Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Dapat Pasu-pasu dari Keluarga Aldo


Setelah beberapa hari di kampung, Netta memintaku menemaninya untuk datang lagi ke makam Aldo, padahal sebelum pesta ia sudah datang ke sana. Tetapi setelah impian mereka berhasil ia memintaku menemaninya lagi.


Aku tidak menolaknya dan  tidak boleh cemburu lagi sama orang yang sudah meninggal, kami datang ke makam Aldo, kuburannya dekat, akan melewati kuburan  Aldo sebelum ke rumah Netta, kami sengaja datang dengan diam-diam kalau  adik -adik Netta samai tahu, aku yakin  mereka akan minta ikut dan kuburan Aldo akan seperti pasar malam.


Sebelum ke makam, Netta mampir ke rumah orang tua Aldo, karena kemarin-kemarin rumah Aldo kosong,  mamanya lagi ke rumah anaknya yang di Medan, saat kami datang mama Aldo atau inang uda itu sudah ada di rumah, melihat Netta datang ia menangis kencang memanggil nama Aldo.


“Aduh … sudah datang si Netta Mang, sudah  jadi dokter dia, harusnya kalian sama-sama dokter,” ujarnya lagi.


“Sudah Ma, nanti naik lagi tensi mama,” ujar seorang laki-laki yang wajahnya mirip Aldo, aku menduga dia abang  Aldo.


“Sudahlah Namboru,  aku ingin  ke kuburannya dulu, di sinilah namboru ya”


“Gak, ikut aku, aku juga mau  bilang sesuatu padanya”


“Kan, kemarin uda Ma, masa tiap hari,” ujar abang itu dengan suara lembut


“I do … ikkon tiap hari do au mamereng anakki. Tuhan alap mau asa boi rap dohot anakkiii dohot bapakna  … ah tahe andingan pe au naing alapmu Tuhan”


“Ya … harus tiap hari aku  melihat anakku itu. Tuhan cepatlah aku panggil biar bisa aku tinggal bersama dengan anakku dan suamiku … ah, kapan aku aku kau panggil Tuhan,” ujarnya lagi menangis.


“Apa inang selalu datang ke kuburannya Bang?” tanyaku.


“Begitulah anggia, sejak Aldo meninggal mama terkadang seperti orang yang linglung,  dia selalu datang tiap hari ke kuburan ini, tapi lupa untuk pulang ke rumah”


“Apa penyakit pikun?”


“Kata ito dokter yang di Jakarta dia seperti depresi”


“Ah, dia harus ada orang menjaga tiap hari Bang”


“Akulah Anggia yang pulang, tadinya aku dan istri tinggal di Batam, buka  usaha di sana, melihat keadaan mama seperti itu, sebagai anak laki-laki aku yang pulang merawat”


‘Wah, berbakti sekali abang ini’


Keadaan mama Aldo, setelah kematiannya  mengalami sakit yang menurutku memprihatinkan, ia seperti mengalami depresi, paska kehilangan anaknya.


Kami berdua masih berjalan di belakang, sementara Netta menuntun inang uda itu menuju makam  Aldo, yang ada di belakang rumah. Tiba dikuburan Aldo,  Mama Aldo menangis lagi, ikut merasakan perasaan sakit yang di rasakan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang rela kehilangan orang yang di cintai apalagi seorang anak.


Netta juga kembali menangis sembari curhat.


“Hai Do, aku sudah memujudkan impianmu, aku sudah mengadakan pengobatan gratis di kampung kita ini, dinas kesehatan akan mengadakan penyuluhan ke pelosok juga, dan akan membangun  pusat pengobatan gratis nanti, jalan di kampung kita juga akan diperbaiki, aku sudah melakukan semua impian kita … beristirahatlah dengan tenang ya, doakan Namboru dari surga, agar dia kuat,” ujar Netta.


Mendengar curhatan Netta abang dan kakak ipar Netta ikut  menangis, mamanya semakin menangis dan memeluk Netta.


Kami  hanya berdiri di belakang  mereka berdua.


“Pah … jangan menangis lagi inang itu nanti pusing lagi kepalanya.” Kakak ipar almarhum  Nando memperingatkan.


“Biarkan saja, karena ada si Netta, biarkan dipuaskan semua yang di dalam hati mereka”


Setelah puas curhat dan menabur bunga, Netta merogoh kantong celananya mengeluarkan bibit bunga, menaburkan di makam sahabatnya.


Setelah pulang dari kuburan inang uda itu mengajak kami lagi ke rumahnya membawa ke kamar almarhum Nando, saat tiba di kamarnya di semua dinding kamar hampir si setiap pojok ada foto mereka berempat Nett, Aldo, Garini, Lyra istrinya Edo, Netta mengajakku ikut masuk ke kamar melihat foto-foto mereka saat masih kecil, Netta tertawa melihat foto kebersamaan mereka tetapi air matanya menetes.


Aku tidak ingin melihat kesedihan mereka berdua aku keluar dan duduk di depan rumah.


“Netta sudah seperti keluarga kami anggia,” ujar Abang Aldo.


“Aku tau Bang, Aldo sudah pernah menceritakannya padaku.


Saat lagi mengobrol  di depan istrinya sibuk di dapur, setelah beberapa jam, duduk.


“Ikkon jolo mangan dison do hita da anggi! adong naeng si baen ni oma tu hamu”


(Kita harus makan ni si Dek, ada yang ingin di kasih mama sama kalian”


“A-a gak usah Bang”


“Tidak, harus begitu adatnya, tanyalah si Netta pasti dia mengerti”


Netta keluar dari kamar, “Ta, sinilah dulu Dek”


“Apa Bang?”


“Bilang sama suamimu kalau datang bertamu ke rumah orang harus makan kan?”


“Anak kota harus banyak diajari Bang,” ujar Netta, ia pergi ke dapur dan membantu memasak.


Tidak ingin di anggap tidak  tahu adat aku menurut  saja,  aku semakin yakin kalau Netta memang sangat dekat dengan keluarga almarhum, Netta memperlakukan rumah almarhum persis seperti rumahnya sendiri, ada barang yang berserakan di sofa ia bereskan, saat  melihat  teras rumah kotor ia sapu.


‘Pantas saja kepergian sahabatmu sempat membuatmu terpukul hampir berminggu-minggu, ternyata kamu bukan hanya sekedar sahabat, kamu sudah seperti bagian keluarga ini’ ucapku dalam hati.


Netta juga memeriksa obat-obat yang akan diminum mama Aldo, memijit kaki mama Aldo, saat  makan kami disuruh duduk ditikar diberi makan ikan mas dan di ulosi dan di tabur beras di kepala kami.


“Aku mendoakan kalian berdua di beri momongan ya Inang ya Amang, buang semua kutuk dan kesialan dari tubuh kalian, berlipat berkat dan rezeki dan kesehatan”


Aku sampai terkejut kalau kami berdua di ulossi dan di beri makan ikan mas, aku begitu terharu, sudah berapa kali kami dikasi makan ikan mas dari semua tulang, mamak, tua, namboruku aku tidak pernah menangis ataupun terharu. Tetapi entah kenapa, saat inang uda itu yang memberi kami ulos aku sampai meneteskan air mata karena terharu.


‘Apa ini …? laki-laki yang dulu sangat aku benci ternyata keluarganya mendoakan kami, dan memberi kami pasu-pasu (berkat). Maafkan sikap cemburu itu dulu appara’ bisikku dalam hati, aku merasa bulu kudukku merinding.


“Molo tarsongot ho amang, sai anggiatma tutu songoni  songgot ni pasu-pasu i ro tu hamu”


(Kalau kamu terkejut Nak, mudah- mudahan berkat juga datang dengan tiba-tiba sama kalian)


Aku memang sangat terkejut, maksudnya tidak menyangka, tadinya,  aku pikir hanya jamuan makan biasa, layaknya datang tamu   ke rumah kita, aku tidak berpikir kalau keluarga Aldo memberikan satu ekor ikan berdiri diatas nasi yang panas, itu gambarkan sebagai memberi pasu-pasu atau berkat.


 Setelah pulang dari rumah Aldo, aku merasa dapat  berkat dan  nasihat-nasihat bijak dari mama Aldo dan abang Aldo juga


Bersambung....