Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Semua Ulah Mikha


Tas mahal yang harganya selangit itu di bakar sampai habis,


bila di pikir-pikir memang sangat sayang, tapi untuk seorang lelaki tidak memikirkan nilai harga tasnya, tapi ini untuk luapan emosi. Saat rasa panas dalam hati tersalurkan.


Bisa di pastikan, melihat koleksi tasnya di bakar di depan mata, Mami akan mengalami migran selama tujuh hari tujuh malam, dan tidak akan nafsu makan karena tas mahal itu ia belanjakan sendiri keluar Negeri.


Kemarahan Papi kali ini akan membuat gunjingan besar.


Sebenarnya, kemarahan papi bukan semata hanya karena Mami membelanjakan tas mahal, tapi lebih kekecewaan karena Arnita melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, dan itu kesalahan Mami, mengijinkan Arnita menginap di apartemen Mikha, memberinya kebebasan, anak seumuran Arnita tidak diawasi, akan menjadi masalah besar, anak seumuran dia memang lagi pencarian jati diri.


Setelah menghancurkan Tas mahal itu, ternyata tidak puas sampai disitu, ia juga, mengambil koleksi sepatu Mami,


kali ini sama lemarinya sekalian yang diangkat, dan dilempar ke kobaran api, tidak ada yang berani berkata sepatah katapun, tidak ada yang berani melarangnya.


Eva, suaminya, Mami, Arnita, semuanya diam. Puas membakar barang-barang mahal milik istrinya, akhirnya ia merasa tenang, angkat jempol buat papi.


Mami perlu di kasih terapi jantung seperti itu,


Memang bila di total, bisa membeli satu rumah dan satu mobil,


tapi sebentar bisa lenyap sekejap mata.


Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Mami saat ini, aku jadi ingat kata Tulang Bekasi beberapa hari lalu saat mengumpul di rumah ini saat ada Netta.


Tulang bilang, orang yang akan mengumpulkan harta dunia ini dengan cara yang licik, akan kehilangan lebih dari yang di kumpulkan.


Mami sepertinya sudah mulai mendapat hasil dari perbuatanya.


Saat ia memaki Netta, menghina, merendahkannya, memukul, Kini ia yang di rendahkan, bahkan serendah-rendahnya,


anak hamil luar nikah, tentu saja aib yang paling memalukan,


akan di cap kegagalan orang tua dalam mendidik anaknya.


Aku yakin semua orang akan semakin merendahkan Mami dan menghinanya.


Aku tidak tahu apa Mami masih punya muka untuk menemui keluarga kalau sudah seperti ini.


Setelah melenyapkan semua tas mahal dan sepatu mahal milik Mami,


Papi masuk lagi, ia meletakkan palu di samping, di samping sofa yang ia duduki, pemandangan yang menakutkan,


aku takut, kalau Mami memotong omongan suaminya, takut jadi sasaran palu.


“Ok, sekarang katakan siapa lelaki itu Arnita?”


tanya papi terdengar tegas dan menakutkan, saat ia duduk.


Badan Arnita terlihat bergetar, tidak di duga aku satu pikiran sama kak Eva.


Wanita itu berdiri dan menyingkirkan palu ke dapur, pikiranku sepertinya sama, takut palu itu memakan korban.


“Papi maafkan aku…!


Arnita merosotkan tubuhnya dari sofa, bersimpuh di kaki Papi, ia ketakutan dan bersujud di kaki lelaki yang sedang dipenuhi kemarahan.


“Kamu bangun, jangan duduk di situ, aku bertanya lagi katakan siapa lelaki itu?”


Arnita sepertinya enggan mengungkap lelaki kurang ajar itu, ia terus saja menangis di kaki Papi.


Mami sudah membatu seperti patung, ia tidak berani lagi bersuara seperti tadi, bahkan kepala Mami menunduk seperti ayam sakit, itu sudah pasti.


Mungkin jantungnya kaget saat ia menghitung nilai harga semua tas miliknya yang dihancurkan Papi, jika di nominal kan total kerugiannya membuat Mami lemas.


Papi membakar harta berharga milik mami.


“Kamu bangun, aku bilang…!,”


suara itu menggema dalam ruangan itu, suara yang menakutkan.


Kak Eva menarik tangan Arnita, ia takut Papi menghajarnya.


“Ayo katakan siapa? sebelum papi meledak lagi kemarahannya,”


ucap Eva lembut sama Arnita.


“Papi itu-itu”


“Iya siapa?”


“Arjuna Pi.”


“Haaa??”


Mata semua melongo menatap tidak percaya.


Mendengar nama Arjuna, aku mengepal tanganku dengan kuat, ternyata lelaki kurang ajar itu yang menghancurkan keluargaku.


Mikha menghasut Mami untuk memisahkan Netta denganku, dan Arjuna mendekati Mikha.


Jika ini kerjaan Mikha untuk menghancurkan hidupku, ia benar, aku sudah hancur se hancur-hancurnya, bukan hanya aku, bahkan keluargaku juga di buat hancur.


Baiklah, aku akan memotong barang milikmu nanti Juna,


aku memaki kesal mengepal tanganku dengan kuat,


mendengar nama Juna dan Mikha yang melakukannya membuatku marah, ingin rasanya aku melenyapkan lelaki kurang ajar itu, mungkin, nanti aku akan melakukanya.


“Maksudmu Arjuna pacar. Mikha?”


Mata kak Eva melotot tidak percaya.


“Ia kekasihku kak,”kata Arnita dengan bodohnya.


“Bodoh…!!


Ia bukan kekasihmu, kamu di bohongin, kamu bodoh,”


Eva memukul kepalanya lagi dengan keras.


“Dia itu kekasihnya Mikha,


bahkan anak yang di kandung wanita itu anaknya lelaki itu, ia membohongi kalian berdua,


iya ampun, wanita itu memang iblis, Iya ampun aku bisa ikut gila ini.”


Eva duduk dan menutup wajahnya, dengan kedua tangannya.


“Ia menyuruhku memisahkan Netta dari abang, ia berjanji menikahi ku.” Kata Arnita.


Benar dugaan ku, ini kerjaan Mikha dan Juna untuk menghancurkan ku, dan mereka berhasil melakukanya.


“Iya Tuhan, jadi semua itu karena kamu hamil, iya ampun kamu memukuli Netta kamu di manfaatkan untuk menghancurkan rumah tangga abang mu sendiri, dan begitu bodohnya kamu menurutinya,


bisa jadi wanita itu tidak terima di tinggalkan Jonathan, maka membalas dan memanfaatkan kalian berdua,


iya ampun,


kenapa Mami diam? jangan bilang mami sudah mengetahuinya.


Apa Mami juga sudah tahu semuanya?”


Mami, makin menunduk dengan rasa bersalah .


“Iya ampun Mi, aku baru tahu ada orang tua yang menjual anaknya demi uang,” kak Eva marah dan ia berdiri dengan gelisah, berdiri berdecak pinggang, tangan satunya memegang kepala.


“Mami tidak tahu kalau Arnita hamil, Mami hanya tahu kalau Arnita punya hubungan dengan Juna,


Mami tidak tahu ia seorang berandalan.


Saat Netta bilang, anak yang di kandung Mikha bukan anak Jonathan tapi anak Juna, itu aku baru tau,”


kata Mami dengan sikap takut-takut.


“Oh Tuhan, kalian sudah di jadikan badut permainan, Itu akibatnya jika sudah punya obsesi yang berlebihan melebihi kemampuan sendiri,


kamu sok jadi model dengan mengorbankan Kehormatan mu.” kak Eva menutup wajahnya.


“Mami terlalu menggilai yang namanya uang, Maka jadilah kalian jadi boneka permainan kedua orang itu.


Aku tidak bisa membayangkan saat ibu dan anak dijadikan boneka permainan, mereka pasti tertawa puas melihat kalian memukuli Netta.


Ini gila, aku tidak tahan lagi melihat kedua orang ini,” kata kak Eva.


Itu sebabnya Mami mengotot tadi ingin mengkuret janinnya, karena Mami tahu, kalau lelaki itu tidak akan menikahi Arnita, maka itu kamu harus siap untuk malu, kalau tidak, Jalan keluarnya, cari lelaki yang mau menikahi Arnita, bayar bila perlu agar Mami tidak malu, itu saran dari aku,”


kata Kak Eva.


Kedua orang tua itu diam, sepertinya apa yang dikatakan Kak Eva masuk akal, hanya perlu mencari lelaki yang bersedia menikahi Arnita agar mereka tidak malu, daripada menghilangkan nyawa janinnya.


“Baiklah saya setuju, itu masuk akal, jadi kabar itu tidak menyeruak kemana-mana,” kata Papi.


Mereka sepakat dengan pendapat kak Eva, dan Arnita tidak bisa mengelak lagi.


Satu minggu kemudian, salah seorang karyawan Mami,l yang bekerja di koperasi bersedia menikahi Arnita,


menyelamatkan keluarga dari rasa malu.


Sudah pasti Mami memberinya banyak uang , Arnita menikah diam-diam, dan di ungsikan ke Magelang ikut suaminya.


Bersambung....