnya.
“Ehe botulma maho boru si leban, digoariho haha dolim”
(Eee benar-benarlah kamu bukan boru batak kau panggil abang iparmu pakai namannya) ucap mamak tua lagi, ternyata ucappannya di dengar tante.
Mendengar kata boru si leban tante murka, memang mendengar kata-kata seperti itu memang terdengar menghina, walau Tivani keturunan tetapi ia punya marga
“Ise boru si Leban? Dang diboto manjaha?” Tante kembali marah.
“Kakak on pe nian pala maktai songoni, lomomunama loja au”
(Kakak inipun, ngapain bicara seperti itu. Terserah kalianlah capek aku) mami membiarkannya, kedua nenek lampir itu beradu mulut.
“Makannya kau pilih boru Batak asli, Jangan harta saja kau lihat, gak suka pun anakmu kau paksa-paksa” ujar Mamak tua.
“Iri kau karena menantu dokter!” teriak tante Candra.
“Ngapain aku iri, bukan aku yang pilih menantuku, anakku sendiri yang pilih, karena mereka yang menjalaninya. Bukan kek kau, yang paksa si Candra menikah, gak usah kamu pura-pura kami sudah tahu semuanya,” ujar Mak tua itu mempermalukan tante candra, begini jadinya kalau dua titisan nenek saling bertemu
takut,” ujarnya kesal.
Tante terdiam.
“Rasain, menantunya baru datang bukannya kasih contoh baik, malah berantem,” ujar tante Ros.
“Bukan begitu Tivani, mama tadi hanya ingin menjaga harga diri mama,” ujar tante membela diri.
“Tidak, aku tidak mau pulang ke rumah, lebih baik aku pulang ke rumah orang tuaku, semua ini menakutkan bagiku, dari tadi kalian hanya bertengkar gara-gara aku”
“Bukan, bukan karena kamu. Can ….! Katakan sesuatu pada istrimu” Bentak tante aslinya keluar.
“Mau katakan apa? Mama yang memulainya. Aku juga malas di sini, ayo kita pergi dari sini. Candra menarik tangan istrinya”
“Eh … kalian mau kemana?”
“Aku mau gila lihat kelakuan mama itu, aku tidak tahu maunya apa!” Candra akhirnya membentak mamanya.
“Ayo Bang kami ke rumah kalian saja”
“Ok”
“Eh, aku ikut mau ambil sirih ke rumah kalian!” Teriak mamak tua.
“Sirih lagi kau pikirkan, orang sudah gila karena ulah mu,” gumam ku pelan menghiraukannya.
“Biarkan saja Bang, dia sama-sama gila sama seperti mama,” ujar Candra.
Kami menghiraukan dan meninggalkan mamak tua cerewet itu.
“Hei, kalian Tunggu”
“Bodoh amat,” ujar ku berjalan memegang tangan Netta.
“Bang bou itu?”
Biarkan saja Dek, dia yang memulai keributan ini tadi”
“Tapi tidak sopan Bang,” ujar si Borneng.
“Biarkan saja bila perlu jangan datang dia ke acara keluarga kita lagi biar tidak ada keributan seperti tadi,” ujar ku kesal.
Aku menghidupkan mesin mobil meninggalkan rumah mami.
Dalam mobil Tivani menangis, ia kaget mendengar isi pertengkaran tante dan mak tua itu.
“Jangan dipikirkan, keluargaku memang seperti itu,” ujar Candra santai.
“Tidak aku tidak mau pulang ke rumahmu, mama mertua ternyata galak dan tukang berantem,” ujar Tivani menangis.
Hal yang wajar ia menangis seperti itu ia anak yang selalu dimanjakan orang tuanya, tiba-tiba masuk ke keluarga besar kami, yang hampir semua emak-emaknya parbada bolon atau tukang berantem. Wajar Tivani berkata seperti itu, sikap tante yang tadi membuat wanita bermata sipit itu kaget.
“Ta, kalau kamu mau kerja, tidak apa-apa nanti kami di rumah kalian saja sama Abang,” ujar Candra.
“Tidak apa-apa sudah minta teman menggantikan ku”
“Tidak apa-apa ni …? aku kadi tidak enak”
“Tidak apa-apa malam besok malam aku yang akan menggantikan tugas dia, lagian aku tidak mungkin meninggalkan kalian di rumah kami,” ujar Netta.
Jadi, untuk menenangkan pikiran Tivani kami membawa ke rumah kami dulu, aku tahu tante pasti marah karena Tivani menolak pulang ke rumah mereka di Bogor, apalagi saat ia melihat kalau kami membawa Tivani ke rumah kami.
Tetapi tindakan Candra membawa pergi istrinya dari sana hal yang benar, Tivani butuh mental yang kuat untuk masuk ke dalam keluarga kami
.
.
.
.
.
..
Bersambung
Jangan lupa Vote, like, komen dan share juga ya Kakak ..
.
.
Jangan lupa mampir juga ke Karyaku
"MENIKAH DENGAN KAKAK IPAR'
GANTI JUDUL TADINYA TURUN RANJANG'
CERITANYA TIDAK KALAH SERU.
Skuel
Menikah Dengan Abang Ipar
Alisa tidak pernah menyangka, dihari ia akan dilamar kekasihnya, ia harus menikah dengan kakak iparnya. Ia menikah dengan kakak iparnya, untuk mengantikan kakaknya yang meninggal setelah melahirkan bayi kembar. Ia akan menjadi ibu sambung untuk anak kakaknya. Akan tetapi kekasihnya tidak mau merelakannya menikah. Dimas bertahn dan menunggu Alisa. Tidak beberapa lama setelah menikah, cobaan lain datang, seorang lelaki dari masa lalu almarhum kakaknya menginginkannya jadi istri.
Saat suaminya tidak mau menerimanya sebagai istri, sementara di sisi lain ada dua orang lelaki yang menginginkan diriya. Untuk siapa cintanya bersandar?
Apakah ia bertahan pada suaminya yang dingin atau pada mantan kekasih yang masih setia menunggu atau pada dokter yang terobsesi padanya?
Mampukah Alisa menjalankan tugasnya untuk menjaga dan menjadi seorang ibu yang baik untuk keponakannya?
Ikuti cerita selengkapnya.
d
Mampir juga ke ceriku yang lain. Caranya klik