
Malam itu saat Netta menjagaku, kami hanya diam bersikap seolah orang lain, padahal kami pasangan suami istri yang sudah mengikat janji suci satu setengah tahun yang lalu, dengan masa pernikahan kami segitu lamanya, harusnya kami sudah memiliki anak. Tapi saat ini, jangankan bikin anak, pegang tangan Netta juga belum pernah.
Hampir seminggu di rawat rumah sakit, ia hanya dua kali menjagaku, selainnya Mami yang banyak merawat ku.
Hari ini, aku akan pulang ke rumah. Mami terlihat lebih banyak diam tidak seperti biasanya, kalau biasanya, kalau ngomong Mami tidak ada remnya, aku berpikir telah terjadi sesuatu yang besar di rumah,
“Ada apa, Mi?”
“Aku pusing sama si Netta, Tan kamu sakit ia malah sibuk terus dengan kuliahnya, aku menyesal memilih ia jadi istrimu,” kata Mami.
“Jangan seperti itu Mi, ia bilang lagi ujian makanya tidak bisa libur,” aku membela Netta di depan Mami.
“Kamu Tan, masih bela-belain dia, orang sok kaya begitu,” kata Mami sepertinya sangat membenci Netta.
Hari ini, hari Sabtu ada arisan di rumah, dari pihak marga Mami, biasanya kalau arisan seperti itu yang datang pasti banyak
Akhirnya mobil kami berhenti di depan pintu gerbang, rumah berlantai dua itu, rumah bercat kuning rumah besar milik keluargaku, suasana masih siang, arisan di mulai sore sampai malam.
“Abang sudah pulang…!” Arnita datang berlari, mataku masih sibuk mencari keberadaan Netta, dua hari tidak melihatnya, aku merindukan tatapan mata indahnya, walau Mami marah padanya. Tapi aku tidak pernah marah.
Saat semua orang menyambut kami, Netta menyibukkan diri di dapur menyiapkan menu untuk arisan.
Kamu kenapa Ta, kenapa kamu membiarkan dirimu di marahin Mami. Kamu pura-pura setor muka aja aturan.
Aku naik ke kamarku merentangkan otot tangan kaki. Baru tidur-tiduran di ranjang sekitar sepuluh menit.
Kreaaak
Suara pintu kamar terbuka, Netta akhirnya datang juga.
“Selamat datang Bang.”
“Iya, makasih kirain kamu sudah lupa,” kataku acuh menatap layar ponselku.
“Tidaklah, aku ingin menyambut abang tadi, tapi aku takut ada bou.
Abang sudah sembuh?”
“Kalau tidak sembuh, tidak mungkin pulang Ta, kamu bagaimana sih, basa –basinya garing,” kataku bernada jengkel.
“Maaf,” kata Netta terlihat merasa bersalah, kami semakin hari bukannya tambah akrap malah tambah canggung saja.
Menjengkelkan.
Ia terlihat gelisah, matanya sesekali melirik jam dinding.
“Bang, aku meminta izin keluar, iya?”
“Tidak usah izin samaku juga tidak apa-apa Netta, karena kita tidak ada hubungan apa-apa, kan?”
Ia duduk meremas punggung tangannya, aku berpikir ia akan melunak dan meminta maaf, berharap masalahnya akan selesai.
Ternyata.
“Baiklah, pada akhirnya bang Jonathan juga akan bilang seperti itu, aku bisa apa, bahkan abang juga tidak menyukaiku di rumah ini,”
Ia masuk ke kamar mandi dan sudah berganti baju.
“Apa kamu akan pergi walau aku bilang tidak?,” suaraku bernada tegas.
“Kalau abang bilang tidak aku tidak akan pergi, tapi abang tadi bilang kita tidak ada hubungan apa-apa, jadi saya rasa tidak perlu meminta izin.”
“Ta. Kenapa sih kamu keras kepala, kenapa tidak mengerti apa yang mami, Mau,” kataku.
Matanya melotot, tidak terima saat aku bilang seperti itu.
“Iya,” kataku tegas.
“Terus letak kesalahanku di mana? Aku hanya kuliah, tidak pantas abang bicara seperti itu, saat kamu memelihara wanita lain,” katanya dengan nada marah dan tatapan mata merendahkan, dan aku tidak menyukainya.
Mungkin perdebatan kami malam ini, akan jadi masalah yang meledak.
“Ia sudah bersamaku jauh sebelum kamu datang dalam kehidupan kami Netta…!”
“Jadi, apa itu jadi kesalahanku? harusnya abang bicara jujur pada keluarga, kalau abang itu punya kekasih, jangan jadikan pernikahan jadi satu mainan, soalnya abang itu sudah berjanji di hadapan keluarga, terutama di hadapan Tuhan.”
“Berhenti mengajariku Netta, bukannya kamu bersyukur aku nikahin juga, aku membawamu ke Jakarta, dan kamu bisa kuliah dan keluargamu juga terangkat derajatnya,” kataku keceplosan. Aku menyesali ucapan ku tidak seharusnya aku menyinggung Nantulang dan almarhum Tulangku.
“Apa?”
“Keluargaku yang kamu maksud itu Tulangmu sendiri bang Nathan.”
Aku terdiam, aku melihat air mata Netta akhirnya tumpah.
Tapi tidak diduga pintu terbuka, Mami, masuk ia membuat suasana semakin panas.
Mungkin benar kata orang, semewah apapun rumah orang tuamu, jika sudah berkeluarga akan lebih baik pisah, walau hanya kontrakan sepetak, mungkin jika aku mengontrak satu petak rumah untuk kami dengan Netta, mungkin hubungan kami akan lebih baik, bisa saja masalah kecil bisa kami bicarakan berdua, karena Netta orangnya pengertian, dan aku sendiri sudah mulai jatuh cinta padanya. Bahkan aku sudah berapa kali berusaha memperbaiki, dan ingin meninggalkan Mikha menjalani rumah tangga kami.
Tapi saat ini, aku tahu akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi.
“Kamu bilang apa haaa…haaa!”
Tidak di duga Mami menarik rambut Netta, menjambaknya dengan sangat kasar.
“Mami hentikan, ini urusanku dengan Netta.”
“Mami apa-apaan sih, jangan ikut campur itu urusan keluarga mereka, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikannya,” Kak Eva melerai mencoba melepaskan tangan Mami yang menarik rambut Netta.
Ia memelukku dengan sangat erat, ia tidak melawan Mami sedikitpun, Netta yang di jambak, aku yang merasa ngilu.
Ini semua salahku, harusnya akulah yang menerima semua hinaan dan cacian itu karena akulah yang selingkuh.
Tapi aku terlalu bodoh untuk bertanggung jawab menjadikan gadis tidak berdaya ini jadi tameng ku.
Suasana kamar kami jadi ramai, Mami jadi seperti seorang yang kesetanan, ia berteriak seperti orang kesurupan, ia tidak mau melepaskan rambut Netta , Mami melepaskannya setelah di pegang tiga orang. Di pegangin Nantulang kami juga.
Telah berhasil lepas ia berontak dan maju lagi, ia mendorong Netta yang sedang memelukku, didorong tiba-tiba sama Mami membuat kami kehilangan keseimbangan, kami berdua terjatuh menabrak meja kerjaku, aku merasakan sikut tanganku sangat sakit, karena menabrak meja dan kepala Netta ketiban mesin printer, aku juga melihat figura kaca terjatuh ke wajahnya.
Aku tidak menghiraukannya, karena aku juga kesakitan, sikut Netta juga menekan dadaku membuatku kesakitan.
Mami berhasil di bawa turun, aku masih memegang sikutku yang terluka.
Kak Eva balik lagi ke kamar kami.
“Kalian tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, sikutku hanya lecet.”
Netta masuk ke kamar mandi, merapikan rambutnya yang di buat Mami seperti sarang lebah.
“Kamu tidak apa-apa, Ta?”
“Tidak apa-apa Kak,” sahut Netta dari kamar mandi, aku berpikir kalau ia sedang menangis, makanya menyalakan kran kamar mandi dengan deras.
“Mami kenapa sih seperti orag kesetanan begitu?” wajah kak Eva terlihat sangat marah.
Aku hanya diam, merasa bersalah menyesal telah memulai perdebatan dengan Netta, aku malu apalagi keluarga besar Nainggolan dari pihak Mami, sudah mulai berdatangan.
Barsambung...