Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Penangkapan Juna


“Tidak lagi kak, tenang saja"


“Benar iya Than.”


“Iya!”


bentak ku, mematikan ponsel, para wanita ini membuatku marah.


Baru saja aku mematikan ponsel Papi meneleponku lagi, karena aku mengamuk di rumah kemarin, membuatku sosok yang di takutkan sekarang, semua orang meneleponku menasehatiku.


Bukankah ini sedikit berlebihan, di perlakukan aku sosok yang menakutkan? Hadeh… aku mendumal kesal.


“Halo Pi.”


“Jonathan kamu dimana Nak?”


suara Papi sedikit bergetar, ia mungkin takut aku mencari Arnita sama seperti kakak Eva.


“Di rumah aku.”


“Jonathan pulang ke rumah Nak, mari kita bicarakan dengan baik-baik, Papi sudah menghubungi tulang sama Bou, semua keluarga, mari nak kita bicara baik-baik.


Jangan membuat keputusan yang salah, yang kamu sesali nantinya.”


“Mereka akan mendapat apa yang meraka perbuat sama Netta Pi, papi sudah lihat rekaman itu’ kan, kejam, jahat, tidak manusia kan? aku akan berubah jadi monster jahat biar Mami puas, aku harus menghabisi mereka semua.”


“Mami menyesal, Mami sakit, Netta baik-baik saja Nak, besok ia akan datang kesini, percayalah, pulanglah Nak tolong dengarkan Papi,


Papi janji akan memperbaiki semuanya.”


Terdengar suara di samping Papi ikut bicara.


“Tanyakan ia di mana, biar kita jemput,” aku mendengar suara Bapa udaku dan bouku, ternyata masalah rumah tanggaku tersebar kemana-mana, sampai bouku adik bapakku yang dari Surabaya ikut datang ke rumah.


“Tan ini Bou, mau ngomong sama kamu,” kata Papi, memberikan ponselnya ke adiknya, yang biasa aku panggi bou atau adik atau kakak perempuan bapak.


“Jonathan, kamu di mana Mang ?


Bapa…!


jangan marah lagi, kami datang sama bapa uda sama Bapa tua, kita semua perduli sama kamu mang, kita perduli dengan rumah tanggamu, besok Netta akan datang kesini sama tulang yang di Bekasi, besok kita akan bicarakan cepat pulang kita menunggu di rumah.”


“Belum Bou, nanti aku akan pulang kalau aku sudah selesaikan urusanku dengan orang-orang ini.”


“Tapi ia adikmu Tan, masa kamu tidak bisa memaafkan adik perempuanmu, katanya kamu sudah memukulinya, apa itu belum cukup, Mang?”


“Kalau Namboru sudah lihat rekamannya , mungkin bou akan tahu.”


“Kami sudah melihatnya Nak, Mamimu sakit, ia menyesal.”


“Bou, aku harus pergi temanku sudah menjemput ku, maaf nanti kita bahas lagi.”


Aku menutup teleponnya, Beny sudah menungguku di luar.


“Lu sudah makan, kan?”


tanya Beny menatapku.


“Kalau bicara jujur, belum, aku belum makan, tapi tidak apa-apa masih kuat.


“Gila lu, sudah sakit tidak makan juga, yang ada nanti malah mengurus lu yang sakit bukan menangkap penjahatnya, kalau misalkan lu pingsan saat kita menangkap mereka, kan jadi repot.”


“Ok, kita makan dulu hanya sepuluh menit,”


Beny membawaku ke rumah makan. Benar juga kata Beni kalau aku pingsan terus berakhir di rumah sakit lagi’kan lucu jadinya.


“Makan, santai santai Bro, kita akan


melakukan pengintaian dulu malam ini, agak larut baru kita bergerak, jadi santai saja.”


Malam semakin larut, Mobil Beny menyusuri dinginnya udara malam menuju kota hujan Bogor.


Juna punya Villa baru di puncak Bogor, Villa itu milik dia dan Mikha yang baru di beli, aku tahu Juna pasti bersembunyi di sana.


Sudah larut malam saat kami tiba di tujuan , udara malam menusuk sampai ke tulang-tulang, aku melipat kedua tangan di dada agar tubuhku lebih hangat, jaket tebal yang aku pakai sepertinya tidak mampu menahan terpaan angin malam ini.


Ada tiga mobil Polisi yang bekerja malam ini yang mengawasi Juna.


Tepat jam 24:00 malam dua orang lelaki keluar dari Villa membawa tas, dua orang lagi keluar salah satu Juna.


Habislah kamu kawan.


“Kamu tetap disini bro jangan pernah keluar, bahaya, takutnya punya jaringan di luar malah mengincar lu nanti.”


“Siap Bro.”


Saat kedua mobil itu ingin keluar, tidak ingin kehilangan buruan anak buah Beny bergerak.


“Jangan bergerak!”


Empat orang Polisi menyergap satu mobil, sayang mereka juga punya benda itu dengan beraninya melawan polisi, malah menabrak seorang polisi yang berdiri di depan.


Beny menyuruhku menunggu di mobil, tidak mungkin hanya jadi penonton, dengan cepat aku menghidupkan mesin mobil polisi dan menghalangi jalan agar mobil itu tidak bisa keluar.


Gila tembakan keras diarahkan ke mobil ku, untungnya aku merunduk kalau tidak aku akan tinggal nama, walau beberapa pecahan kaca mobil melukai wajahku, tapi tidak mengapa, dari pada peluruh panas itu bersarang di dadaku, kena pecahan tidak ada apa-apanya.


Terpaksa polisi bertindak tegas, saat mobil itu berhenti karena aku halangi, Beny dengan cepat menembus sang supir tembakan mengenai dada salah seorang yang bertugas menyetir, mobil berhenti, melihat temanya terkapar bukanya takut malah bringas.


Seorang yang berambut panjang dengan beraninya keluar dari mobil menantang polisi, mengarahkan pistol ditangannya, ia mengarahkan pistol itu kearah polisi.


Dor....!


Beny dengan cepat mengarahkan senjata kearah kepalanya, ia terkapar dalam hitungan menit nyawanya menghilang.


Punya keberanian dan nyali seperti itu, sepertinya para berandalan ini habis berpesta barang setan itu, terlihat dari tidak adanya rasa takut dari mereka semua.


Melihat kedua temanya terkapar tak bernyawa, Juna mengangkat tangannya.


Keluar dari mobi mereka Bandar dan pengedar yang sudah lama di incar polisi.


“Buka bajumu, sekarang angkat tanganmu di atas kepala dan tiarap di tanah!”


Perintah Beny dengan tegas, Juna membukanya dan sepertinya lelaki ini masih takut mati juga, mungkin ia belum sepenuhnya mabuk seperti kedua temannya, karena ia menurut apa yang perintahkan polisi padanya.


Melihat temannya meninggal Juna menurut , nyalinya langsung ciut, ia disuruh buka ia menurut.


Kesempatan itu dimanfaatkan polisi, dari belakang ia langsung disergap, dengan kasar polisi menekan kepalanya ketanah, walau ia sudah tidak melawan lagi, seorang poli menekan kepalanya degan lutut, terlihat Juna susah bernapas.


“Ini kalau berani melawan Polisi,”


kata Beny menembak kaki keduanya dengan jarak dekat.


Padahal mereka berdua sudah menyerah Beny menghadiahi tembakan di kaki, permainan Polisi, nanti saat konferensi pers pasti bilangnya mereka berusaha melawan polisi, padahal sudah jelas-jelas sudah menyerah dan sudah di lumpuhkan, bahkan tangan sudah di borgol, tapi tetap saja satu tembakan dihadiahi satu di kaki.


Dasar permainan polisi kataku tertawa kecil.


Aku menurut kata Beny menyuruhku agar tidak ikut keluar, hanya melihat dari Mobil aku merekam dari mobil, melihat Juna di hadiahi bogem mentah beberapa kali, mereka berdua akan mendapat hari yang buruk, karena seorang polisi yang ditabrak sepertinya terluka parah.


Pelipis Juna terluka karena salah seorang polisi memukul kepalanya dengan gagang pistol hingga terluka, bukan hanya itu matanya juga menjadi cipit karena bengkak, di bogem juga.


Kamu pantas mendapatkannya bodoh…! Itu dari Netta karena kamu ikut andil dalam pemukulan Netta, aku merasa puas melihatnya tertangkap.


Tinggal Mikha yang belum mendapat hukuman, mereka semua akan mendapatkannya.


Bersambung....