
Aku masih menemaninya sebentar ia muntah di samping rumah, di dekat kolam ikan papi. Aku menepuk pundaknya mendadak seperti abang yang baik dan perhatian.
“Aku tidak ingin kehilangan kendali, aku tidak ingin membenci mama. Aku ingin dari semua ini, tetapi aku kasihan sama bapak”
Aku diam, aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku tidak pintar
“I can’t seem to survive”
“Kamu pasti bisa”
“I do not know,” ujarnya lirih.
“Ayolah, jangan hancurkan semuanya, jangan lemah kita sudah sepakat kan.” Aku membujuknya.
“Apa kamu kecewa pada Tivani setelah kamu tahu …?”
“ Ya. Dia juga, tetapi ini lebih besar ke mama. Dari tadi, aku sudah mencoba bertahan, tetapi sikap mama tadi membuatku semakin gila. Aku merasa seperti boneka mainan mama dari dulu, ingin berontak takut dosa sama orang tua dan kasihan sama bapak”
‘Kalau sudah seperti ini apa yang harus aku katakan? Aku tidak pintar menenangkan hati orang lain, aku hanya belajar menenangkan hati Netta, tetapi tidak untuk orang lain
“Maybe … she’s, just not bleeding?”tanyaku ragu, karena menurutku banyak yang seperti itu.
“Aku dokter Bang, aku tahu itu”
“Apa dia mengaku padamu?
Ia belum sempat menjawab, Tante Ros memanggil kami masuk
Kami masuk lagi, melihat Candra muntah-muntah, akhirnya tante mengakhiri ceramahnya.
Semua acara akhirnya selesai, karena Netta malam itu akan kerja malam, kami berniat mau pamit pulang. Tapi mamak tua yang makan sirih itu masih merepet karena sirih miliknya habis.
“Di Cibubur susah cari sirih, lebih baiknya kalian minta uang padaku dari pada minta daun sirih ku,” ujarnya.
Tulang kami yang di sana semakin bercanda pada itonya, akhirnya ia diam.
“Bou … di samping rumah kami banyak daun sirih, mau kita ambil ke rumah kami?” Tanya Netta.
“Toho do?”
(Benar ada?)
“Betul bou, ayolah! kami juga mau pulang,” ujar Netta.
“Sude disuan si Netta di sapping di jabunai segala jenis bunga, dohot gadong, dohot tanaman obat, alap nei”
(Semua ditanam Netta di pekarangannya dari semua jenis bunga, ubi, sirih. Ambillah ke sana) ujar bapa uda Bandung.
“Ayolah, ayo kita ambil ke rumahmu,” ujar mamak tua ia berdiri.
Mendengar kami pulang tiba-tiba Tivani minta Netta tetap tinggal.
“Jangan pulang,nanti tidak ada temanku di sini,” ujar Tivani dengan raut wajah memohon.
Tiba-tiba sifat garang itu melempem, setelah melihat keluarga kami semua kalau bicara serasa pakai speaker, semua keluarga bingung.
“Netta juga jaga hari ini,” jawabku.
“Libur saja satu kali saja Bang,” ujarnya lagi.
“Kan, kita mau pilang ke rumah kita ke Bogor Vani,” ujar tante membujuk.
“Bisa kamu di sini Nak, tidak apa-apa. Tetapi di rumah kandungmu mama candra di bogor, ini rumah kakak mertuamu,” ujar mamak tua sambil menguyah siri lagi.
“Tadi kata Netta ak-”
“Eee … tidak sopan! Dia kakakmu panggil dia kakak begitulah adat Batak!” Bentak mamak tua.
Inilah yang aku takutkan dari mama- mama di keluarga kami, mereka terlalu memaksakan, apa salahnya di kasih tahu dengan cara yang halus. Tidak usah ngomong teriak-teriak dan mengatakan Batak dalle atau tidak punya sopan santun, harusnya seperti Tivani yang baru datang ke dunia baru yang begitu asing baginya.
Tivani memang boru Panjaitan, tetapi marga itu hanya sebatas pajangan untuknya, ia tidak mengerti seperti apa adat Batak. Mamanya keturunan, bapaknya juga keturunan, jadi marga itu dari kakeknya yang menikah dengan boru Batak. Jadi wajar dia tidak tahu.
“Mamak tua jangan begitu itulah kita ajarin dia,” ujar ku membela dia.
“Tidak tahu ini Kakak ini! Gak usah ajar-ajarin biar aku saja.” Tante menggila.
“OH. Maup no napasingot do au asa diboto parumaemmi adat!”
(Oh … mampus kau, aku hanya memberi nasihat agar tahu menantu adat) Balas mamak tua.
Orang gila bertemu orang gila akhirnya rusuh, dari anak oppung saut tante gabah yang tidak berisi yang selalu ada keributan setiap kali kami berkumpul
Dari oppung kami kakak beradik mamak tua inilah yang seperti tante, mereka delapan bersaudara mamak tua inilah uang selalu bersebrangan dari mereka berdelapan, tulang yang dari Bandung sudah tahu kalau kakak tertua mereka itu seperti itu, jadi mereka lebih baik menonton saja.
Nenek lampir ketemu nenek lampir.
“Kau gila, kayak benar saja menantu mu, kamu pun selalu bertengkar sama menantu mu,” balas tante Candra.
“Boha, boha parumaenku? Hu palao sian jabuku? Ido molo so denggan pangalahona palaon do”
(Kenapa, kenapa menantuku? Aku usir dari rumah? Ya, itu benar kalau tidak benar kita usir) ujar mamak tua ini bangga pula dia mengusir menantunya.
“Ya, gak malu kamu ribut-ribut tiap hari sama menantu,” balas tante Candra.
“Oh, hubereng majo , songgon dia ho marparumaen, molo songonon model ni parumaenmu potong dilakkon molo so percaya ho. Hu dokkon tu do ikkok marbada hamuna”
(Oh! Kulihat dulu nanti, bagaimana kamu sama menantu mu, kalau kayak dia model menantu mu, potong lidahku kalau kamu tidak percaya. Ku katakanlah samamu kalian pasti bertengkar) Balas mamak tua itu,
Pusing kepalaku mendengar suara mereka bertengkar, Netta sudah bolak balik melirik jam di pergelangan tangannya ia akan berangkat kerja, kami tinggalkan nanti di bilang tidak sopan, dibilang sombong, di tungguin malah menonton mereka yang bertengkar saling balas-balasan.
“Aku mau kerja Bou,” ujar Netta gelisah.
“Bagaimananya otak kakak ini, dia yang punya hajatan, harusnya dia yang mengalah, kok jadi dia yang menantang tamu berantam,” ujar Tante Ros.
Melihat menantunya gelisah, mami tidak tahan lagi, ia mendiri membawa kotak tissu yang terbuat dari anyaman.
Paak!
Ia memukul kepala tante Candra.
“Diam gak kamu! Ini rumahku. Berhenti membuat keributan di rumah ini!” Suara mami tinggi.
Tiba-tiba langsung hening.
“Kamu tidak kasihan sama Candra sama menantumu! Ada ito di sini gak kamu hargai.” Tante sama mamak tua langsung diam.
“Suhu bertindak semua langsung diam,” bisik tante Ros.
Tivani langsung , ia menatap heran sama tante Candra, ia mungkin menyadari kalau ibu mertuanya tidaklah baik, apa yang dia lihat selama ini hanyalah pura-pura agar Tivani mau jadi menantunya.
Aku tahu Tivani pasti takut dan bingung, ia hidup di rumahnya di perlakukan bah seorang putri, tetapi saat ini ia seolah-olah terdampar di ke dimensi lain di mana di dalamnya di huni orang-orang yang galak dan bringas. Aku berharap Candra bisa menerima Tivani dan mengarah