
Netta membawa kami ke rumah sakit cabang di Jakarta, karena hari itu sudah ada janji sama istri Dr. Tagam, beliau yang akan mendampingi Candra dan Tivani, tadinya aku tidak ingin ikut tetapi Candra sangat gugup ia memintaku menemaninya.
“Kenapa harus gugup Pak Dokter?”
“Aku takut saat diperiksa, bagaimana kalau ternyata milikku juga rusak” Ia menatapku dengan gelisah.
“Sudahkah pernah di periksa kan?” Tanyaku bingung, melihat wajahnya yang sangat gugup.
“Sudah, tapi masih suka takut Bang, takut ada kesalahan”
“Sudah, tenangkan pikiranmu Can, kalau kamu santai, Tivani juga akan santai”
Setelah melakukan pemeriksaan seperti yang kami lakukan, kini , pemeriksaan intinya Candra akan masuk ke kamar tersebut, aku masih ingat bangat bagaimana dulu aku begitu tersiksa di dalam sana.
“Bagaimana kamu dulu melakukannya biar cepat Bang?” bisik Candra memegang botol penampungan itu di tangannya, sebenarnya aku ingin tertawa melihat wajah nya yang memerah, ia terlihat sangat malu dan menyembunyikan botol kecil itu di telapak tangannya.
“Masuk saja nanti di dalam ada petunjuknya, kalau yang di dalam tidak bisa membantumu minta bantuan istrimu saja”
Wajahnya semakin memerah, ia semakin malu saat aku mengatakan itu, aku mengerti apa yang dirasakan Candra, sama seperti yang aku rasakan saat itu antara malu, takut, gelisah perasaan yang campur aduk.
“Apa abang saat itu abang lama mengeluarkannya?”
“Tidak, hanya sepulu menit sudah tuntas,” ujarku terpaksa berbohong padahal waktu itu aku lama menuntaskannya .
“Sepertinya aku tidak bisa”
“Ah, kamu lemah, gitu saja sudah menyerah, sana masuk biar cepat pakai kaset saja di jamin ampuh, kamu duduk dalam keadaan rileks jangan tegang, dengan begitu kamu bisa menjinakkannya”
Aku duduk di luar ruangan dr. Elena, sementara Tivani dan Netta masih di dalam ruangan konsultasi.
Hampir dua puluh menit Candra tidak keluar.
‘Kasihan juga ni anak dia pasti panik di dalam, jangankan untuk menampung, membuatnya berdiri terkadang sangat susah karena kita merasa tertekan di dalam ruangan sempit tersebut'
Dulu saat aku yang kesana banyak pikiran - pikiran yang imenganggu konsentrasi kita di dalam mensroom tersebut,
bahkan saat masuk, aku malah membayangkan banyak lendir milik orang lain bertebaran di mana-mana, walau tempatnya bersih, tetapi pikiran-pikiran itu menganggu pikiranku, keluar dari sana aku sampai berapa kali menggosok telapak tanganku karena merasa di tanganku masih menempel milik orang lain.
“Lama bangat dia keluar … aku berharap dia tidak ketiduran di sana,’ gumamku pelan.
Tidak ingin ada hal yang buruk aku, mengirim pesan pada Netta.
[Dek, Candra tidak keluar-keluar dari ruangan men’sroom itu, bagaimana kalau kamu suruh Tivani untuk membantunya ke sana]
[Tivani masih ruangan pemeriksaan, dokter ingin melihat kondisi rahim Tivani] balas Netta.
[Ok, baiklah aku menunggu di luar ya]
[Baik Bang]
Karena Tivani masih ruangan pemeriksaan rahim, terpaksa aku mengetuk ruangan tersebut.
“Can, ini aku kamu baik-baik saja gak”
Tidak ada sahutan aku sudah semat khawatir aku takut ia pingsan di dalam, tetapi tidak lama kemudian ia keluar juga dengan kemeja bermandikan keringat.
“Aku pikir kamu pingsan di dalam, soalnya suster sudah berapa kali mengecek, mungkin mau di pakai orang tempatnya”
“Aku, sempat lelah bangat susah untuk mengeluarkannya dengan cara itu.” Wajahnya benar-benar sangat capek.
Aku tidak banyak bertanya padanya lagi, setelah menyerahkannya pada suster untuk di uji, Candra duduk disampingnya, entah apa yang ia pikirkan, aku tidak tahu, ia kembali diam.
Aku tidak ingin mengganggu pikirannya, jadi aku sibuk dengan ponselku.
“Bang, apa kamu yakin ini berhasil?” tanya Candra.
“Kita bisa berencana semuanya Candra, tetapi Tuhanlah yang punya kehendak, kalau belum di kasih, apa pun yang kamu rencanakan akan gagal”
“Baiklah, aku berharap ini berhasil”
Tidak lama kemudian Netta keluar ia meminta Candra masuk.
“Abang Can, masuk dokter ingin bicara sama kalian berdua, semuanya sudah selesai, aku tinggal ya Bang”
“OK, Makasi Ta”
“Bagaimana Dek?”
“Tadi dokter memeriksa kandungannya, dia bisa hamil tetapi, resikonya berat ”
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Jadi rahim Tivani sangat tipis dan sangat lemah”
“Artinya tidak bisa hamil donk”
“Bisa Bang dengan resiko dia tidak bisa bangun dari tempat tidur”
“Jadi akan dia akan tidur selama hamil?” tanyaku kaget.
“Ya, dia akan melakukan semuanya dari tempat tidur, segala hal. Mulai dari, buang air, mandi, makan semuanya di lakukan di sana”
“Waduh … selama sembilan bulan?”
“Ya, karena dokter bilang kandungannya sangat lemah, apa yang di ceritakan Tivani saat itu, dia terbuka sama dokter tadi, jadi mantan pacarnya itu, bukan hanya sekali memberinya minum obat penggugur rahim, menurut dokter itu sudah berkali-kali, karena terus-terusan di kuras paksa, akhirnya lapisan-lapisan rahimnya menipis”
“Lalu bagaimana dengan Tivani apa ia mau?”
“Di bilang dia ingin bicara dengan suaminya dulu, makannya Candra, dipanggil, dokter ingin menjelaskan semuanya resiko dan rintangan terberat mereka”
“Apa kamu Yakin Tivani mau?”
“Dia sangat antusias ingi punya anak Bang, di bilang padaku, kalau dia sangat mencintai suaminya dan akan melakukan apapun katanya asalkan bisa memberi anak untuk suaminya.
Saat kami lagi makan siang mereka berdua datang, dari kejauhan, aku melihat Candra menggenggam telapak tangan Tivani dan mengecupnya beberapa kali.
“Akhirnya dia jatuh cinta sama istrinya.” Netta ikut mengikuti pandanganku.
“Tapi Tivani yang cinta mati padanya”
Saat tiba, Candra menarik kursi untuk istrinya, perhatian yang sangat manis, Candra menunjukkan dukungannya dan rasa terimakasihnya pada Tivani karena bersedia melakukan apapun demi punya anak.
“Apa kalian sudah memikirkannya?” Tanya Netta.
“Sudah”
“Lalu, apa keputusannya?”
“Kami akan melakukannya,” jawab Tivani dengan yakin.
“Itu artinya, sudah sia selama hamil akan melakukan semuanya di tempat tidur?”
“Ya, aku bersedia melakukan apapun yang penting kami memiliki anak,” ujar TIvani.
“Wah, salut sama Tivani,” ujar Netta bangga.
Jadi Netta akan melakukan program bayi tabung dengan resiko ... ia akan tidur di tempat tidur, setelah semuanya selesai dan kami juga selesai makan, kami pulang sementara Netta akan kerja. Beberapa Minggu ke depan Candra dan Tivani akan melakukan kontrol rutin.
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos (Tamat)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)